Bab 19

553 76 7
                                        

Terowongan itu semakin gelap seiring mereka melangkah lebih dalam. Dinding-dindingnya lembap, dan udara dingin membuat pernapasan Hinata terdengar lebih berat dari biasanya. Meski begitu, ia mencoba menenangkan diri, tetap fokus pada misi, bukan pada perasaan yang bergejolak setiap kali melihat Sasuke.

Sasuke berjalan di depan, langkahnya pasti dan tenang, seperti selalu mengetahui arah tujuan. Hinata tidak bisa menahan rasa penasaran yang terus muncul; tatapannya diam-diam mengikuti setiap gerakan Uchiha itu, memerhatikan cara ia mengamati dinding-dinding terowongan, setiap celah yang tampak aneh, bahkan setiap suara kecil yang mungkin menandakan bahaya.

“Terlalu hening,” gumam Hinata pelan, hampir tak terdengar.

Gaara, yang berjalan beberapa langkah di belakangnya, mengangguk singkat. “Berhati-hatilah. Ada kemungkinan Zetsu atau sesuatu yang lebih berbahaya berada di dekat sini.”

Hinata menelan ludah. Pikiran tentang Zetsu yang mereka temukan sebelumnya masih segar di benaknya. Rasa takut itu tidak sepenuhnya hilang, tapi dorongan untuk melindungi misi membuatnya tetap maju.

Tiba-tiba, langkah Sasuke terhenti. Ia menunduk, matanya yang tajam meneliti sesuatu di lantai. “Jejak… ini baru,” katanya singkat, suaranya datar, tapi setiap kata seolah membawa peringatan.

Hinata mencondongkan tubuh, mencoba melihat apa yang ditunjukkan Sasuke. Jejak kaki kecil, hampir seperti cetakan kaki manusia tapi sedikit berbeda, tampak memimpin ke arah sebuah pintu yang nyaris tersamarkan di dinding batu.

Gaara mendekat, matanya tajam menilai situasi. “Terowongan ini… sepertinya tidak digunakan baru-baru ini, tapi ada sesuatu yang baru saja lewat. Kita harus tetap waspada.”

Sasuke menatap Hinata sekilas, hanya satu detik, sebelum kembali fokus pada pintu itu. Ada sesuatu dalam sikapnya yang membuat Hinata ingin bertanya, tapi ia menahan diri. Pertanyaan itu bisa menunggu sampai mereka benar-benar aman.

Dengan hati-hati, Sasuke memeriksa dinding di sekitar pintu itu. Tangan Hinata ikut bergerak, refleksif, seakan ingin membantu meski ia tahu Sasuke lebih cepat dan lebih terampil. “Hati-hati,” bisiknya pada diri sendiri, “jangan sampai terjebak dalam kesalahan.”

Gaara melangkah di samping mereka, pasir dan debu lembap menempel di sepatunya. “Jika ini jebakan, kita harus siap. Jangan terbawa emosi atau terburu-buru.” Suaranya tenang tapi tegas, memberi semacam jangkar kestabilan bagi Hinata yang mulai merasa detak jantungnya naik.

Sasuke menekan sebuah panel tersembunyi, dan pintu itu perlahan terbuka dengan bunyi berderit yang mengganggu. Di dalam, mereka melihat sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tabung-tabung kaca, masing-masing berisi cairan berwarna hijau dan biru yang bergolak. Ada beberapa Zetsu putih lain, terbaring dalam posisi setengah sadar, seolah menunggu sesuatu.

Hinata menahan napas, perasaan ngeri bercampur penasaran. “Ini… percobaan lagi,” bisiknya.

Sasuke hanya mengangguk, matanya yang merah Sharingan berkilat menatap setiap detail ruangan itu. “Kita harus cepat, tapi jangan gegabah. Ada banyak yang tidak kita ketahui di sini.”

Gaara menatap mereka berdua, menyadari ketegangan yang tak diucapkan tapi terasa. “Kita bergerak bersama. Sasuke, kau memimpin jalur pengamatan, aku akan menjaga belakang. Hinata, tetap dekat denganku.”

Hinata mengangguk, menenangkan diri. Meski hatinya masih bergejolak, ia tahu satu hal: kali ini, ia harus menaruh kepercayaan, setidaknya sebagian, pada Sasuke dan Gaara. Bahaya di depan mereka terlalu nyata untuk dibebani oleh perasaan sendiri.

Dan begitu mereka melangkah masuk lebih dalam, suara gemericik cairan, desisan tabung, dan napas yang berat menciptakan suasana yang semakin menegangkan…

...


Terowongan itu semakin sempit. Cahaya hijau dari tabung-tabung yang pecah memantul di dinding, menciptakan bayangan aneh yang menari di wajah mereka. Hinata berjalan di antara Sasuke dan Gaara, hati dan pikirannya bergejolak.

Sasuke tetap di depan, selalu waspada, melangkah dengan tenang namun penuh kewaspadaan. Matanya yang merah Sharingan sesekali menoleh, memastikan Hinata aman, sesuatu yang membuat dada Hinata berdebar lebih cepat.

Di belakangnya, Gaara tetap tenang, pasir mengalir dari tangannya seolah mengikuti setiap gerakan Hinata. Matanya menatap Hinata sekilas, penuh perhatian tapi diam. Perhatian Gaara berbeda—lebih hangat, lebih menenangkan dibanding ketegasan Sasuke yang dingin dan tajam.

“Lurus terus. Terowongan bercabang di depan,” ucap Gaara akhirnya, memecah keheningan yang membuat Hinata nyaris kehilangan fokus.

Hinata menelan ludah, hatinya terasa terbelah. Ia tahu, Sasuke selalu membuatnya merasa terjaga, waspada, dan… anehnya, diperhatikan. Tapi Gaara, dengan ketenangan dan kepedulian yang konsisten, memberikan rasa aman yang ia perlukan.

Mereka tiba di cabang terowongan. Sasuke melangkah ke kiri, matanya tetap merah. Gaara menatap Hinata sejenak sebelum melangkah ke kanan, pasirnya siap membentuk pertahanan.

Hinata terdiam. Hatinya ingin ikut ke kiri mengikuti Sasuke, tapi naluri dan rasa aman membuatnya tetap di dekat Gaara. “Kau memilih jalur sendiri, Hinata?” suara Sasuke terdengar di belakang, dingin tapi ada sedikit nada penasaran.

Hinata menunduk. “K-kita… kita harus memastikan semua Zetsu aman.” Jawabnya pelan, suaranya hampir terselip di antara desisan angin terowongan.

Sasuke menatapnya, matanya seakan menelusuri perasaan yang tersimpan di balik tatapan Hinata. Sesaat, suasana tegang karena misi bercampur dengan ketegangan hati.

Gaara, yang berdiri di sampingnya, merasakan perubahan aura Hinata, tapi ia hanya menepuk bahunya perlahan. “Percayalah pada instingmu,” katanya lembut. Kata-kata itu membuat Hinata tersadar bahwa ia kini berada di tengah pilihan yang sulit—antara ketegasan dan perhatian Sasuke, atau ketenangan dan perlindungan Gaara.

Di ujung terowongan, bayangan Zetsu mulai bergerak kembali, menandakan bahwa ada bahaya yang mengancam. Dan Hinata sadar: bahaya di luar bisa menuntut kerja sama, tapi bahaya di dalam hati… jauh lebih rumit.

.

.

.

Adakah yang menunggu?
Tbc-Thankiss

UnintendedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang