14.

288 36 0
                                        

Danica
Ion masih marah?

Sudah satu hari Rigel tidak membalas pesan dari Lia. Sebelum-sebelumnya ia tidak pernah seperti ini. Rigel selalu membalas pesa Lia, bahkam terlambat paling lama hanya setengah jam. Itupun Rigel akan meminta maaf dengan mengirimi pesan sebanyak mungkin.

Tapi kali ini berbeda, Rigel tidak mengirimkan pesan selama satu hari.

"Tumben banget Ion ga bales chat gue, biasanya paling gercep. Apa lagi sibuk ya? Tau ah nyar juga di ngechat." Gumam Lia.

Puk

Tidak lama ada seseorang yang menepuk bahu Lia dan duduk di sebelah Lia.

"Kayanya lo selalu ke perpus sendirian deh."

Lia memperhatikan pemuda itu yang tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya.

"Menurut lo temen gue mau kalau gue aja ke sini?" Tanya Lia.

"Kayanya engga soalnya mereka mager kalau nemenin lo baca buku kan?"

"Nah itu lo tau." Jawab Lia seadanya.

"Yauda deh nanti gue yang bakal nemenin lo ke perpus." Tawar Bian dengan senyum yang selalu lekat di wajahnya.

"Ga perlu Bian nanti ngerepotin." Jawab Lia yang tidak memindahkan pandangannya dari novel.

"Ga perlu minta izin lo sih, perpus kan umum jadi bebas." Jawab Bian dengan nada yang menjengkelkan menurut Lia.

"Terserah." Lia pun pasrah, pasalnya percuma juga ia melarang Bian.

Akhirnya mereka berdua fokus kepada buku masing-masing, lebih tepatnya Lia saja karena Bian lebih fokus menatap wajah ayu Lia.

"Bian lo bisa ga kalau sehari aja ga ngedeketin gue?" Tanya Lia tiba-tiba.

"Ya ga bisa lah, gimana ceritanya orang mau pdkt ga boleh deket-deket."

"Bian kan gue udah bilang ka-"

"Ini perpus tempat buat baca buku jadi diem jangan debat nanti diusir."

Omongan Lia terputus karena tiba-tiba Bian mendekatkan wajahnya, hanya berjarak lima senti saja kedekatan wajah mereka.

Lia langsung memundurkan wajahnya dengan gugup.

"Gausa deket-deket." Katanya yang langsung kembali kepada bukunya.

"Ga bisa soalnya lo lebih cantik kalau deket kaya tadi." Kata Bian.

"Li ibu lo dulu ngidam apaan pas hamil?" Tanya Bian tiba-tiba yang membuat Lia mengernyitkan alisnya.

"Tiba-tiba?"

"Iya gue penasaran kok lo bisa cantik banget sih." Lagi senyum Bian tercetak di wajah tampannya setelah mengatakan kalimat maut ajaran Chandra.

"Ajaran Chandra ya?"

"Loh kok lo tau?" Kaget Bian yang langsung mengubah ekspresi senyumnya menjadi kaget.

"Mending belajar sama yang lain deh jangan Chandra, kalimatnya monoton gaada yang spesial." Kata Lia yang langsung pergi meninggalkan Bian.

"Kampret nih Chandra." Guman Bian yang langsung pergi mengikuti Lia.

"Tapi Li kalau misalkan gue ga belajar dari Chandra lo mau kan buka hati buat gue." Tanya Bian yang mampu mengejar Lia.

"Gatau liat sikon."

"Lo kira mau maling apa gimana segala liat sikon."

"Ya iyalah kalau misalkan gue masih trauma kan brarti gue belum bisa buka hati." Jelas Lia yang langsung memberhentikan langkahnya dan menghadap Bian.

"Makanya ayo gue bantu biar trauma lo ilang." Jawab Bian enteng dengan menyunggingkan senyum manisnya.

"Ogah kalau lo berguru ama Chandra." Kata Lia dan langsung meninggalkan Bian untuk kembali ke kelas.

"Yauda deh gue berguru ama Haje ga sama Chandra biar lo mau buka hati." Kata Bian dengan berteriak agar semua kata-katanya dapat di dengar oleh Lia

VIRTUAL •END✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang