Tap!
Sasuke memutuskan turun dari dahan tempatnya dengan sengaja menguping pembicaraan mereka.
"Sejak kapan kau di atas sana?"
Menghiraukan pertanyaan Kiba yang bersungut kesal. Sasuke malah melontarkan pertanyaan lain, "Di mana Chouji?"
"Dia tidak ikut bersama kami."
Perhatian Sasuke beralih pada Shino, sebelah alisnya yang terangkat menyiratkan pertanyaan yang seakan Shino sudah tahu jawabannya, "Hokage memberikan misi ini untuk tim 8."
Sasuke tahu Kiba dan Shino adalah tim 8, lalu bagaimana dengan gadis ini? bukankah seingatnya, tim 8 terdiri dari tiga orang anak lelaki. Ya satu anak lelaki Hyuuga itu tidak terlhat di sini.
"Hei! kau tidak kenal dengan Hinata?"
Sasuke melirik pada Kiba, lalu menelisik penampilan Hinata yang jauh dari bayangannya dulu tentang satu lagi anggota tim 8. Gadis yang ada di hadapannya kini adalah seorang gadis yang tidak terlihat seperti kunoichi. Kulitnya yang putih bersinar, helaian rambutnya yang berkilau, wajahnya, bibirnya, hidungnya.
"Kau melihat Hinata seperti ingin memakannya saja!"
"Hn."
Hinata menunduk, menautkan jari telunjuk sebagai tanda ia gugup.
"A-apa kabar U-Uchiha-san?"
Bukannya menjawab, Sasuke malah berkata dengan nada ketus, "Misi ini bukan untuk seorang gadis sepertimu!"
Lalu berbalik, melangkah lebih dulu meninggalkan ketiganya.
"Jangan hiraukan dia." Hinata hanya bisa mengangguk pada Kiba yang segera membantunya membereskan barang bawaan mereka.
Tim 8 beserta Akamaru berhasil menyusul Sasuke. Bahkan Kiba dan Akamaru kini memimpin berjalan di depan. Shino dan Hinata mengikuti Kiba, sedang Sasuke berjalan kurang lebih dua meter di belakang mereka.
Sepanjang perjalanan mereka, banyak pertanyaan di dalam kepala Sasuke perihal Kakashi yang membiarkan seorang gadis ikut dalam misi ini. Bukankah sebelumnya mereka sudah diberi tahu jika tidak ada batas waktu dalam misi tersebut?
Belum lagi mereka membicarakan soal Naruto dan ... "Kau berhak mendapatkan pria yang lebih baik daripada Naruto." Kalimat Shino saat itu tersirat akan rasa kecewa yang sangat.
Sebenarnya ada apa dengan mereka?
'Guk-Guk!'
Suara Akamaru menyadarkan Sasuke dari pikiran yang tidak seharusnya. Tentu saja itu bukan urusannya, Ia hanya perlu memastikan agar keberadaan gadis itu tidak menghambat misi mereka.
"Ada apa Akamaru?"
Sasuke tahu ada yang tidak beres. Spontan ia langsung mengaktifkan sharingan-nya. Pun dengan Hinata, Kiba dan Shino yang sigap memasang kuda-kuda.
Srek!
Set!
Puluhan jarum cakra terbang ke arah mereka dengan sangat cepat.
"Awas!"
Beruntung, mereka berhasil menghindar dari jarum cakra berukuran kecil yang kini menancap pada batang pohon tepat di belakang Hinata. Sejenak Hinata merasa lega mengetahui dirinya berhasil menghindari jarum cakra itu.
"Hinata kau tidak apa-apa?"
Hinata melihat pada Kiba, menggeleng, lalu mengerjap saat ia merasa wajah Kiba mulai terlihat kabur dalam pandangannya.
"K-Kiba-kun?"
"Hinata!"
Hinata tersentak saat Shino meraih lengannya, memeriksa dan menemukan ada satu jarum cakra yang tertancap di kulit lengannya.
"Hinata!"
Selanjutnya, Hinata hanya bisa mendengar teriakan panik Kiba dan Shino, serta suara Sasuke yang terdengar tajam di telinganya.
"Dia hanya akan menghambat misi kita!"
Lalu semuanya gelap.
.
.
.
Hinata mengerjapkan mata, tubuhnya terasa kaku hingga ia kesulitan untuk menggerakkan jemari tangannya. Dalam pandangannya yang nanar, ia menemukan langit-langit ruangan berwarna putih, lalu sebuah lampu gantung berbingkai hitam.
Hinata memejam, mencoba mengumpulkan kekuatannya yang seperti menghilang.
Lemah, seakan tidak ada tenaga.
Susah payah ia mencoba untuk kembali membuka mata.
"Hinata, kau sudah sadar?"
Suara Kiba.
"Hinata?"
Suara Shino
Hinata menggeser bola mata karena kepalanya terlalu kaku meski untuk sedikit menoleh ke arah Kiba dan Shino berada.
"Ugh!"
"Jangan bergerak!"
Hinata hanya bisa mengedipkan mata sebagai isyarat ia mendengarkan Kiba.
"Racun dari jarum itu sangat berbahaya dan bisa melumpuhkan tubuhmu untuk sementara."
Penjelasan Shino membuat Hinata membola.
"Untuk sementara, kau harus beristirahat di sini."
Hinata ingin bertanya di mana mereka berada, namun tidak ada suara yang keluar saat ia mulai menggerakkan bibirnya.
Seperti mengerti, Shino langsung memberitahunya, "Kita sudah tiba di Suna."
"Mm."
Susah payah Hinata mengatur napasnya.
"Sudah empat hari kau tidak sadarkan diri."
Ada bagian dari hati Hinata yang merasa tidak enak pada Kiba, Shino dan Sasuke. Ia merasa apa yang Sasuke katakan saat itu ada benarnya. Ya, ia hanya akan menghambat misi ini. .
"Kami sudah sepakat untuk meninggalkanmu sementara waktu di sini, sementara kami akan melakukan penyelidikan di sekitar Desa Suna."
Penjelasan Kiba terdengar bagai suara serangga musim panas yang hanya berdengung dikedua telinga Hinata. Ia hanya sibuk dengan berbagai pikiran buruk tentang dirinya, pun hatinya berkecamuk dengan rasa bersalah karena baru di awal misi sudah menghambat perjalanan mereka.
Hinata memilih untuk kembali memejam.
"Apa dia sudah siuman?"
Suara asing itu pun tidak mempu menarik Hinata yang terlanjur tenggelam dalam rasa bersalah.
"Kazekage-sama."
Kiba dan Shino memberi salam dengan menganggukkan kepala mereka.
Pria bersurai marun itu mendekati ranjang rumah sakit tempat Hinata dirawat. Ia melihat gadis itu tengah menyembunyikan pupil mutiaranya dibalik kelopak matanya yang rapuh ... lalu cairan bening yang mengalir dari sudut matanya yang tertutup.
Kazekage muda itu tertegun. Ia mengira Hinata merasa sangat kesakitan hingga gadis itu menangis karena racun yang sudah hampir menyebar ke seluruh tubuhnya. Spontan tangan Gaara terulur untuk menyeka airmata Hinata yang terasa dingin saat menyentuh kulit tangannya yang tegas.
"Kau akan baik-baik saja."
Suara baritone Gaara dan sentuhannya, membuat kelopak mata Hinata terangkat. Pupil sewarna batu amethyst-nya terlihat, bertemu dengan pupil serupa batu jade cerah milik Gaara.
Keduanya hanya saling bersitatap, hingga beberapa saat Gaara menyadari ada kepedihan yang tersirat dari kedua mata Hinata yang diselimuti airmata.
.
.
.
-tbc-thankiss ♥
KAMU SEDANG MEMBACA
Unintended
FanfictionSetelah perang dunia ninja usai, Hinata memilih pergi dari Konoha. Alih-alih demi sebuah misi, Hinata hanya sedang berusaha membuat jarak untuk mengobati hatinya yang retak. Dalam perjalanan ia menemukan banyak hal tak terduga ... mampu merasakan ci...
