Shea 34

350 47 32
                                        


Pagi pertama tinggal di kostan. Shea yang baru selesai mandi itu mengernyit mendengar suara ketukan pintu, siapa pagi-pagi begini gerutunya. Dengan cepat ia menggulung rambutnya yang basah dengan handuk dan berjalan membuka pintu, tebakannya adalah ibu kost.

"Sarapan siap!" ujar seseorang itu yang wajahnya sengaja tertutup oleh paper bag di tangannya.

"Kak Theo?" tebak Shea. Pria itu pun langsung menampilkan wajahnya dengan senyuman lebar.

"Gak diajak masuk, nih?" Theo mengangkat kedua alis berkali-kali.

"Gak boleh masukin cowok sama ibu kost." Shea menahan Theo yang siap masuk itu.

"Udah izin, kok. Beneran, ibu kost percaya aku kakak kamu," balas pemuda itu cengir.

Shea mendengus sebal, tapi pada kenyataannya memang Shea hanya menganggap Theo sebagai kakak. Gadis itu akhirnya mau tak mau membiarkan Theo masuk begitu saja dan dirinya mengikuti di belakang.

"Shea belum rapi ih!" dumalnya dengan bibir mengerucut. Mengambil seragamnya dan memakainya di dalam kamar mandi.

Tak lama Shea keluar dengan rambutnya yang masih basah, duduk di meja rias dan menyiapkan pengering rambutnya.

"Aku bantuin, ya?" Theo menghampiri membuat sang gadis terkejut bukan main. Tangannya sudah siap mengambil alih.

"Jangan, Kak. Shea sendiri aja."

"Gapapa." Theo tetap ngeyel dan dengan semangatnya mulai menyentuh rambut Shea dan mengeringkannya.

"Kalo kamu terima ajakan aku tinggal di apartment bareng aku kan enak, tiap hari aku bisa rawat kamu kayak gini," gumamnya yang masih terfokus dengan kerjaannya itu.

Ngerawat? Emangnya gue anak bayi apa.

Shea tersenyum samar mendengar ajakan Theo itu lagi. Perlakuan Theo saat ini pun mengingatkannya pada Jeff beberapa hari lalu.

"Gak mungkin lah, Kak, kita tinggal bareng," balas Shea yang diam-diam menatap Theo melalui cermin.

"Kenapa gak mungkin? Pikiran kamu pasti terlalu jauh." Theo balas menatap Shea sama-sama lewat cermin dengan tatapan memicing menggodanya.

"Iyalah, mikir mah harus jauh biar gak ada penyesalan," jawabnya cepat dan langsung memutus saling tatap itu dengan berdiri dan mulai menyisir.

Kali ini Theo yang tersenyum samar, ia raih jepitan rambut di depannya dan memakaikannya pada Shea.

"Cantik," gumamnya.

"Heh?" Shea melirik karena tiba-tiba gugup.

"Ini jepitannya cantik," tunjuk Theo menahan tawanya, sebenarnya berniat menggoda Shea lagi.

"Iya papa yang kasih kemarin. Seneng deh akhirnya papa bisa perhatian sama Shea," ujarnya tersenyum-senyum sendiri.

Theo tertegun melihat senyuman itu untuk pertama kalinya. Ya, dirinya belum pernah melihat senyuman Shea yang tampaknya setulus dan sebebas itu. Kebahagiaan utama yang Shea cari ternyata memanglah dari keluarganya.

"Padahal kamu harusnya jangan tinggal di kostan gini, biar lebih deket lagi sama papa kamu."

Shea menggeleng. "Shea pengen tau gimana mereka jauh sama Shea, mereka pasti kerepotan terutama mama karena gak ada lagi yang bantu kerjain kerjaan rumah," gerutunya.

Hollow BlissTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang