DUA PULUH DUA - DADDY JEON DAN IYEL

17.7K 1.7K 253
                                        

Agaknya begadang sudah mulai menjadi kebiasaan Jihye setelah kelahiran Gail. Meskipun begitu, Jihye kini sangat bersyukur sebab ia bisa mengatur waktu tidur Gail dengan baik. Si putra bungsunya itu akan tertidur sebelum pukul tiga pagi—well, masih tetap parah tapi tidak separah biasanya.

Jika biasanya Jihye memilih untuk tidak tidur sampai Gukie sekolah dan Jungkook berangkat ke kantor, setidaknya mulai sekarang ia memiliki waktu dua atau tiga jam untuk terlelap sebelum kembali bangun dan memasakkan sarapan serta mengurus Jungkook dan Gukie. Merepotkan sekali, bukan?

Saat ini pukul sembilan malam. Jungkook yang berada di dalam kamar Gukie kini tengah sibuk mengajari putra pertamanya bahasa Inggris. Sedangkan Jihye saat ini berada di dapur guna membuat bumbu marinasi ayam sebab kemarin Gukie ingin membawa bekal ayam goreng madu.

Gail tertidur di atas sofa ruang santai setelah minum ASI, membuat Jihye bergegas mengerjakan apa saja kegiatan rumah yang belum sempat ia pegang—termasuk mencuci piring dan gelas bekas makan malam.

Di tengah dirinya yang memasukkan ayam mentah ke dalam bumbu basah, kegiatannya mendadak diganggu oleh tangisan Gail. Beruntung karena kamar Gukie tidak jauh dari ruang santai, jadi Jungkook bisa berlari dan menghampiri buntalan kecilnya yang menangis.

"Dad, titip Iyel sebentar, ya." Jihye yang melihat bagaimana Jungkook kesulitan menggendong Gail, kini mencuci tangannya dan melangkah menuju ruang santai untuk membantu. "Sini aku bantu," ujarnya selagi melangkah mendekati sang pria.

Jungkook menurut saja. Pria itu hanya diam sementara Jihye menyuruhnya melipat lengan seperti posisi tangan saat menggendong bayi pada umumnya. "Jangan kaku begitu tangannya! Nanti Iyel tidak nyaman—tuh, kan!" Baru saja Jihye berujar, Gail sudah menggeliat dan kembali menangis. Omong-omong, Gail tetap pada pendiriannya yang harus selalu digendong. "Pakai gendongan mau?"

"Tidak, begini saja," tolak sang suami. Jungkook sudah membayangkan sulitnya memakaikan kain gendongan milik Jihye, apalagi saat memasukkan Gail ke dalamnya. ­Ukh, Jungkook benar-benar tidak mau.

"Jalan-jalan sana," ujar Jihye sambil mendorong kecil bahu kekar sang suami ke arah halaman belakang. "Kalau cuma diam di sini, Iyel bisa nangis lagi. Dia suka digendong sambil diajak jalan-jalan."

"Baik, Tante—aw!" Jihye sontak mencubit perut Jungkook sebelum kembali ke dalam dapur untuk menyelesaikan kegiatannya yang sempat tertunda. "Hyung ... belajar dengan mom dulu, ya. Daddy sedang bersama Baby Iyel!" seru Jungkook saat melewati kamar Gukie.

Berada di halaman belakang dengan satu tangan yang menepuk pantat Gail, Jungkook kini bersenandung kecil menyanyikan lagu penghantar tidur yang sering Jihye nyanyikan ketika menidurkan Gail di balkon kamar mereka.

"Hyung Kecil, kalau sudah besar harus menjadi pria yang tangguh, ya? Harus kuat seperti Gukie Hyung. Tidak boleh gampang menangis dan merepotkan mommy. Oke?" Jungkook tersenyum kecil manakala Gail memandangnya dengan mata bulat yang terus mengerjap. "Anak-anak Daddy harus tumbuh menjadi anak yang hebat. Jangan seperti Daddy yang selalu bergantung pada mommy-mu. Suatu saat Iyel maupun Hyung harus lebih hebat dari Daddy."

Entah kenapa Jungkook tiba-tiba mengatakannya. Namun, ada perasaan di mana ia memang harus mengatakan hal tersebut meskipun Gail tidak mengerti sama sekali apa yang sedang Jungkook katakan. Jungkook ingin anak-anaknya kelak benar-benar menjadi seorang jagoan yang kuat. Bukan hanya Gukie, tapi juga Gail.

"Hyung Kecil ... kalau sudah besar jangan lebih tampan dari Daddy."

"Kau bicara apa, sih!" Jihye mendadak datang dari belakang punggung Jungkook, kemudian memukul pelan punggung sang suami sebelum melihat ke arah Gail yang mengerjapkan matanya lambat lantaran hendak tertidur. "Jelas anak-anak kita akan lebih tampan dari daddy-nya!"

"Nanti mereka bisa jadi playboy kalau setampan aku," jawab Jungkook bergurau.

Jihye memutar bola mata jengah. "Awas, ya, sampai kau mengajari anak-anakmu menjadi pria mata keranjang!"

"Aku tidak!" kilah Jungkook.

"Iya! Memangnya dari siapa Gukie tahu perempuan-perempuan cantik kalau bukan kau? Setiap ke mal ada anak kecil cantik lewat selalu berbisik 'mom, ada noona cantik' ... itu pasti ajaran daddy-nya."

"Ah, dasar tukang fitnah," gerutu Jungkook. Tidak, mereka tidak sungguh-sungguh bertengkar. Hanya saja, teramat datar jika mereka harus terus-menerus membahas soal hal-hal yang terlalu serius. "Jiy, tunggu ..."

"Hm?" Jihye mendongak dan berdiri di samping Jungkook.

"Kurasa Iyel pipis," katanya sedikit menunjukkan air mukanya yang masam.

Jihye mengernyit. "Iyel pakai popok, kok," jawabnya yakin. "Eh, mungkin popoknya sudah penuh. Aku belum menggantinya semenjak pulang dari mal."

"Aish ..." Jungkook buru-buru menyerahkan Gail ke gendongan Jihye, membuat wanita Park itu terkekeh gemas melihat ekspresi panik Jungkook saat ini. Jungkook berlari kecil menuju kamarnya untuk mengganti baju, sedangkan Jihye kini menatap jenaka sang anak yang terlelap sambil mengacungkan ibu jari.

"Pintarnya anak Mommy ..."

....

Pukul satu dini hari. Jungkook masih menonton berita pada televisi di kamar sambil sesekali menilik ke ponsel yang berada di atas pangkuannya. Sementara itu, Jihye tidur membelakanginya sebab Gail kini tengah minum ASI.

"Jiy, aku lapar."

Jihye menguap, nyaris larut dalam mimpi tapi lekas menyingkap mata saat Jungkook menepuk pelan pinggangnya. "Delivery saja—atau mau menunggu Gail melepaskan susunya?" tanya Jihye tanpa menoleh ke arah sang suami yang kini mematikan televisi dan menyamakan posisi Jihye sambil memeluk wanita itu dari belakang. Tangan Jungkook usil memegangi tangan Gail yang berada di atas pipi sang ibu. Jihye yang menyadari tidur Gail terusik, kemudian menepis kecil tangan Jungkook. "Oppa! Jangan ganggu!"

Jungkook menaikkan posisi tubuhnya agar dapat mengintip Gail yang asyik menyusu. Lalu Jungkook kembali mengganggu Gail dengan menekan payudara istrinya hingga terlepas dari mulut kecil Gail. "Daddy!" Jihye memekik jengkel. "Sebentar lagi. Jangan ganggu Iyel dulu!"

Memang, sih, Gail tidak menangis. Akan tetapi, buntalan kecil Jeon itu terbangun. Tangan dan kakinya bergerak gusar sebab tidak ada yang mengajaknya berbicara. "Tanggung jawab! Tidurkan Iyel sekarang juga!" perintah Jihye jengkel. Wanita itu lekas membetulkan bra yang sempat ia lepas sebelah, lalu bergegas menuruni ranjang. "Mumpung Gail tidak rewel di atas ranjang. Jangan digoda lagi."

Selepas Jihye keluar dari kamar untuk memasakkan makanan untuk Jungkook yang kelaparan, Jungkook sontak merubah posisi mengungkung Gail dan mulai mengajaknya berbicara meskipun si kecil tidak tahu apa yang sedang Jungkook katakan. Namun, Jungkook dapat bernapas lega lantaran Gail tetap saja tertawa keras saat Jungkook berbicara sambil menggelitik perutnya.

"Hyung Kecil, ingat dengan kata-kata Daddy, kan? Tidak boleh lebih tampan dari Daddy, mengerti?" Tangannya menggerakkan kepala Gail agar seolah mengangguk. "Bagus! Harus menjadi Hyung yang berbakti—hei ... kenapa tertawa? Apa yang lucu?"

Jungkook menyugar surainya, lantas mengecup pipi bulat Gail dengan gemas. Sayangnya, hal itu malah membuat Gail menangis kencang sampai Jihye yang berada di dalam dapur dapat mendengarnya. "Daddy, jangan nakal!" []

***

Gais, mau tanya dong. Aku tuh pengen tau alasan kalian suka banget sama Euphoria. Kan biasanya ga banyak di wattpad yang suka cerita family kayak gini, tapi aku liat kalian suka sekali sama Euphoria (padahal dulu ekspektasiku ini gabakal ada yang minat).

Jadi, apa alasan kalian suka sama cerita ini? Apa pun deh alasannya.

-26 Desember 2019

ymowrite

EUPHORIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang