Sore hari masih di rumah Lia. Shea seperti biasa menunggu kepulangan sahabatnya itu dari sekolah, tak murung seperti biasanya dan mulai memainkan game di ponsel dengan mode pesawat ia aktifkan. Shea masih belum berani jika orang tuanya ataupun laki-laki pemaksa itu menyerbunya di sambungan telpon ataupun chat.
"Di sini kamu, ya?" Suara seorang laki-laki yang menghampirinya itu langsung membuat Shea tersentak dan menjatuhkan ponselnya.
"Pulang kamu! Kayak yang gak punya orang tua aja." Chakra, pria itu sudah berdiri tepat di hadapan putrinya.
"Papa, kenapa ke sini?" lirih Shea, ada sedikit rasa senang sang ayah mencarinya.
"Ayo pulang," ajak Chakra kini dengan nada sedikit lembut.
Shea diam dan menggeleng. "Shea takut ketemu Kak Jeff," gumamnya.
"Jeff gak ada, ayo pulang sekarang. Jangan kabur-kaburan lagi."
Shea berdiri dengan wajah semringah, papanya mengkhawatirkan dirinya, pikirnya.
"Tungguin Lia pulang bentar lagi, Pa."
"Pulang sekarang aja, bisa bilang sama bundanya Lia atau sama security yang barusan ngobrol sama Papa." Shea lagi-lagi tersenyum dan menghampiri Chakra.
"Papa khawatir sama Shea?" tanyanya menatap sang papa begitu dalam, berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.
Chakra mengangguk meski wajahnya tidak menunjukkan itu. "Cepat pulang, beresin semua barang kamu. Papa mau ketemu sama bundanya Lia."
"Bunda Lia belum pulang udah seminggu ini, Shea juga nginep di sini nemenin Lia." Mendengar itu Chakra langsung mengernyit seperti memikirkan sesuatu, tapi tak lama langsung mengangguk.
"Ya udah Papa tunggu kamu di mobil." Pria itu langsung membalikkan tubuhnya dan berlalu di hadapan Shea.
Gadis itu tersenyum miris, padahal ia mengharapkan sebuah pelukan khawatir dari papanya, mengharapkan kemarahan papanya karena khawatir dirinya yang kabur dan tanpa kabar.
Tapi nyatanya? Harusnya Shea tak pernah mengharapkan apa pun dari orang tuanya, karena itu hanya akan membuatnya sakit.
Akhirnya ia berjalan gontai masuk ke dalam untuk mengemasi barang-barangnya.
Apakah Chakra terlalu gengsi untuk menunjukkan perhatian dan rasa khawatirnya itu? Semuanya memang terlalu rumit untuk dijelaskan.
Chakra terlalu muda untuk menjadi seorang ayah dari anak seusia Shea, ia seolah lupa dengan apa yang dibutuhkan seorang anak dari kedua orang tuanya. Chakra dipaksa harus dewasa karena buah kelakuannya sendiri di masa remajanya, dan korbannya selalulah seorang anak.
Chakra yang hendak menghampiri mobilnya itu terkejut melihat dua orang remaja yang turun dari motor dan melepas helm mereka. Ya siapa lagi jika bukan Lia dan Jemian yang baru pulang sekolah.
"Om Chakra?" Lia tak kalah terkejut, segera memberikan salam.
Chakra tersenyum tipis dan melanjutkan kembali langkahnya sampai akhirnya berada di hadapan dua sejoli itu, karena mobilnya tepat di dekat mereka.
Namun, atensi Chakra kini terkunci pada Jemian. Ia ingat jelas Jemian adalah pemuda waktu itu, pemuda yang melihat kelakuan bejatnya, perselingkuhannya tepat di depan mata Jemian. Pemuda yang membawa Shea pergi entah ke mana dan pulang malam, Chakra masih ingat dengan jelas.
"Kamu pacarnya Shea yang kemarin ke rumah kan?" tanyanya begitu saja tanpa tahu bahwa Lia adalah pacar Jemian yang sebenarnya.
Lia terkejut dan menatap Jemian penuh tanda tanya, hatinya gelisah dan terus mencoba membuang pikiran yang terus memintanya untuk dengki.
"Hallo, Om. Apa kabar? Om mau jemput Shea?" Jemian tak mengindahkan pertanyaan Chakra dan malah balik bertanya.
Chakra mengangguk dan dugaannya masih menganggap Jemian ini pacar Shea.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hollow Bliss
Fanfiction[17+] Populer, cantik, kesepian. 🥀 Start : 10 Januari 2022 Finish : 11 Juli 2022 REPUB : Januari 2026
