Bel pulang sekolah berbunyi Fanny, Nisa dan Illa keluar kelas menuju parkiran sekolah.
"Ehh Fan lo ada acara besok?." tanya Nisa.
"Belom tau sa tergantung Kak Revan." Nisa hanya mengangguk paham.
"Fan tunggu." cegar Bara menggengam lengan Fanny.
"Kenapa Bar?." tanya Fanny mengeriyetkan keningnya
"Pulang bareng gue lagi ya." ajak Bara tanpa dosa.
"Bisa-bisanya si kutu udah nyakitin masih ngejar-ngejar." bisik Nisa namun masih bisa di dengar Bara.
"Kalo gak tau apa-apa gak usah sok tau." ketus Bara
"Balik bareng gue ya Fan." ajak Bara sekali lagi sambil membawa Fanny pergi.
Baru beberapa langkah lengan mereka berdua di cegat Revan dengan tatapan ingin menerkam mangsanya.
"Fanny pulang bareng gue." tegas Revan
"Ck memang lo siapa, jangan mentang-mentang senior lo jadi ngelagu."
"Gak usah sok keras dah Bar."
"Lah ngapa dia mantan gue suka-suka gue lah.
Situasi semakin memanas, beberapa murid yang berlalu lalang menghentikan langkahnya memperhatikan mereka berlima, Fanny, Nisa dan Illa hanya bisa terdiam tanpa ada yang berani melerai.
"Ck mantan." kata Revan tersenyum miring.
"Iya ngapa."
"Udah mantan kan, lah gue masa depan Fanny mau apa lo?."
"Anjing lo."
Bara yang hendak mendaratkan pukulan ke wajah Revan, tapi langsung di tangkis Revan.
"Kalo mau ribut diluar sekolah jangan di dalem sekolah.
"Cih oke gue tunggu lo nanti malem jam 10 di tempat biasa kia tanding."
"Oke."
"Kalo gue yang menang lo jauhin Fann dan kalo gue yang kalah lo yang jauhin dia" kata Bara
"Oke deal."
Bara dan Revan saling berjabat tangan dengan tatapan saling meremehkan khususnya Bara yang mentap Revan dengan tatapan meremehkan karena pasalnya tidak ada di kamus Bara kata kalah dalam balapan motor.
Revan langsung mengandeng Fanny, membawanya masuk kedalam mobil, Bara yang melihatnya semakin emosi bukan hanya emosi bahkan nyaris membenci Revan.
Hening!!!
Hanya terdengar suara klakson dari beberapa pengendara, sesekali Fanny melirik Revan yang hanya fokus mengendarai mobilnya.
"Sayang."
"Hmm."
"Jangan terima tawaran Bara ya."
"Kenapa?."
"Aku cuma gak mau jadi makin ruwet, Bara itu gak pernah kalah kak."
"Jadi kamu remehin aku."
"Ehh nggak, bukan gitu maksudnya sayang aku cuma takut."
Revan menepikan mobilnya di pinggir jalan, berbalik menatap Fanny mencakup wajahnya menatapnya dalam dan mencium kening Fanny.
"Kamu gak usah khawatir, aku pastiin bakalan menang dan kalaupun aku kalah aku gak akan kasih kamu ke tangan dia dengan gampangnya."
Mata Fanny berkaca-kaca mendengar ucapan Revan, betapa beruntungnya dia memeliki seorang suami seperti Revan.
•••
Setiba di rumah Fanny terus mengikuti Revan kesana kemari, Revan yang melihat tingkah laku istrinya semakin mengsengajakannya sampai-sampai membuat Fanny tak sadar kalau mereka sedang di dalam kamar mandi berdua.
"Fan."
"Hmm iya yank kenapa."
"Lo mau ngikut gue mandi?."
"Iya ikut." jawabnya polos tanpa mensaring perkataan Revan, Revan mengangguk paham membuka bajunya satu persatu.
"Ehh kamu ngapain?."
"Mau mandi katanya kamu mau ngikut, buka cepet bajunya."
"Ihs halah apaan si kamu tuh." grutu Fanny kesal meninggalkan kamar mandi.
"Lah lah Fan katanya mau ngikut mandi bareng." ledek Revan gemas melihat tingkah laku istrinya.
"Bodo amat."
"Dihh dasar labil woi."
Setelah melakukan rutinitasnya Revan menghampiri Fanny duduk di atas ranjang yang sibuk main HP.
"Kamu lagi ngapain?." tanya Revan yang menaruh kepalanya di curuk leher Fanny.
"Gak ngapa-ngapain."
Sesekali Fanny mengusap pucuk kepala Revan mencatut rambutnya.
"Sayang tolak aja ya ajakan Bara."
"Ko gitu."
"Aku khawatir serius dah suer gak booong."
"Udah kamu tenang aja aku bakalan dapetin kamu seutuhnya pasti."
"Huft yaudah deh."
"Tapi kalo aku menang ada syaratnya ya."
"Apa?."
Revan bangun dari tidurnya menatap Fanny lekat.
"Hmm aku mau ngelakuin layaknya suami istri, aku mau kamu jadi milik aku seutuhnya."
"Haa apa kak."
"Ehh sayang."
"Aku mau kita lakuin itu nanti malem, aku mau kamu jadi milik aku seutuhnya."
"Tapi."
"Plia Fan, aku gak bisa nahan lagi disisi lain aku juga takut kamu jadi jauh dari aku."
Fanny diam beberapa saat menimang-nimang ajakan Revan, yang ada dipikirannya saat ini dia mau melakukannya tapi banyak keraguan di hatinya.
"Hmm yaudah kak aku mau." jawabnya ragu-ragu.
"Seriusan kamu mau gak boong kan."
"Iya kak aku serius aku udah siap."
"Makasih ya sayang."
"Tapi kamu janji ya apapun yang terjadi kamu bakalan sama aku terus dan percaya sama aku."
"Iyah sayang aku janji bakalan disisi kamu terus."
Revan langsung membawa Fanny dalam dekapannya membawanya kedalam mimpi yang indah.
TBC
Spam Next Disini ➡️
Bantu vote dan komen sebanyak-banyaknya ya hehe. Makasih banyak.
Happy Reading Guys
See You Next Chapter 💜27 April 2022

KAMU SEDANG MEMBACA
REVAN [On Going]
Romance{Follow Dulu Yuk Sebelum Baca} Tifanny Alquenna Handjaya, seorang gadis ceria dan memiliki sifat konyol, namun dia harus meninggalkan masa remaja dan kekasihnya karena perjodohan orang tuanya. "Aku gak mau di jodohin mah, pah. Aku itu punya pacar"...