Holaaa!! I'm back! Mumpung besok US terakhir, so, ini buat mengobati rasa kangen kalian guys!
Enjoy!
************
AUTHOR POV
"Cha,"
"Gue ga maksud untuk menghindar dari lo. Tapi gue emang---"
"Lo ngehindarin gue, Cha."
"Ngga."
"Iya."
"Ngga, Steve."
"Terus kenapa lo ga mau pulang bareng gue? Dijemput sama gue pun udah ga pernah. Dan bahkan sekarang, jangankan untuk ngobrol sama gue, nyapapun seakan lo udah ga sudi lagi."
Steve melempar pandangannya ke samping, melepaskan tatapan mata Chaca, untuk menyembunyikan apa yang ia rasakan. Ia takkan membohongi hatinya lagi. Ia takkan menyangkal apa yang rasakan lagi. Ia merindukan gadis ini. Ia menyayangi gadis ini, lebih dalam dari pada yang tau. Ia mencintai gadis ini. Gadis yang selama ini anggap sebagai sahabatnya sendiri. Dan ia sadar akan rasa yang ia miliki terhadap Sheila. Ia hanya menggagumi Sheila dan menganggapnya seperti seorang adik. Tapi Chaca. Tanpa ia sadari, gadis ini sudah berhasil menerobos masuk ke dalam hatinya.
"Terus gue harus nyebut semua perlakuan lo itu apa selain menghindar dari gue?"
Chaca semakin tertegun. Chaca masih memandangi wajah Steve yang kini sudah tak menatapnya. Semua kata-kata yang keluar dari mulut Steve seakan menyuruhnya kembali untuk berada disisi laki-laki ini. Tapi tidak. Ia tak akan sanggup lagi menanggung semuanya. Menahan segala rasa sakitnya sendiri. Ia lelah. Ia ingin merasakan rasanya dicintai. Dan bertahan disisi Steve lebih lama lagi, itu hanya akan membuka kembali luka yang belum kering di hatinya.
"Lo ga bisa jawab? Atau lo emang bener-bener ga mau ngomong lagi sama gue, Cha?"
"Steve, lo-- Lo ga butuh gue Steve. Yang lo butuh adalah Sheila. Kejar dia. Kejar kebahagiaan lo. Jangan biarin dia pergi bersama orang lain. Lindungin dia. Jaga dia. Jangan sampe lo kehilangan kebahagiaan lo. Gue udah capek. Gue-- Gue harus pulang."
Chaca membalikkan badannya, menghapus cepat air matanya, dan melangkahkan kakinya pergi menjauh dari lukanya. Luka yang tak pernah mengering. Dan luka yang terbuka semakin lebar setiap harinya.
Chaca mempercepat langkahnya. Memukul dadanya keras-keras, berusaha untuk mengurangi rasa sesak di dadanya akibat perkataannya sendiri. Ia baru saja menyuruh cintanya mengejar cinta yang lain. Ia baru saja menyuruh cintanya pergi mengejar kebahagiaannya sendiri.
"Haha..." Dirinya tertawa hambar sambil mengusap kembali air matanya yang berhasil lolos dari matanya, menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Dia terlalu gila. Terlalu lemah untuk mengenakan topeng tegar. Terlalu rapuh untuk mengenakan topeng kuat. Karna nyatanya, hati yang hancur kini semakin hancur. Semakin hancur dan habis oleh pilihan yang telah ia ambil.
"Chan," Jo muncul dari parkiran motor dengan motor hitamnya. "Lo kenapa?"
"Anter gue pulang, Jo. Please." lirih Chaca. Jo langsung memberi gesture tubuh mengiyakan permintaan Chantikanya. Chaca melihat kearah Steve yang masih berdiri disana. Memberikan senyum nya kembali dengan tangan terkepal di udara, tanda memberinya semangat untuk mengejar cintanya.
Steve hanya terdiam menatap punggung gadis yang semakin lama semakin menjauh darinya. Dan ia semakin tertusuk dengan kedatang seseorang yang menghampiri gadis itu.
"Gimana gue bisa ngejar kebahagiaan gue kalo dia udah memilih untuk pergi menjauh dari hidup gue, Cha?" lirih Steve sekali lagi, menatap miris kepergian Chaca bersama Jo.

KAMU SEDANG MEMBACA
Complicated Friend Zone
Teen FictionIni terlalu sakit. Gue terlalu lemah. Dan gue mulai lelah. Bayangin lo jatuh cinta sama sahabat cowo lo sendiri Dan gue tau itu lagi booming banget di kalangan anak muda jaman sekarang. Tapi yang bikin lebih sakit itu tuh doi jatuh cintanya bukan s...