Brum brum brum
Suara berisik dari kedua motor ninja itu lengkap dengan teriakan dari para penonton.
Bara tersenyum miring menutup kaca helmnya memperlihatkan bagian matanya saja, menarik gas dengan brutal, sebaliknya Revam yang dengan tenang tanpa menghiraukan Bara sama sekali fokus pada area jalan yang sesekali melirik Fanny.
"Lo harus menang Van." tutur Ryzal menepuk pundak Revan.
"Gue yakin Revan pasti menang." lanjut Mark.
"Iya lah harus menang kalo kga taruhannya ayank gue nih." timpal Willy.
Fanny menatap Revam dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Gak usah khawatir gue pasti menang ko." kata Revan lembut menepuk pucuk kepala Fanny membuat amarah Bara semakin memuncak.
Bara dan Revan menatap lurus ke depan dimana seorang wanita berdiri ditengah jalan dengan bendera merah di tangan kanan.
Setelah wanita itu mengangkat bendera keatas, Revan memacu motor ninjanya dengan cepat meninggalkan Bara yang berada di sampingnya tadi dan dengan cepatnya mencapai garis finish.
Teriakan para penonton semakin riuh dikala Revan dengan cepatnya mengalahkan Bara, begitu pun dengan teman-teman Revan dan Fanny yang sejak tadi hatinya ketar ketir sekarang menjadj lega tersenyum lebar.
"Brengsek." umpat Bara.
Revan membuka helm mengibaskan rambutnya dan tersenyum tipis menatap Bara yang berada disampingnya.
"Sekarang lo pahamkan?." ucap Revan dengan bangga.
Bara tersenyum sinis dengan wajah tak ramah.
"Lo cuma beruntung Van." ucap Bara yang turun dari motor mencekam jaket Revan.
"Sampe kapan pun gue gak akan biarin Fanny di tangan lo Fanny tuh cuma punya gue." lanjutnya dengan perasaan menggebu-gebu.
"Perjanjian tetep perjanjian Bar, lo laki tepatin janji lo jangan kaya banci." celetuk Ryzal.
"Gak usah banyak bacot deh lo Zal."
"Yang di bilang Ryzal itu bener lo udah kalah harus terima kenyataan jauhin Fanny." timpal Andre yang sedari tadi hanya menyimak.
"Lo liat ye Van gue bakal bikin perhitungan sama lo."
Bara langsung menaiki motornya menancap gas meninggalakan arena pertandingan.
"Lah bocah udah kalah malah gak terima." celetuk Illa.
"Stt udah jangan begitu."
"Lo juga ngapa belain itu kunyuk mulu si." kesal Annisa.
"Gue gak belain markonah cuma biar gak makin rudet aja."
Illa dan Annisa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya yang satu ini bagaimana bisa orang yang udah disakitin tapi masih bisa memaafkannya begitu saja.
•••
Sesampainya dirumah Revan dan Fanny langsung bergantian membersihkan diri mereka, Fanny yang sudah stand by duduk di atas ranjang memainkan kukunya dengan jantung yang berpacu cepat sesekali ia menggigit bibir bawahnya.
"Ahh gila gue harus gimana ini."
"Kalo nolak permintaan suami dosa nggak ya."
Fanny mengambil HPnya membuka aplikasi go*gle mencari tahu dosa apa tidak menolak permintaan suami.
"Katanya kalo nolak itu dosa, berarti gue harus mau doang aaargh." katanya frustasi Fanny menutup wajahnya dengan selimut berguling-guling di atas ranjang tanpa dia sadari Revan sudah berada di ambang pintu memperhatikan gerak gerik Fanny seperti orang stress.
"Kamu kenapa Fan?." tanya Revan menaikkan sebelah alisnya, Fanny yang mendengarnya terjungkal kaget bergegas duduk menyandarkan badannya.
Revan menghampiri Fanny menaruh kepalanya dicuruk leher Fanny hembusan nafas Revan membuat bulu kuduk Fanny merinding.
"Sial biasanya gak begini juga." batin Fanny merutuki dirinya.
"Sayang kamu gak lupa sama janji kamu kan?." kata Revan dengan suara yang semakin berat.
"Ah sayang apa?." tanya Fanny pura-pura budeg.
"Budeg beneran tau ranya."
"Ihh songong emang, emang mao punya bini budeg." celetuk Fanny menabok lengan Revan.
"Kalo bininya kamu mah ya gapapa lah."
"Hilih halus mulu mas nya."
"Sayang kamu maukan?." tanya Revan sekali lagi.
"Aku gak mau Fan kamu jatuh ketangan orang lain, aku bener-bener sayang sama kamu."
Fanny berpikir sejenak menimang-nimang kemauan Revan.
"Iya sayang aku mau." katanya yakin seyakin-yakinnya.
"Beneran?."
"Iya sayang beneran tapi aku takut."
"Takutnya?." Revan mengernyitkan dahi bingung.
"nanti kalo sakit gimana kan kaya di cerita wattpad yang sering aku baca katanya kalo anuh pertama kali sakit banget." jawabnya polos
"Yaampun sayang gak ko gak sakit janji aku bakalan pelan-pelan."tutur Revan menahan tawanya.
"Bener ya janji."
"Iya sayang yaudah yuk mulai yuk."
Revan memulai mencium kening pipi kanan kiri dan melumat pernah bibir Fanny, Fanny yang awalnya hanya diam kini pun mengimbangi gerakan Revan dan semakin dalam mereka terbawa suasana tangan Revan pun tak tinggal diam.
Revan melepas tautannya menatap Fanny dalam tersenyum manis.
"Aku mulai ya."
TBC
Spam Next Disini ➡️
Bantu vote dan komen sebanyak-banyaknya ya hehe. Makasih banyak.
Happy Reading guys
See You Next Chapter 💜09 Mei 2022

KAMU SEDANG MEMBACA
REVAN [On Going]
Lãng mạn{Follow Dulu Yuk Sebelum Baca} Tifanny Alquenna Handjaya, seorang gadis ceria dan memiliki sifat konyol, namun dia harus meninggalkan masa remaja dan kekasihnya karena perjodohan orang tuanya. "Aku gak mau di jodohin mah, pah. Aku itu punya pacar"...