Chapter 5.1

31 5 0
                                    

Hollaa, holla!

I'm back, how are u bestie?

Hope u all still healthy

Miss u



MESKI sudah larut malam, tidak membuat emosi Dio kunjung mereda

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

MESKI sudah larut malam, tidak membuat emosi Dio kunjung mereda. Malah, di malam ini ia nekat pulang tanpa kehadiran Luna di rumah. Kakinya bahkan sudah menapak pada perkarangan rumahnya.

Dalam beberapa langkah lagi, ia akan melanjutkan aksi balas dendamnya. Siapa lagi kalau bukan menghampiri Aska di rumahnya. Lagi pula, mobil Aska baru saja terparkir di sana. Waktu yang sangat tepat sekali, sepertinya semesta sedang berpihak kepadanya.

Tanpa berlama-lama berpikir, saat Aska keluar dari mobilnya Dio langsung melayangkan tinjuan kuat dari kepalan tangannya. Aska pun terhuyung akibat ulah Dio tadi.

"Brengsek, bangun," emosi Dio pada Aska.

Aska memegang sudut bibirnya yang tanpa diminta sudah berdarah.

Dio mencengkram kerah kemeja milik Aska dengan kencang, mendorongnya ke arah mobil Aska. "Saya sudah bilang kan jauhi Luna. Ternyata kamu masih mengejar-ngejar Luna."

Aska masih mencoba mencari penjelasan dari setiap kata yang keluar lewat mulut Dio. Bahkan Aska tidak pernah merasa ia mengejar-ngejar Luna. Apa Dio sedang halu sekarang?

"Kamu ngerti bahasa manusia kan? JAUHI LUNA!" bentak Dio. Suaranya seperti biasa sudah naik beberapa oktaf dari sebelumnya.

Aska belum merespon ucapan Dio sepatah kata pun. Matanya terus memperhatikan raut wajah Dio yang sangat murka.

Dengan segala keemosian yang ada Dio menghantam tubuh Aska berkali-kali dengan kepalan tangannya serta lututnya. Bukannya membalas, Aska masih terus diam tak berdaya. Lihat saja, Aska sekarang sudah tergeletak pada aspal dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

Dio sangat puas menatap Aska tak berdaya seperti ini. Rasanya, kenapa Aska tidak sekalian saja dijemput oleh malaikat maut?

Dio meraih sebuah batu berukuran sedang, lalu ia mengepalnya dengan sekuat tenaga. Dalam hitungan detik batu yang ada pada tangan Dio sudah beralih terlempar mengenai kaca rumah Aska.

Pranggg!

Suara benturan kaca rumah dengan batu berukuran sedang terdengar riuh. Freya yang baru saja keluar dari kamar Ghena langsung mengecek keadaan rumahnya. Betapa kejutnya dia, saat melihat pecahan kaca-kaca rumahnya sudah berserakan dimana-mana. Ia langsung berlari ke luar rumah, mencari pelaku yang membuat kegaduhan di rumahnya.

"Itu peringatan, saya sudah ingatkan kepada suami kamu Freya. Tapi suami kamu tidak pernah ingin mendengarkan saya," geramnya saat melihat Freya membuka pintu rumah.

Marriage Of Lies Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang