26A

2.1K 113 9
                                    

Chap 26!  Maafin typo yang bertebaran ya guys...

Enjoy~~~~

***************

AUTHOR POV

Disaat semua orang yang kamu sayangi pergi, apakah yang tersisa dari dirimu?

Disaat semua orang menjauh darimu, apakah yang mengisi hatimu?

Dan disaat tidak ada lagi tempatmu untuk pulang, kemanakah kamu akan melangkah?

*************************

(H-3)

Teeettttttt...

Bel sudah berbunyi. Tak lama, anak-anak sudah berhamburan keluar kelas, memenuhi koridor-koridor.

"Chantika! Hey!" Chaca yang masih merapikan tasnya sambil berjalan segera menengok dan sesuai dugaannya, ia mendapati Jo berlari kearahnya.

"Hai Jo," Ia kembali sibuk dengan tasnya. "Besok jadi?" Chaca menghentikan aktifitasnya, menatap Jo dengan alis kirinya yang terangkat. "Yang waktu itu lho, yang---"

"Chaca!" Chaca mengalihkan pandangannya dan mendapati Sheila mengambil posisi Jo, dan berdiri di sampingnya.

"Besok jadi ya??" Tanya Sheila bersemangat, membuat Chaca mengerutkan keningnya. "Maksud kalian apaan sih? Kok pada nanyain soal besok? Emang bes--- OH. Astaga. Gue lupa." Kini Sheila menajamkan matanya kepada Chaca, mengambil ancang-ancang jika emosinya meledak.

"Eh, tenang-tenang, gue cuma lupa doang kok La. Santai. Gue ikut kok." Chaca menatap Sheila dan Jo. "Sama Jo tentunya." Tambah Chaca cepat ketika mendapati Steve berdiri disamping Jo.

"Ya udah La, sampe besok ya, gue duluan sama Jo. Bye." Dengan cepat, Chaca langsung menarik Jo dan menyeretnya keparkiran motor. "Aduh Chan, apaan sih, jangan kaya gini dong, dikira gue kucing apa main diseret seenaknya." Jo menggerutu sambil melepaskan tangan Chaca dari kerah belakang seragamnya. "Ckckck, gue ga ngomong ya Jo." Jo mendengus sebal, lalu melenggang menuju motornya.

"Duh duh, ga usah ngambek kali." Goda Chaca sambil menjawil dagu Jo, lalu terkekeh pelan.

#

"Mau sampe kapan sih kamu ngehindarin aku terus?"

"Yang ada gue yang nanya. Ngapain lo kesini?" tanya Joseph jera.

"What? Aku ga salah denger babe? Ko nanyanya gitu banget sih, terus ngomongnya juga kasar. Emang salah ya kalo nyamperin pacar sendiri?" Joseph menaikan alisnya, memasang wajah terkejut. "Lo lupa? Kita break." Ucapnya santai setelah berhasil menetralkan wajahnya.

"Break bukan berarti putus, babe." Rasty. Gadis itu benar-benar membuat dirinya berada diposisi yang sulit. Antara akal sehat dan perasaan, semuanya dicampuradukan karna pernah menuruti kata-katanya. Rasty berjalan dengan santai, dan menjatuhkan dirinya disofa empuk yang berada di teras belakang rumah Joseph.

Joseph menggeram. Apa yang harus ia lakukan pada gadis satu ini?

"Pergi. Dari. Rumah. Gue. Se-ka-rang." Joseph memberikan penekanan pada setiap katanya, menunjukan bahwa perkataanya adalah sebuah perintah yang tak boleh dibantah. Tapi, bukan Rasty namanya jika langsung menurut.

"Aku kangen sama kamu, jadi aku cari tau dimana kamu tinggal." Ujarnya tanpa menggubris perkataan Joseph. "Gue ga mau diganggu. Sekarang pergi." Joseph berkata sekali lagi tanpa memandang Rasty. "Aku mau ngajak kamu jalan weekend ini. Kamu mau ga? Kan udah selesai UAS." Rasty kembali berbicara dengan santai.

Complicated Friend ZoneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang