Happy reading☺️
Awas typo!
~
~
~
Kedua manik indah milik Alessa perlahan terbuka. Tangannya terulur untuk mengambil ponsel dari atas nakas dan melihat waktu.
06.00 WIB.
Masih sangat pagi untuk bangun di hari Minggu. Alessa mengembalikan ponselnya ke nakas. Ditariknya selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Namun suara gaduh dari samping rumah, membuat matanya tak bisa terpejam lagi.
Eh, tunggu.
Samping rumahnya?
Alessa membuka matanya lebar-lebar lalu menyingkap selimutnya. Masih dengan muka bantal dan rambut singa, Alessa berlari menuju ke dapur.
"BIBI!"
Teriakan Alessa yang begitu nyaring membuat kedua asisten rumah tangganya yang sedang ada di dapur terkejut.
"Eh, Non Eca. Ada apa?" tanya Bi Risa.
"Bi, di rumah sebelah ada setan, masa..." kata Alessa.
"Setan apa sih, Non?" tanya Bi Risa lagi karena ia tak mengerti.
"Ada suara ribut-ribut di rumah sebelah. Rumah sebelah, 'kan udah kosong lama, Bi," kata Alessa. Ia ketakutan sampai ingin menangis.
"Ada suara orang berantem sama suara barang-barang digeser gitu," lanjut Alessa.
"Itu bukan setan, Non."
Alessa menoleh cepat ke arah Mbak Rumi, asisten rumah tangganya yang satu lagi.
"Terus apa, dong?"
"Kayaknya kemarin saya udah kasih tahu non Eca deh, kalau ada yang pindah ke rumah itu. Non Eca nggak inget?"
Alessa diam sejenak. Mencoba mengingat-ingat. Kemudian ia menggeleng karena tidak ingat.
"Kapan pindahnya? Kok aku nggak tahu?" tanya Alessa.
"Kemarin sore mereka sampai ke sini, non," jawab Mbak Rumi. Alessa manggut-manggut tanda paham.
"Ck, kirain ada setan disana. Ya udah, deh Eca mau tidur lagi. Jangan dibangunin," kata Alessa. Kemudian ia beranjak dari dapur kembali menuju ke kamarnya.
Alessa melangkah gontai menuju kamarnya. Ia masih dongkol karena kejadian tadi. Karena tetangga barunya itu, ia harus bangun sepagi ini di hari Minggu.
Sesampainya di kamar, Alessa langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur Lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Namun setelah 30 menit berlalu, Alessa belum juga kembali tidur. Bagaimana bisa kembali tidur? Tetangga barunya itu sangat berisik pagi-pagi seperti ini. Entah apa yang mereka lakukan.
Alessa membuka selimutnya lalu mendudukkan dirinya. "Mereka lagi perang atau apa, sih? Berisik banget," kata Alessa kesal.
"Ada berapa orang sih, yang pindah ke sana? Rame banget, udah kayak pasar aja," gerutu Alessa.
Alessa benar-benar terusik. Pasalnya, selain suara barang digeser, Alessa juga mendengar suara teriakan yang keras. Bukan hanya satu orang, mungkin ada 3 atau 4 orang yang berteriak.
"Argh! Tetangga baru ngeselin! Kalau mereka tiap pagi berisik begini, gue nggak usah pasang alarm lagi biar bisa bangun," gumam Alessa.
Karena sudah tak bisa memejamkan matanya lagi, Alessa memutuskan untuk mandi. Dengan kesal, Alessa berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Downpour
Teen Fiction[ON GOING] ~Laksana Jentayu Menantikan Hujan~ Sebuah kisah perjuangan dan pengorbanan yang harus dilakukan. Menyerah bukanlah kata yang tepat. Bahkan hujan selalu kembali walau telah jatuh berkali-kali, seolah tidak peduli berapa banyak sakit yang d...
