Hujan

143 17 15
                                    

"Engh." lengkuh Tifanny yanh baru bangun mengulet merentangkan tangannya ke kanan dan ke kiri.

"Haa enak."

"Kak bangun kita makan malem dulu." kata Tifanny sambil menepuk-nepuk pipi Revan lembut.

sayup sayup Revan membuka matanya, tidak terasa mereka berdua tertidur dengan posisi masih sama.

"Enghh iya fan, maaf ya lu pasti pegel tidur begitu."

"Iya emang pegel kak." saut Tifanny di akhiri kekehannya membuat raut wajah Revan menjadi datar.

"Hehe canda kak canda." kata Tifanny sambil menangkup wajah Revan diulas dengan senyum manisnya

"Gue gak pegel ko, yaudah ayo turun." ajak Tifanny sembari mengandeng lengan Revan tak terasa Revan pun mengulas senyum tipis di wajahnya.

Revan dan Tifanny keluar kamar menuju meja makan yang sudah di singgahin Donald dan Jasmine.

"Kalian udah bangun."

"Udah bun kalo belom bangun terus yang disini siapa?."

"Yakali jurik."

"Yaampun bunda ya kalo ngomong suka bener."

"Gini amat punya orang tua nasib nas.-"

"Arghh." ringis Revan karena Tifanny mencubit lengannya.

"Sakit fan KDRT nih."

"Bodo wlee."

"Cabein fan kalo perlu." saut Jasmine.

"Gak bunda gak bini sama aja."

"Sama apa." kata Tifanny menatap Revan tajam.

"Sama sama cantik maksudnya."

"Ngeles mulu kek bajai kotu."

Seperti biasa mereka makan dalam keadaan hening hanya terdengar denting sendok garpu dan piring.

Donald dan Jasmine saling melirik satu sama lain mengkode dengan netra mata.

Revan yang peka hal itu mengernyit alisnya heran dengan tingkah laku orang tuanya, karena gak bisanya Jasmine dan Donal main kode kodean.

"Bun yah kenapa si."

"Ehh anuh van." kata Jasmine gelagapan

"Kenapa?."

"Anuh van jadi kapan nih ayah punya cucu."

"Haa apa yah cucu." tanya Revan ulang dengan wajah memerah.

"Iya cucu, ayah sama bunda kan udah gak sabar pengen punya cucu."

"Cobaan apa lagi ini tuhan." batin Revan

"Lah ini ngapa pada ngebet bat pengen cucu si." batin Tifanny terheran-heran dengan kedua orangtua dan mertuanya ini.

"Ayah bunda kan tau aku sama Fanny masih sekolah."

"Iya ayah tau tapi kan gak salah van kalo kita pengen cucu."

"Ya tapi yah."

"Udah udah pokoknya bunda mau cucu baby twins." Jamine memotong perkataan Revan.

"Kenapa pada minta baby twins astagaa."

"Kasih kita waktu sampe lulus ya yah bun."

"Iya deh iya tapi kalo bisa jangan lama-lama dong van, bunda udah gak sabarkan ini."

"Iya Revan ngerti ko, tapi Revan cuma minta tolong hargain keputusan Revan sama Tifanny ya bun yah."

"Bukan Revan egois tapi demi kebaikan kita berdua untuk kedepannya nanti."

REVAN [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang