Chapter 5.2

26 6 0
                                    

Double Updatee!!

Gimana hari ini?

Not bad atau very good?

Yang terpenting adalah semoga kalian selalu bahagia



SIANG ini Freya hanya berniat keluar untuk membeli beberapa camilan Ghena sekaligus coffe untuk suaminya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

SIANG ini Freya hanya berniat keluar untuk membeli beberapa camilan Ghena sekaligus coffe untuk suaminya. Sejak kejadian kemarin malam saat Aska babak belur karena Dio, Freya jadi memikirkan sesuatu. Otaknya selalu memutar pertanyaan, kenapa sepertinya Aska enggan sekali melepas Luna?

Dengan menyetir mobil milik Aska, ia membawanya di kecepatan sedang. Sampai manik matanya menemukan cafe di seperempat jalan sana. Ia mulai memutar stir mobilnya, memarkirkannya di pinggir jalan sana. Cafe siapa lagi kalau bukan Arha's Cafe.

"Mas, take away ya, vanilla Latte nya satu, samam espressonya satu," ucap Freya menyebutkan pesanannya saat ia sudah berada di meja kasir.

Arya yang kebetulan sedang menjaganya langsung mengangkat dagunya. "Sendirian aja Frey?" tanyanya.

Mendengar pertanyaan yang berasal dari suara tak asing Freya yang kala itu tengah sibuk mengambil uang pada dompetnya, langsung mengalihkan pandangannya, ia tersenyum. "Iya, mas Askanya lagi di rumah sama Ghena," jawabnya.

Arya memanggutkan kepalanya. Hubungan mereka berdua hanya sebatas pembeli dan penjual saja tidak ada yang istimewa. Kecuali, Freya yang memang sering ke Cafe Arya. Bahkan ia sudah menjadi pelanggan setia sejak lima tahun lalu.

"Semalam aku dengar ada kebakaran di rumah kamu Ar. Terus keadaan Hani gimana sekarang?" Freya mulai membuka topik serius.

"Alhamdulillah Hani baik-baik aja," balas Arya.

Freya meraih pesanannya yang sudah disodorkan oleh Arya. "Kenapa bisa kejadian kebakaran?"

Kini bergantian, Arya yang meraih uang cash yang diberikan Freya. "Aku juga gak tahu jelas, Hani bilang dia tidak masak semalam. Tiba-tiba api keluar asalnya dari luar, entah ada yang sengaja atau tidak. Aku belum tahu," jelasnya pada Freya.

Freya menautkan kedua alisnya. Menatap heran ke arah Arya. "Udah diselidikin?"

"Semalam sudah cek cctv, tapi cctv di rumah sebelum kejadian sudah mati lebih dulu. Mungkin sengaja dimatikan."

Freya menganggukan kepalanya pelan. Tiba-tiba senyumnya kembali muncul. "Aku ada teman yang tinggal di sana, bisa jadi cctv di luar rumahnya menangkap jelas aksi pelaku. Mau coba aku hubungi Ar?" tawar Freya.

Satu harapan muncul untuk Arya membuka kartu si pelaku yang dengan teganya membakar rumah saat Hani sedang tertidur. Arya membalas tawaran Freya dengan anggukannya.

"Nanti siang atau malam aku kabari, aku pulang dulu. Makasih ya, Ar." Freya langsung melenggang pergi menenteng pesanan kopi yang sudah berada di tangannya sedari tadi.

Ia duduk di kursi pengemudi, baiklah kali ini tujuannya setelah sampai di rumah adalah menelfon temannya. Setidaknya dengan cara ini siapa tahu pelaku yang sengaja membakar rumah Arya dan Hani bisa cepat tertangkap.

Lagi pula, Freya juga bingung motif apa sebenarnya yang dilakukan pelaku sampai melakukan hal gila seperti ini? Ah, semoga Tuhan dan semesta kini sejalan dengannya. Biarkan semuanya terungkap dengan jelas.

"SEPERTINYA dia hanya anak buah dari bos nya," ucap Indra-teman Freya yang tengah mengecek rekaman cctv rumahnya di halaman depan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"SEPERTINYA dia hanya anak buah dari bos nya," ucap Indra-teman Freya yang tengah mengecek rekaman cctv rumahnya di halaman depan. Kebetulan rumah Indra tepat sekali berhadapan langsung dengan rumah Arya.

Freya mencoba menatap layar komputer dengan lekat. "Coba difoto saja plat nomornya," ujarnya.

Arya yang mendengarnya langsung merogoh kantong celananya meraih benda pipih yang akan ia gunakan untuk memotret. Dalam beberapa sentuhan jarinya ia berhasil mengambil gambarnya.

Hani berdiri di belakang Arya sedari tadi hanya diam menatap ketiga orang di depannya terus menguak kasus ini.

"Pak Arya mau saya antar sekalian ke kantor polisi? Untuk melaporkan kasus ini?" tawar Indra dengan sopan.

"Kebetulan Indra memiliki rekan polisi, mungkin nanti bisa dipercepat penyelidikannya kan," tambah Freya meyakinkan.

Arya menatap Freya dan Indra bergantian. "Tidak merepotkan memang?"

Indra menggelengkan kepalanya. "Tidak Pak, saya senang bia membantu."

"Terima kasih," balas Arya.

Tangan Indra beralih pada kunci mobilnya yang tergeletak di meja. "Mau langsung pak?"

"Boleh, kita ke sana. Mungkin lebih cepat lebih baik." Arya memutuskan.

Ketika mereka bertiga hendak pergi melaporkan kasus ini, Hani mencegahnya dengan mengeluarkan suara. "Tidak usah dilanjutkan lagi, tanpa kalian selidiki aku sudah lebih tahu siapa pelakunya. Biar aku yang membereskannya sendiri," jelasnya dengan tegas.

"Tapi Han kita lapor ke polisi dul-" perkataan Arya terpotong.

Tapi Hani masih tetap pada pendiriannya. "Aku sudah bilang, aku bisa membereskannya."

"Makasih untuk bantuannya Indra. Aku harus menemui seseorang," lanjut Hani. Setelahnya ia langsung menghilang dari pandangan mereka bertiga.

Sungguh Arya sebenarnya sangat khawatir dengan Hani yang bersikap seperti ini. Seharusnya Hani mengikuti ucapannya untuk menindak lanjuti kasus ini. Raut wajahnya sangat terbaca bahwa ia cemas bukan main.

"Percayain aja semuanya sama Hani, Ar. Mungkin dia lebih tau apa yang harus dilakuin." Freya berusaha menenangkan Arya yang tengah gundah.



Vote and comment-nya bestie!

So, kira-kira siapa ya pelakunya?

Boleh yuk ramein di sini, dengan komen tebakan-tebakan kalian

Aku tunggu bestie!

Love u, and see u on the next chapter!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 19, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Marriage Of Lies Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang