Happy reading :)
Awas! Banyak typo!
-
-
-
Pagi ini mood Alessa sedang sangat buruk. Semalam ia bertengkar dengan Nadia. Tadi malam, Alessa menyampaikan semua kekesalannya terhadap sang mama yang sangat jarang berada di rumah. Dan subuh tadi Nadia langsung pergi tanpa berpamitan padanya.
Alessa menyusuri koridor dengan langkah pelan. Ia berjalan dengan kepala menunduk. Sampai-sampai ia tak menyadari banyak orang yang berlarian dari arah berlawanan. Dan salah satu dari mereka tak sengaja menabrak bahu kanan Alessa. Alessa yang terkejut tak sempat menyeimbangkan diri. Alhasil tubuhnya oleng ke belakang.
"Akh!"
Dugh
Bersyukurlah Alessa karena ada orang dibelakangnya yang sigap menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke lantai.
Alessa menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang menangkapnya. Tubuh Alessa menegang ketika melihat siapa yang menangkapnya. Buru-buru ia membenarkan posisinya.
"Ekhm... Makasih," ucap Alessa.
Orang itu hanya mengangguk pelan lalu kembali berjalan tanpa mengatakan apapun.
"Juna!"
Ya, orang yang telah menolong Alessa itu adalah Juna.
Juna berhenti lalu menoleh ke belakang. "Apa?" tanya Juna dingin.
"Tungguin," ucap Alessa seraya berjalan mendekat ke arah Juna. Juna memutar bola matanya malas tapi tetap menunggu Alessa.
"Yuk."
Alessa dan Juna pun berjalan bersama menuju ke kelas mereka.
"Makasih udah tolongin gue. Kalau nggak ada lo tadi mungkin gue jadi susah jalan," ujar Alessa.
"Hm. Lagian ngapain sih, jalan sambil nunduk gitu?" tanya Juna.
"Gue lagi marahan sama nyokap gue. Dan tadi subuh nyokap gue pergi tanpa pamit ke gue. Sebenernya gue juga sering marahan sama nyokap gue. Tapi beliau nggak pernah sampai semarah ini ke gue. Andai bokap gue masih ada. Gue pasti nggak akan sering berantem sama nyokap gue," ujar Alessa dengan suara rendah. Entah kenapa tiba-tiba dia bicara seperti itu pada Juna yang notabene-nya adalah orang yang baru ia kenal sebulan ini dan mereka tak cukup dekat.
Juna menoleh ke samping. Dilihatnya Alessa yang sedang menatap lurus ke depan dengan tatapan sendu.
"Jangan sering marahan sama nyokap lo. Nggak baik. Apapun yang beliau lakuin itu buat lo. Pasti berat jadi seorang single parents. Jadi tolong hargai dan sayangi beliau terlepas apa yang udah beliau perbuat. Karena semua itu buat kebahagiaan lo. Jangan sampai lo nanti nyesel setelah beliau nggak ada. Nggak enak rasanya nggak punya Ibu," kata Juna.
Alessa menatap Juna tak percaya dan juga bingung. Tak percaya karena baru kali ini Alessa mendengar Juna berkata sepanjang itu. Biasanya Juna hanya akan bicara saat perlu saja dan tak sampai sepanjang itu. Bingungnya karena Alessa kurang paham maksud dari perkataan terakhir Juna.
"Jun, lo udah—"
"Iya, beliau udah nggak ada 5 tahun lalu waktu ngelahirin adik gue," kata Juna memotong perkataan Alessa. Lalu berjalan masuk ke dalam kelas lebih dulu.
Alessa mematung di depan pintu kelas. Ia baru tahu kalau Juna sudah tidak punya ibu. Tiba-tiba ia merasa kasihan pada Juna. Alessa tidak bisa membayangkan kehidupannya tanpa Mamanya. Walau Mamanya jarang pulang, tapi setidaknya beliau selalu meneleponnya untuk menanyakan kabarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Downpour
Teen Fiction[ON GOING] ~Laksana Jentayu Menantikan Hujan~ Sebuah kisah perjuangan dan pengorbanan yang harus dilakukan. Menyerah bukanlah kata yang tepat. Bahkan hujan selalu kembali walau telah jatuh berkali-kali, seolah tidak peduli berapa banyak sakit yang d...
