Vote dulu.
Komen dulu.
***
Isvara melangkah menggunakan kruk, memasuki ruang makan. Dia melihat sosok kakeknya yang sudah duduk, tersenyum menunggunya. Matanya tampak cekung dan gelap. Pria tua itu selalu mencoba untuk lebih dekat dengannya.
Tapi Isvara merasakan krisis dan penolakan.
Mereka adalah kerabat sedarah.
Jadi kenapa Isvara merasa kalau sosok yang selalu berusaha bersikap baik padanya itu tidak begitu baik?
Isvara mengendalikan ekspresi di wajahnya dengan cepat. Langkah kruknya menggema di tengah ruang makan yang sunyi. Ada begitu banyak hidangan lezat di meja, aromanya harum dan menggugah.
Namun Isvara tidak memiliki napsu makan yang baik.
"Duduk, Isvara." Irman melihat keraguan Isvara. Senyumannya semakin melebar saat Isvara duduk di kursi yang berhadapan dengannya. "Kakek enggak tahu jenis makanan yang kamu suka. Jadi Sumi hanya memasak semua sesuai dengan preferensi Kakek. Kalau ada yang kamu suka, kamu tinggal bilang. Biar Sumi buatkan."
"Ini baik-baik aja." Isvara mengangguk samar, "Aku nggak punya selera khusus."
Irman hanya menatapnya. Semakin Irman melihat, semakin dia menyukai cucunya ini. Dia memuji, "Kamu sangat cantik. Mirip dengan kedua orang tua kamu."
Isvara tidak tahu harus menjawab apa? Jadi dia hanya menutup mulutnya.
"Aku ngeliat ada cowok yang berdiri di luar, padahal hujan." Isvara mengingat sosok aneh tadi yang dilihatnya. "Dia siapa?"
ekspresi hangat Irman dalam sekejap menggelap. Dia menggebrak meja, "Jangan membicarakannya!"
Isvara terentak. Dia tidak menyangka kalau reaksi Irman akan begitu keras.
Irman tampaknya menyadari kalau perilakunya berlebihan. Dia berdehem, kembali menguasai wajah hangatnya dan berkata, "Kakek nggak bermaksud mengejutkan kamu. Tapi itu orang gila, yang selalu membuat kekacauan di desa."
Isvara tidak begitu yakin.
"Kamu sendiri sudah mendengarnya, kan? Orang-orang di pulau ini nggak diizinkan keluar di malam hari. Tapi anak itu sangat bodoh dan ceroboh. Dia melangkahi aturan desa, berkeliaran di malam hari, jadi ..." Irman menunjukkan kepalanya sendiri dengan telunjuknya, "dia memiliki masalah di kepala."
Isvara merasa aneh. "Apa yang terjadi? Dia hanya keluar malam, apa yang membuat dia gila?"
"Siapa yang tahu?" Irman menggeleng. "Setiap wilayah memiliki pantangan. Aturan harus dipatuhi, mereka yang melanggar akan dihukum."
Saat Irman mengatakan kata 'hukum', ekspresinya menjadi gila dan aneh.
"Ya, mereka akan dihukum."
Kakeknya juga gila. Isvara mengepalkan kedua tangannya. Dia semakin yakin, kalau datang ke pulau ini ... merupakan kesalahan terburuk dalam hidupnya.
***
"Isvara akhirnya datang."
Seorang pria duduk di atas atap rumah, tangan kanannnya memegangi sepotong lengan, tetesan darah masih mengucur menetes menjatuhi genteng, mengalir turun sebelum akhirnya berjatuhan di atas rumput.
Melewati sebuah jendela dengan tirai yang tertutup.
Kalau tirai kamar itu masih terbuka, Isvara mungkin akan melihat pemandangan yang membuat jantungnya berdesir keras. Tetesan darah itu sudah seperti hujan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Bride ; Schadenfreude
HorrorPasca mengalami kecelakaan yang menyebabkan kaki kirinya lumpuh dan ditipu sampai tidak memiliki aset apa-apa di sakunya, Isvara akhirnya menerima undangan kakeknya untuk tinggal di desa agar mereka bisa hidup bersama. Semua warga desa memperlakukan...
