"Makan, ini enak." Byan letakkan dua mangkok mie hasil masakannya. Bukan mie tok, ada campuran sosis dan suwiran daging ayam, bisa dikatakan ini mie paling spesial yang pernah dibuatkan.
Kinan tidak percaya beberapa jam lagi menuju subuh apartemennya kedatangan seseorang. Ini sangat mengganggu.
Datang dengan alasan tiba-tiba kepikiran dirinya, tentu tidak bisa diterima oleh wanita itu. Kalaupun terjadi sesuatu Rozzana orang pertama yang akan dihubungi oleh Kinan.
"Kamu pasti lapar, mau makan pakai nasi?"
Kinan tidak gengsi ketika mengambil mangkuk tersebut dan mulai makan. Benar, ini enak. Pedas dan gurihnya menyatu di lidah.
"Kenapa, kamu seperti tidak menikmatinya. Tidak enak?" Byan menatap ragu wajah datar wanita di depannya.
"Enak."
Kinan makan dengan tenang, itu yang membuat Byan bertanya. "Ini memang enak, Arleta saja belum pernah makan mie seenak ini."
Kinan tidak menanggapi, ia tertarik mengunyah mie buatan laki-laki itu ketimbang berbicara dengannya.
"Tapi aku tidak terlalu suka kalau Arleta makan mie, itu tidak akan bagus."
Byan sangat menikmati makanan sejuta umat ini, mungkin karena laki-laki itu jarang makan makanan ini jadinya sekalian makan malah ketagihan.
"Aku hanya membeli dua bungkus, kalau tahu enak begini beli satu dus tadi." tapi ayam di lemari pendingin Kinan tinggal dua potong, kalau semua dicampur, besok wanita itu pasti makan ala kadar.
"Hello Kinan." Byan melambaikan tangannya tepat di depan wajah wanita itu. "Aku tidak sendiri kan di sini?"
Byan memperhatikan wanita itu, rahangnya bergerak karena sedang mengunyah tidak ada tanda-tanda akan menanggapi ucapannya.
"Oke." Byan sepertinya mengerti bahwa apartemen itu tidak ingin berbicara. "Maaf aku datang malam-malam."
Masih tidak ada jawaban, Byan sedikit kesal tapi tidak ingin membuat wanita itu kesal dengan terus berbicara.
Se-pengamatannya, Kinan bukan orang pendiam karena sebuah sebab pribadi wanita itu menjadi seperti ini.
Mungkin saja karena kehamilan itu. Seketika Byan teringat pernah mengetahui wanita itu, apakah karena hal itu Kinan mendiamkannya?
"Soal ucapanku yang dulu, aku minta maaf." hamil tanpa suami? Saat itu Byan sedang marah hingga melontarkan kata-kata yang menyakitkan.
"Yang mana?"
Byan tersedak. Dibandingkan bahasan beberapa saat lalu wanita itu lebih tertarik dengan topik kali ini.
Tidak cukup segelas air Byan terpaksa bangun untuk mengisi gelasnya yang sudah kosong. Benarkan dia tidak mengingatnya atau sengaja memancing karena aku sudah minta maaf?
Berdeham pria itu kembali ke meja makan. "Mungkin tertelan biji Cabai." Byan kembali bicara sendiri.
"Aku juga jarang makan pedas, kalau pesan makanan pasti ngingetin agar tidak terlalu pedas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Seutas Rasa
RomanceKinan bukan kekasih Nagara tapi Kinan yang bisa mengerti pria itu. Nagara menganggap Kinan sebagai kebutuhan primernya setelah nasi dan tempat tinggal. Ketika dihadapkan pada keinginan orang tua untuk membawakan calon masing-masing, mereka mulai g...
