Bab 22

426 44 1
                                        

Langit gurun masih diselimuti cahaya bulan ketika sebagian besar tim sudah tertidur. Namun, di halaman markas sementara — di antara dinding batu dan suara angin malam — dua sosok berdiri saling berhadapan dalam keheningan.

Sasuke, bersandar di tiang kayu dengan tangan terlipat, menatap Gaara dengan mata tajam khas Uchiha.

Gaara, berdiri tegak dengan kedua tangan di saku jubah Kazekage-nya, terlihat tenang… tapi aura pasirnya bergerak samar di sekitar kaki — pertanda suasana hatinya tidak sepenuhnya netral.

“Sejak kapan kau menjadi pengasuhnya Hyuuga?” Sasuke membuka pembicaraan dengan nada dingin.

Gaara tidak bereaksi secara emosional.

“Sejak aku memilih untuk memercayai kemampuan dan keberaniannya,” jawabnya tenang.

“Hn.”

Sasuke melirik ke arah jendela ruangan Hinata — samar terlihat cahaya lentera masih menyala.

“Jangan terlalu ikut campur. Dia bagian dari tim ini… bukan tanggung jawab pribadimu.”

Gaara menaikkan alis sedikit. “Lucu. Kalimat itu seharusnya aku ucapkan padamu.”

Mata Sasuke menyipit. “Apa maksudmu?”

“Aku memerhatikan,” ucap Gaara pelan namun tegas. “Setiap kali dia terancam, kau bergerak lebih cepat dari siapa pun. Tapi setiap kali dia menunjukkan keberanian, kau orang pertama yang mencoba memotong langkahnya.”

Tatapan Gaara menajam, bukan dengan amarah, tapi ketegasan khas seorang pemimpin.

“Kau memperlakukannya seperti beban, tapi melindunginya seperti sesuatu yang… kau takut kehilangan.”

Udara malam terasa mengental. Sasuke terdiam sejenak, bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena ucapan Gaara terlalu tepat menusuk.

“…Kau tidak mengerti,” gumam Sasuke akhirnya. Suaranya rendah, seperti ada sesuatu yang ia tekan dalam hati.

Gaara menatapnya lurus. “Mungkin tidak. Tapi aku tahu satu hal… Hinata bukan gadis lemah yang butuh belas kasihan. Dia shinobi. Dan jika kau tak bisa melihatnya seperti itu… maka jangan halangi jalannya.”

Pasir Gaara bergerak pelan, seperti ombak kecil, menandakan ketegangan yang semakin memuncak.

Sasuke berdiri tegak.

“Dan kau? Apa niatmu sebenarnya?” nada suaranya berubah dingin.

“Menjaganya,” jawab Gaara tanpa ragu.

Kedua pasang mata itu saling bertemu...  Sharingan merah menyala dan mata hijau jade yang tenang. Tak ada teriakan, tak ada benturan fisik… tapi udara di antara mereka seperti bergetar, seolah pertarungan tanpa kata sedang terjadi.

Dari balik jendela, Hinata berdiri terpaku. Ia tidak sengaja mendengar percakapan mereka ketika hendak mematikan lentera. Hatinya berdegup tak karuan... bukan hanya karena isi percakapan, tapi karena… dua pria ini benar-benar bertarung, bukan dengan pedang, tapi dengan perasaan.

“Kenapa…” gumamnya lirih, tangannya menggenggam ujung piyama misinya. “Kenapa mereka… bertengkar karenaku?”

Gaara akhirnya melangkah mundur, matanya tetap tenang.

“Aku tidak akan bersaing denganmu, Uchiha… tapi aku juga tidak akan membiarkanmu meremehkannya.”

Sasuke tidak menjawab. Ia hanya menatap balik, ekspresinya sulit dibaca. Namun di dalam matanya… ada api kecil yang belum pernah ada sebelumnya.

Gaara berbalik pergi. Pasirnya berdesir pelan menyusuri halaman. Sasuke tetap berdiri di tempatnya, menatap langit malam dengan rahang mengeras.

Dari balik jendela, Hinata menutup matanya perlahan. Malam itu… bukan hanya tubuhnya yang lelah. Hatinya pun mulai goyah.

UnintendedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang