Napas lelahnya menguar setelah Jihye selesai mencuci piring dan alat-alat dapur kotor lainnya karena bekas untuk memasak makan malam.
Gail dan Gukie berada di ruang santai—diawasi oleh sang ayah. Balita satu tahun itu duduk di pangkuan Jungkook sembari memegang potongan buah pisang yang sengaja Jihye iris tipis.
Usai mengeringkan tangan, wanita dua anak itu segera berjalan menuju ruang santai untuk mengambil alih anak keduanya sebab Gail belum minum susu sejak sore.
Masih di hari yang sama saat di mana keributan kecil tercipta di ruang kerja milik Jungkook. Mereka tidak saling bertukar suara meskipun kini Jihye duduk di samping Jungkook sembari memberikan ASI-nya pada Gail. Sementara Gukie yang duduk di karpet bulu itu hanya sibuk mengunyah cookies buatan sang ibu dengan manik menatap penuh pada layar televisi.
"Goo, sudah makannya. Tidak boleh makan cookies terlalu banyak," ucap Jihye manakala menyadari bahwa toples di pangkuan anaknya itu isinya hanya tinggal tersisa setengah. "Besok lagi, Sayang. Goo mau giginya hitam-hitam seperti Jeongin?"
Kepala Gukie langsung teringat pada teman sekelasnya yang memiliki gigi hitam karena terlalu berlebihan saat mengonsumsi apa pun makanan manis. Namun, ia tetap melanjutkan makannya pada biskuit lezat tersebut.
"Goo ..." Kini sang ayah ikut bersuara. Semakin bertumbuh besar, Gukie jadi lebih tak acuh pada sang ibu—tak acuh dalam artian bebal di usianya saat ini. Gukie cenderung sulit menuruti ucapan sang ibu sebab ia tahu Jihye tidak akan pernah bisa marah. Sedangkan dengan Jungkook ... hanya mendengar suara gertakan sang ayah saja, Gukie sudah menciut dan takut. "Kalau masih ngeyel lagi saat dibilangi mommy, Daddy kunci pintu kamarnya. Mau?"
Gukie menggeleng was-was sambil menutup toples cookies tersebut. Tangan kecil itu meletakkan toples ke atas meja kaca, kemudian duduk di pangkuan sang ayah dan mengecupi pipi Jungkook—kebiasaan merayu yang tak akan dapat ia lupakan setelah mengetahui dang ayah tengah marah.
"Tidak boleh begitu lagi. Mengerti, tidak?" Gukie mengangguk menyesal. Bibirnya ia buat mengerucut di hadapan ayahnya. "Awas kalau berani dengan mommy," tambah Jungkook.
Jihye hanya melihat bagaimana Gukie saat ini sedang diomeli oleh sang ayah. Kemudian senyum manisnya terukir ketika Gukie beralih memeluk leher sang ibu; menempelkan bibirnya pada pipi Jihye dengan kedua lengan masih setia melingkari leher.
"Maaf ya, Mommy ...," ujar Gukie.
Jihye mengangguk, kemudian menepuk lembut pipi bulat Gukie. "Tidak boleh diulangi lagi, ya? Kalau Mommy bilang berhenti, harus berhenti." Jihye memberikan nasihat sepelan mungkin agar Gukie tidak merasa takut. Gukie lekas mengangguk untuk menanggapi nasihat ibunya. "Boleh makan cookies, tapi tidak boleh banyak-banyak. Tapi kalau minum susu cokelat, boleh yang banyak." Gukie mengangguk lagi.
Tangannya lalu berpindah menuju pipi gembul Gail. Balita tersebut masih sibuk meminum susunya dari payudara sang ibu—tidak merasa terganggu sama sekali kendati sang kakak sedang mengusap pipinya dengan gemas.
"Hei, tidak boleh ditekan seperti itu. Nanti Iyel menangis." Jihye sedikit mendorong tangan Gukie lantaran menekan terlalu keras.
"Goo gemas. Mau Goo gigit pipinya," sahut anak itu sambil terkekeh. Tiga detik kemudian, Gukie kembali duduk di pangkuan sang ayah. Menyandarkan punggung serta kepalanya di dada bidang Jungkook. Pun mulutnya membisu sehingga menarik perhatian Jihye untuk menoleh.
Benar saja. Gukie kedapatan menguap beberapa kali seraya mengucek matanya. "Mengantuk, Goo?" tanya Jihye.
Gukie menoleh dan mengangguk dengan tatapan mengantuknya. "Goo mau tidur," jawabnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
EUPHORIA
FanfictionPunya suami macam Jeon Jungkook saja sudah membuat Park Jihye geleng kepala manakala mengingat pria jangkung itu merengek minta dipeluk. Lalu, apa jadinya jika si Jeon kecil ikut-ikut merengek dan membuatnya pening tujuh keliling? "Mommy ... Goo men...
