-WARNA-
"Lo bego banget sih!"
Makian keluar dari bibir tipis itu, tangannya mengusak surai dengan was-was bercampur gelisah. Elusan bahu oleh tangan lainnya menyambar pada bahu gadis tadi—berusaha menenangkan, kalau semua akan baik-baik saja.
Lyla masih menatap pintu ruang rawat milik Janine, enggan masuk menyusul kedua temannya entah dengan alasan apa. Gadis dengan celana denim itu memutar langkahnya lalu berjalan menuju sebuah tangga yang mengarah pada rooftop rumah sakit ini.
Lebih baik disini, menikmati semilir angin. Ia tak bohong kalau saat ini masih dilanda rasa panik akibat kejadian tadi.
"Ck, stupid."
Gumamnya pelan, raut wajahnya tak berubah, tetap dingin. Tangannya mengusak rambut pirang luntur itu, pikirannya entah kemana—yang pasti saat ini kacau.
"Lo udah berhasil nyelamatin Janine tepat waktu."
Suara dari belakang kian mendekat tapi Lyla tak jua berbalik, ia sudah tau sang pemilik suara ini.
"Kenapa nggak mau masuk?"
Lyla tak menjawab, matanya malah memejam.
Gadis itu berjalan semakin mendekat lalu berdiri menyender di sisi pembatas rooftop ikut melakukan apa yang Lyla sedang lakukan sekarang.
Hening beberapa saat, hanya ada suara lalu lintas kendaraan yang mengudara.
"Dia..."
"She's fine, dan sekarang lagi bareng Abby dan Maminya," potong Jade cepat.
Matanya membuka, Lyla melirik Jade singkat lalu mengernyit, "Gue nggak nanya dia."
Kekehan kecil keluar dari bibir Jade, si gadis surai cokelat itu menepuk kencang bahu Lyla.
"Terus? Lo mau nanya siapa lagi?"
Lyla tak menyahut, Jade menggeleng-gelengkan kepalanya, emang dasar sok cuek.
"Udahlah Ly, gengsi sekali-kali turunin," kata Jade dengan wajah yang menurut
Lyla menyebalkan, ia berjalan menjauh tapi sebelum itu menepuk bahu Lyla kembali. Tapi, kali ini lebih pelan dari pada yang tadi.
"Gue ada urusan, nanti kabarin gue kalau ada apa-apa," katanya lalu berjalan meninggalkan Lyla di ujung pembatas rooftop tapi sebelum itu langkahnya terhenti kembali.
"Saran gue sekali ini tolong dengerin ya anak walikota yang terhormat, mending lo jenguk Janine sana dari pada kayak orang takut ketauan abis maling disini," tambahnya lagi lalu pergi.
OOO
"Permisi."
Tok
Tok
Lyla menghela napasnya lalu mendorong pintu ruang rawat itu dengan pelan.
Seluruh padangan manusia yang ada di ruangan itu mengarah padanya.
Di sana ada Abby dan seorang wanita yang masih tampak muda walau ia yakin sekali usianya sudah paruh baya yang ia yakini adalah Mami Janine—sesuai yang dikatakan oleh Jade tadi.
"Lyla?"
Janine bersuara pelan dengan raut wajah senang, tangannya melambai pelan menyuruh Lyla untuk mendekat pada mereka. Gadis poni itu mau tak mau harus mendekat pada Janine walaupun merasa canggung bukan main.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐖𝐀𝐑𝐍𝐀
Teen Fiction❝Menang ada bagi mereka yang berani.❞ Jade, Janine, Abby, dan Lyla adalah keempat siswi yang lahir dengan permasalahan yang berbeda lalu di pertemukan oleh takdir dalam satu sekolah yang sama. Jade Paramoedya, si keras kepala yang menjunjung tingg...
