𝚃𝚎𝚗𝚝𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚞𝚊 𝚑𝚊𝚝𝚒 𝚖𝚎𝚗𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚜𝚊𝚝𝚞 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚒𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚔𝚛𝚊𝚕.
-𝓑𝔂. 𝓻𝓲𝓪𝓯𝓲𝓽𝓻𝓲𝓪411, 𝙼𝚊𝚛𝚛𝚒𝚊𝚐𝚎 𝚘𝚏 𝙻𝚒𝚎𝚜
Pernikahan seringkali dianggap salah satu ritual paling sakral yang harus dijalani sepasang ins...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
19.30
Jika melihat jarum jam dinding, waktu memang sangat ideal untuk sekedar keluar rumah melihat bintang malam yang ada dilangit. Freya mengajak Ghena untuk ikut bersamanya keluar dari rumah.
"Kita keluar liat bintang mau?" tanya Freya pada Ghena.
"Mau!" balas Ghena yang sangat antusias.
Bagi Freya, Ghena adalah hidupnya. Ghena, putrinya dengan Aska, ia ada karena di titipkan Tuhan, ia ada karena Freya dan Aska memang menginginkannya.
"Mama, Papa belum pulang?"
"Belum sayang, dikit lagi pulang kok. Ghena sabar ya," ujar Freya pada Ghena.
"Emm—Oke deh ma," balas Ghena yang memamerkan deretan giginya.
Ghena duduk di pangkuan Freya, matanya yang bulat menatap ke arah dua bintang yang memisahkan dirinya dengan yang lain.
"Itu Mama sama Ghena, yang jauh di sana Papa," ucapnya menunjuk bintang yang ada di atas langit malam.
"Kenapa Papa jauh?" tanya Freya yang sedikit bingung.
"Soalnya Papa lagi kerja sekarang, kalo udah pulang Papa jadi deket deh sama Mama sama Ghena," cerocos Ghena tanpa henti menjelaskan maksud perkataannya tadi.
Obrolan ringan mereka terhenti saat Ghena melihat mobil berhenti di depan rumah mereka, tapi sebentar itu bukan mobil milik Aska, itu mobil milik Danu. Danu, si pemilik perusahaan terbanyak dalam kotanya.
Danu turun dari mobilnya membawa sebuah paper bag berwarna coklat. Ghena dengan antusias menyambut kedatangan lelaki itu, ia berlari kecil mendekat menghampiri Danu.
"Om Danu, bawa apa buat Ghena?" tagih Ghena saat melihat Danu membawa sesuatu. Kini Ghena sudah berada dekat Danu, dengan posisi Danu yang berjongkok.
"Om bawa es krim, tapi bukan buat Ghena," balas Danu.
"Om bohong, itu buat Ghena kan! Sini om," Ghena menarik lengan Danu, membujuknya agar ingin memberikan paper bag tersebut.
"Oke-oke, om kasih, tapi jawab pertanyaan om dulu, setuju? " Danu memberikan syarat pada Ghena. Ghena memanggutkan kepalanya pertanda setuju.
"Oke, tujuh ditambah delapan berapa? Kalo benar jawabannya, om kasih," tanyanya pada Ghena.