Camping

75 4 0
                                    

Setelah satu minggu istirahat Fanny pun kembali ke sekolah, ada perdebatan sedikit dengan Revan. Fanny yang kekeh mau masuk sekolah sementara Revan yang melarangnya dengan alasan pemulihan dan kalau Fanny tetep memaksa ia pun harus merelakan tidak ikut camping.

Setiba di sekolah, semua mata tertuju ke arah Revan yang sedikit berlari kecil membuka pintu, sontak membuat para murid kaget tak menyangka kalau Fanny akan mengikuti camping.

"Yah kirain bubu bakalan sendiri."

"Yaelah ngapa ngintil mulu si tuh orang."

"Baru mau berduaan bubu pas camping."

"Alhamdulillah cewe gue ikut woi."

"Fanny makin cantik aja rambut pendek."

"Gemes banget si Fan."

Begitulah misah misuh dari beberapa murid, semua teman teman Revan maupun Fanny menghampiri mereka berdua dengan Revan yang sudah membawa keperluan Fanny.

"Sini aku aja berat tau."

"Justru karena berat biar aku aja kamu bawa cemilan aja noh yang entengan."

"Lo berdua lama amat." grutu Andre.

"Macet anjir."

"Iya si tadi juga disono macet." ucap Ryzal

"Lagi maklumin apa Ndre kitakan naik motor bisa sat set sat set lah Revan." timpal Mark

"Iya tadinya gue juga mau naik motor tapi kasian bini gue baru juga rehat udah kena angin bae."

"Iya dah yang udah punya bini kita mah apa atuh." saut Nicho

"Lah apaan orang udah ada lampu ijo juga dari Nisa."

"Apaan si lo Fan." salting Nicho mengaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.

"Haha yaudah ayo buruan masuk bis nanti gak kebagian tempat."

Mereka semua memasuki bis karena kelas Fanny dan Revan satu bis,  Revan dan Fanny duduk berdua sedangkan Nisa dan Illa di belakang pasutri yang sedang bucin bucinnya, sedangkan yang lain duduk di bangku paling belakang.

"Tadi kamu udah minum obat kan ya."

"Udah ko kak."

Namun siapa sangka dengan mereka duduk berdua membuat banyak pembicaraan yang kurang mengenakan dari para murid khususnya kaum hawa.

Revan pun mulai risih dengan ucapan Fanny yang di cap sebagai cewek sasimo, kegatelan, murahan dll.

"Lo pada tuh bisa diem gak sih." amuk Revan ke tujuh temannya dan Fanny tersontak kaget.

"Kak udah gapapa." bujuk Fanny

"Kalau Fanny gadis gue kenapa?." tanya Revan namun tak ada yang berani menjawabnya.

"Kalo lo pada gak suka ngomong depan gue, gak usah bisik bisik kaya tolol pengecut lo semua."

"Bukan Fanny yang kegatelan atau ngejar ngejar gue, tapi emang dari awal gue udah ngincer dan sayang sama dia."

"Mending lo urus diri lo pada sendiri biar gak banyak ngiri sama orang lain, dari pada lo ngurusin hubungan gue sama Fanny gak ada untungnya juga paham lo semua."

Ucap Revan terakhir kali membuat seisi bis benar benar hening tanpa ada suara sedikit pun.

"Kak udah aku gapapa ko, kamu duduk lagi ya." bujuk Fanny yang di turuti Revan

"Haaa." Mark menghembuskan nafas panjang.

"Jantung gue mau copot njir." lanjutnya sambil mengelus dada

"Sama gue juga Mark." timpal Nicho

"Lo tau sendiri Revan kalo udah murka gimana tiga cebong aja di bikin cut sama dia." tutur Willy

"Bener bener." angguk Ryzal membenarkan

•••

Sesampainya di perkemahan Revan dengan sigap membawa barang bawaan Fanny dan menaruhnya di dalam tenda kareNa tenda mereka bersebelahan.

"Makasih kak."

"Sama sama yaudah kamu istirahat dulu sana." ucap Revan mengusap pucuk kepala Fanny lembut.

"Jangan jauh-jauh dari aku inget."

"Mau kemana-mana bilang aku atau minta temenin Illa sama Nisa yah."

"Iyah sayang."

"Love you."

"Me too."

Setelah hampir setengah jam mereka beristirahat dan membereskan barang bawaan mereka, para guru memanggil seluruh murid untuk berkumpul di lapangan.

"Oke semua harap tenang."

"Sekarang bapak akan membagikan kelompok untuk kalian."

"Kelompok pertama. Bara, Tifanny, Ryzal, Akbar, Risma, Meri."

"Kelompok dua. Revan, Rofiq, William, Illa Natalie, Putri."

"Kelompok tiga. Annisa, Nicho, Andre, Mark, Eva, Sri."

"Kelompok empat. Raka, Imron, Indra, Thania, Fitri, Nella." setelah selesai membagikan kelompok mereka semua berbaris dengan rapih.

"Bu saya keberatan." ucap Revan mengacungkan tangannya.

"Ada apa Revan?."

"Saya mau satu kelompok sama Tifanny bu."

"Maaf Revan ini tidak bisa di rubah."

"Loh kenapa gak bisa?."

"Tinggal rubah Bara kelompok dua saya kelompok satu." kesal Revan.

"Sudah peraturannya Revan."

"Ta.."

"Udah Van ada gue ini yang jaga Fanny." sela Ryzal namun tak di terima Revan dan menatap sini Bara.

"Udah kak aku gapapa ko ada Bang Ryzal ini."

"Bukan begitu Fan, mana rela gue lu deket sama mantan lagi." grutu Revan dalam hati.

"Lo jangan macem macem sama Fanny." ancam Revan ke Bara.

"Ck emang gue mau apain bini kesayangan lo ini si  bang." ejek Bara

"Bara." bentak Fanny.

"Kenapa si sayang." Bara mencoba mengusap pipi Fanny dengan jemarinya namun di tepis Revan kasar.

"Wish biasa aja dong bang jago."

"Emang brengsek lo Bar." Revan langsung menarik kerah baju Bara rasanya ingin ia mencabik-cabik orang yang ada di hadapannya saat ini juga.

Dengan muka senga Bara ia pun menantang Revan dengan congkaknya.

Happy Reading guys
See You Next Chapter 💜

26 Juli 2022

REVAN [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang