Selamat malam 😊
.
Up Calon Kowad
.
Semoga suka
.
Jangan lupa Votement'a
Agar author tahu kalian semua suka ceritanya atau nggak
Nggak sulit kok cuman tekan ☆ doang
Kalau sudi comment juga boleh, biar author makin semangat 😊
.
Happy reading 😘
.
.
.
.Mengawali pagi di tempat baru, deretan rumah yang serempak berwarna hijau, rumah khas prajurit TNI AD. Pagi ini bunda Zia dan juga Zivand mengajakku keliling kompleks, mengenalkanku pada penghuni asrama dan juga menunjukkan tempat - tempat yang ada di dalam area asrama, selama ini aku hanya tahu lapangan, tempat di mana biasanya aku berlatih bersama para pria yang saat ini aku panggil ayah, daddy, papah dan papi, para suami dari para wanita hebat yang menyayangiku.
"Hai Aliqa, sudah sah nih pindah?" Sapa mamah An yang sedang berbelanja sayur, tepat di depan rumah dinas beliau, aku tersenyum dan mengangguk, di sana bukan hanya ada mamah An tapi juga tiga orang wanita, satu sudah setengah baya dan dua masih muda, mereka menatapku seakan penuh tanya, membuatku canggung.
"Iya mah." Jawabku.
"Bagus, jadi dekat sama mamah." Kata mamah An, aku hanya mengangguk saja.
Aku menatap bunda Zia yang menatapku, beliau tersenyum dan merangkul bahuku, "Selamat pagi ibu - ibu, izin memperkenalkan anggota baru di rumah saya, ini Maliqa, biasa di panggil Aliqa." Kata bunda dan tiga wanita yang bunda ajak bicara tersenyum mengangguk, "Aliqa perkenalkan, ini Bu Seno istri dari Serma Seno, ini dik Aji istri dari sertu Aji dan ini dik Hadi istri dari sertu Hadi." Lanjut bunda Zia memperkenalkan satu persatu dari tiga wanita itu, aku tersenyum dan mengangguk, menyalami mereka satu persatu dan menyebutkan namaku.
Aku menunggu bunda yang sedang memilih sayuran, tak lama bunda selesai memilih sayur, berpamitan pada mamah An dan juga ibu - ibu lainnya. Bunda membawaku ke sasana, tempat dimana aku pernah melihat papi Nendra bertarung melawan rekannya, sudah bukan hal aneh lagi, sesama anggota olahraga beladiri yongmoodo, olaraga yang tak hanya menguras keringat tapi kadang juga mendapat bonus memar di mana - mana.
Dulu mendiang bang Bara, sering sekali saat pulang latihan badannya memar, aku sempat khawatir dan melarang bang Bara untuk tanding yongmoodo, tapi bang Bara bilang yongmoodo salah satu olahraga beladiri yang wajib dipelajari dan di kuasai seorang prajurit TNI, bahkan bang Bara mulai melatih aku dan juga Aryan.
Aryan, kenapa nama pria itu masih saja gentayangan di kepalaku, kenapa sangat sulit membuangnya, kenapa semakin aku berusaha untuk melupakannya, justru semua kenangan saat bersamanya selalu hadir, oh ya ampun kenapa sulit sekali, aku benar - benar ingin melupakannya.
Sungguh aku kesal pada diriku sendiri, aku yang hingga detik ini masih saja belum bisa move on dari pria yang memanfaatkanku itu, rasa yang aku miliki untuknya selama tiga tahun begitu dalam, aku benar - benar butuh waktu untuk melenyapkannya dari pikiranku.
"Mbak!" Tarikan pada tanganku, oleh pria kecil dan tampan, tak lain Zivand yang sedari tadi menggandeng tanganku, membuat aku tersentak, aku menatapnya.
"Ya, kenapa dek?" Tanyaku.
"Unda mbak, unda anya." Katanya, membuat aku menatap bunda karena Zivand bilang, bunda bertanya.
"Ya bun, maaf."
"Mbak jangan banyak melamun, lupakan yang sudah berlalu, sekarang mbak harus mantap membuka lembaran baru, setuju?"
Bunda Zia, orang baru dalam hidupku tapi selalu tahu dan bisa membaca pikiranku, bunda Zia memang sangat mengerti apapun yang aku rasakan, bahkan dengan lancarnya aku mencurahkan semua isi hatiku pada bunda, padahal bukan Aliqa banget yang dengan mudahnya curhat, apalagi dengan orang yang baru di kenal, tapi dengan bunda Zia benar - benar menjadi pengecualian.

KAMU SEDANG MEMBACA
Cita Setinggi Asa
RomanceMaliqa Paradina, biasa di panggil Aliqa, gadis berusia 18 tahun yang memiliki cita setinggi asa, menjadi melati pagar bangsa, mengabdikan seluruh jiwa raganya untuk ibu pertiwi, seperti abangnya yang telah gugur saat menjadi garda terdepan menjaga i...