Gurun Timur – Perjalanan Menuju Oasis Kuno
Langit mulai memerah, matahari perlahan tenggelam, menebarkan cahaya keemasan yang menyilaukan pasir gurun. Tim bergerak dalam formasi tiga baris ; Gaara di depan sebagai penunjuk arah, Sasuke berjalan sedikit menyamping di sisi kiri, Hinata di tengah, Kiba–Akamaru dan Shino di belakang sebagai penjaga belakang.
Angin gurun menerpa wajah mereka. Hinata menarik napas panjang, membiarkan udara panas mengisi paru-parunya. Di tengah perjalanan, ia sadar jarak Sasuke semakin mendekat... bahkan kini langkah mereka sejajar.
"Jangan terlalu fokus ke pasir," ujar Sasuke tiba-tiba tanpa menoleh.
"E-eh?" Hinata kaget.
"Jebakan paling sering muncul dari atas. Jangan biarkan matamu hanya terpaku ke satu arah."
Hinata terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.
"Baik, Sasuke-san."
Sasuke hanya mengeluarkan gumaman pendek, tapi tatapan Sharingan-nya sesekali melirik ke arah Hinata. Ada sesuatu dalam cara gadis itu menatap langit dan gurun... sesuatu yang membuat dadanya berdenyut aneh. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan.
Gaara yang berjalan di depan sebenarnya bisa mendengar semua. Ia tidak berkomentar, tapi matanya sedikit menyipit saat menyadari Sasuke mulai memerhatikan Hinata lebih dari biasanya. Ia melambatkan langkah, membuat dirinya kini sejajar dengan Hinata dan Sasuke.
"Byakugan-mu akan jadi penentu," kata Gaara dengan nada tenang. "Kalau ada pergerakan, laporkan padaku dulu. Aku akan menahan struktur tanah agar serangan Zetsu tidak menyebar."
"B-baik, Gaara-sama," jawab Hinata.
Sasuke menimpali dengan nada dingin, "Kalau kau terlambat melapor, aku tidak akan menunggu."
Hinata menoleh padanya, matanya sedikit tajam. "Aku tidak akan terlambat."
Gaara melirik ke arah keduanya. Entah kenapa, mendengar suara Hinata yang tegas saat menjawab Sasuke membuat dadanya terasa hangat... sekaligus berat. Ia menatap lurus ke depan lagi. Angin gurun bertiup sedikit lebih kencang, membawa aroma pasir dan ketegangan.
Mereka terus berjalan, sampai akhirnya Hinata berhenti mendadak. Byakugan-nya aktif, urat di sekitar pelipisnya menonjol halus.
"Ada sesuatu di depan," bisiknya.
Sasuke langsung melesat ke depan tanpa menunggu aba-aba.
"Sasuke-san!"
Hinata ikut bergerak menyusul, tapi Gaara lebih cepat mengangkat tangannya—pasir menyapu membentuk dinding pelindung tepat saat tanah di depan mereka amblas membentuk lubang besar.
BWAAMMM!
Dari dalam lubang itu, beberapa Zetsu putih muncul serempak, matanya kosong namun menyeramkan.
Kiba bersiul, "Ya ampun, ini baru pemanasan."
Sasuke berdiri di bibir lubang, Sharingan menyala penuh. Ia menatap ke bawah, ekspresi dingin tapi fokus. Gaara melayang di udara dengan pasirnya, memberi aba-aba ke semua orang untuk bersiap.
Hinata melangkah maju, matanya menyorot arah pergerakan bawah tanah.
"Ada banyak... mereka menyebar di dua arah terowongan."
Sasuke menatap Hinata, lalu dengan nada lebih pelan dari biasanya berkata, "Tetap di belakangku."
Hinata sedikit terkejut saat ia menyadari ada nada protektif dalam kalimat itu.
"Bukan karena kau lemah," lanjut Sasuke cepat, "tapi karena aku tidak ingin konsentrasimu terganggu."
Wajah Hinata memanas. "B-baik..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Unintended
Fiksi PenggemarSetelah perang dunia ninja usai, Hinata memilih pergi dari Konoha. Alih-alih demi sebuah misi, Hinata hanya sedang berusaha membuat jarak untuk mengobati hatinya yang retak. Dalam perjalanan ia menemukan banyak hal tak terduga ... mampu merasakan ci...
