"Bagoosss ... bukannya beli minum, malah ciuman sama tembok," tegur Tuti.
Aku menoleh cepat padanya, "Siapa yang ciuman sama tembok?" sahutku.
"Ya, elu! Siapa lagi?"
"Kagak, Ntut."
"Dah gak usah bohong! Itu bibir manyun-manyun deket tembok emang mau ngapain?"
"Ya ... gak ngapa-ngapain." Aku menoleh ke depan. Ternyata Milo sudah menghilang. Kebiasaan!
"Jangan-jangan! Lu ciuman sama si Milo?"
"Emang lu liat?"
"Tuhkan! Bener! Wah parah, masa ciuman sama hantu!"
"Tadi di kelas lu ngebet banget pengen nyium juga. Sekarang malah bilang begitu."
"Ya emang, tapi kan gua gak bisa liat dia. Apalagi nyentuh dia."
"Dah ah! Gua beli minum dulu." Bergegas aku menuruni tangga, berlari menuju kantin.
Sekembalinya dari kantin, terlihat Tuti sedang duduk bersama beberapa teman sekelasku. "Ntut!" panggilku.
"Lama banget sih, Kar!" sahutnya.
"Kan antri."
Aku menghampirinya lalu menyerahkan minuman pesanannya. "Sini, deh!" Kemudian mengajaknya ke bangku.
"Lu kagak cerita sama yang lain, kan?" bisikku, sembari berjalan ke bangku.
"Kagak. Semua rahasia lu, aman di tangan gua."
"Baguslah. Tadinya kalau ampe cerita, besok gua kasih makanan dicampur sianida."
"Dih jahat amat."
"Biarin. Biar lu ntar duet sama si Miss Key."
"BTW, Kar. Gimana rasanya ciuman sama hantu?"
"Dingin-dingin empuk."
"Ugh! Jadi pengen."
"Terus, sekarang mana si Milo-nya?"
"Ngilang."
"Bah, habis dinodai, terus di-ghosting."
"Emang begitu. Tiap kali kita sentuhan. Dia pasti langsung ngilang."
"Berarti sekarang tinggal satu kali sentuhan lagi?"
Tiba-tiba suasana hatiku berubah. Sedih sekali. Benar juga ucapan Tuti, kini hanya tinggal satu sentuhan, lalu Milo akan menghilang selamanya.
"Kar? Yee ... malah ngelamun!" tegur Tuti.
"Gua lagi mikirin omongan lu barusan. Sisa satu sentuhan. Abis itu gua gak bakal ketemu dia lagi. Tau gitu, gua mending kejedot tembok aja, daripada harus kehilangan dia."
"Tapi, Kar. Lu kan tau dia hantu. Dunianya aja udah beda sama kita. Suatu saat nanti, lu punya kehidupan sendiri. Nggak mungkin bisa terus sama-sama dia. Jadi antara lu yang bakal ninggalin dia, atau dia yang bakal ninggalin lu. Kalau gua pribadi sih lebih milih ditinggalin."
"Ya ampun, temen gua bijak banget omongannya."
"Yee ... malah ngeledek. Gini-gini, gua keponakan Mario Teguh."
Aku pun tertawa, tapi di kepalaku masih memikirkan ucapan Tuti. Jujur, aku belum berpikir sejauh itu. Masih menikmati kebersamaan dengan Milo.
_______
Sampai bel pulang sekolah berbunyi, aku masih memikirkan Milo. Terutama alasannya selalu menolongku. Padahal jika ia benar-benar mencintaiku, kenapa tidak membiarkan aku celaka saja terus meninggal. Supaya bisa terus bersamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hantu Tampan
Fiksi RemajaKisah pertemanan antara dua dunia, Karra - seorang siswi SMA, tidak sengaja bertemu dengan Hantu Tampan dalam insiden kecelakaan maut. Hantu Tampan itu bernama Milo, cocok sekali dengan rambut dan matanya yang coklat. Namun, sikap tidak semanis Mil...
