-WARNA-
ooo
Janine berjalan pincang mulai memasuki area teras rumah keluarga Batara dengan kesusahan karena menggendong tas yang lumayan berat berisi buku-buku tebal tiap mata pelajaran.
Ia membuka pintu, memastikan maminya tak ada dirumah untuk saat ini. Tapi, ketika menoleh ke sisi kiri, mami Janine—Veronica Hwang—sudah berdiri disana dengan tatapan khawatir.
"Je? What's happen with you, darl?"
Sang ami berjalan tergesa lalu menangkup wajah Janine dengan khawatir, matanya bersirat tanda tanya.
"im good, Mom. Jangan khawatirin, Jeje."
Mami menghela ragu dan segera menarik Janine ke dalam pelukannya. Wanita cantik kisaran empat puluhan itu merangkul anak semata wayangnya untuk duduk di sofa, matanya tak berhenti berkilat cemas ketika melihat kaki Janine yang sedikit lebam.
"Bi!"
"Ya nyonya?" seorang wanita paruh baya menjawab panggilan.
"Tolong ambilin minum, ya?"
"Baik nyonya."
Atensi wanita itu kembali kepada anaknya, "Kaki kamu lebam, kamu nggak kenapa-napa kan, dear?"
Janine menggeleng dengan senyum berusaha meyakinkan sang mami, "Tadi Jeje nggak sengaja jatuh di selokan, mi," katanya berusaha baik-baik saja.
Maminya masih dengan raut cemas sembari mengelus kaki Janine tepatnya di sekitar area lebam itu membuat Janine menangkup kembali wajah maminya.
"Jeje baik-baik aja kok, semua orang baik ke Jeje dan mami nggak perlu khawatir, Im your strong gilr, you know?" kata Janine dengan senyum lebarnya menatap wajah maminya, wajah wanita itu tak termakan usia, masih tetap cantik seperti dulu.
Maminya terkekeh pelan lalu mengangguk.
Veronica Hwang, wanita itu dulunya adalah model asli keturunan Chinese, namun menetap lama di Indonesia dan berkerja sebagai model lokal yang selalu muncul di majalah-majalah ternama lokal. Wanita itu menikah dengan Papi Janine--Haryono Sugeng Batara--pembisnis ulung perusahaan properti real estate di Indonesia.
Kalau menyebut Janine dengan julukan si putri kerajaan tampaknya kalian nyaris benar. Veronica mendidik Janine dengan baik, dia memberikan anaknya kebebasan juga bukan tanpa alasan.
"Nyonya, ini minumannya."
Maminya tersenyum pada Bi Suri, wanita usia sekitar lima puluhan itu balik tersenyum lalu pergi.
"Habisin dulu dan setelah ini istirahat, ya."
Gadis berambut lurus hitam itu merebahkan tubuh letihnya diatas kasur tanpa berganti seragam terlebih dulu, matanya menatap lurus atap putih di sana memikirkan beberapa hal yang baru saja terjadi padanya.
"Putus..."
Janine menggumamkan kata itu yang selalu saja terlintas kapanpun dalam benaknya, terbayang juga ucapan teman-temannya yang selama ini juga selalu mengatakan hal yang sama.
"Lo harusnya bisa melepaskan segala ketakutan dan kecemasan yang ada di dalam hati lo, bukan malah lo yang ngerasa takut kalau dia ada di dekat lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐖𝐀𝐑𝐍𝐀
Ficção Adolescente❝Menang ada bagi mereka yang berani.❞ Jade, Janine, Abby, dan Lyla adalah keempat siswi yang lahir dengan permasalahan yang berbeda lalu di pertemukan oleh takdir dalam satu sekolah yang sama. Jade Paramoedya, si keras kepala yang menjunjung tingg...
