20

2.9K 167 29
                                    

AUTHOR POV

"Mm--ma--makasih?" Jo mengeja kata pertama yang terlontar dari bibir Chaca. Chaca masih tersenyum. Ia ingin menguatkan tekad yang ada dalam hatinya. Tentang Jo. Bukan Steve.

"Makasih karna lo selalu ngertiin gue. Makasih karna lo selalu ada buat gue. Makasih karna lo yang selalu mau berbuat apa pun yang gue minta. Makasih karna lo selalu punya cara buat nenangin gue. Makasih karna lo selalu lembut sama gue, ga peduli seberapa kasarnya gue. Ga peduli seberapa egois nya gue. Ga peduli seberapa bodohnya gue. Ga peduli seberapa... shrrttt," entah sejak kapan senyum tulusnya berubah menjadi genangan air mata. Semua terjadi dalam waktu yang bersamaan. Disaat ia ingin berterima kasih, disaat ia tersadar akan semua perlakuan Jo, disaat ia sadar akan kebodohan dan keegoisannya, dan disaat ia tersadar bahwa seharusnya bukan Steve yang harus ia perjuangkan, tapi lelaki yang berdiri di hadapannya kini. Lelaki yang baru saja kembali ke dalam kehidupannya beberapa minggu kemarin. Lelaki yang seharusnya ia syukuri kehadirannya, karna Tuhan telah mengirimkan seorang malaikat disaat hatinya tak sanggup lagi menahan seluruh luka yang Steve torehkan satu persatu.

"Shrrttt... Maafin gue yang terlalu egois Jo, gue terlalu egois untuk... shrrtt...hiks..." Chaca mengambil nafas yang kini mulai susah ia ambil karna hidungnya sudah mulai mengeluarkan cairan. Dan bahkan isakan kini mulai terdengar.

Jo menarik bahu Chaca, membawanya dalam dekapan hangatnya. Ia takkan tega melihat gadis yang mengisi hatinya selama lebih dari 3 tahun ini menangis.

Ia sudah berjanji takkan membuat air mata Chaca tumpah lagi. Ia berjanji untuk menjaga dan melindungi Chaca, bahkan jika itu mengorbankan dirinya. Dan tak lupa, ia berjanji untuk membantu Chaca meraih kebahagiaannya, walau mungkin itukan menusuk hatinya sendiri.

"Shhsstt... Lo kenapa jadi cengeng sih sekarang?" Ucap Jo sambil masih mengelus rambut Chaca lembut.

"Shhrrttt... maaf... hiks...sshhrrrt"

"Gue ga pernah nyalahin lo Chantik." Nada lembut yang menenangkan itu kembali keluar dari mulut Jo. "Berhenti nangis ya... berhenti ngerasa bersalah ke gue, gue akan---"

"Jo," panggil Chaca memotong ucapan Jo, merenggangkan pelukannya.

"Lo harus janji sama gue." Pinta Chaca dengan nada memohon tapi harus dipatuhi.

"Apa?" Jo mengerutkan alisnya. Sejak kapan ia tidak menuruti kemauan cewe ini?

"Bilang ke gue, ceritain ke gue semua yang lo rasain... Semuanya. Kalo lo kesel sama sikap gue, lo ga suka, lo muak dengan semua sikap gue. Atau semua yang lo alamin, semua masalah lo. Bilang ke gue. Jangan sembunyiin apa pun." Setelah menyuarakan kalimat-kalimatvitu, Chaca kembali menghambur kepelukan Jo, memeluknya lebih erat, berharap cowok itu mengiyakan permintaannya seperti waktu dulu.

Jo memproses semua kata-kata Chaca dalam otaknya yang kini terasa berjalan sangat lambat. Bahkan untuk membalas pelukan Chaca. Ia seperti tak menyangka bahwa kenyataan ini akan menghampirinya.

Tapi saat mendapati pelukan Chaca mengerat, seakan mengerti apa yang diinginkan gadis yang ada dalam dekapannya, ia langsung membalas pekukan Chaca sambil tersenyum lembut.

"Iya Chan... Iya, gue janji."

******

Entah apa yang dirasakan hatinya saat ini, tapi itu mampu membuatnya melayangkan pukulan keras ke tembok yang lebih keras dan juga dingin. Entah apa yang mampu membuatnya bungkam dan malah pergi meninggalkan keduanya begitu saja, tapi saat itu, hatinya terlalu sesak untuk memisahkan mereka.

Hal yang ia rasakan berbeda dengan apa yang pernah ia alami. Kejadian singkat yang berhasil membuat emosinya membara begitu saja, tanpa bisa meluapkan semuanya langsung seperti dulu.

Complicated Friend ZoneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang