Rumah kakeknya. Tidak ada apa-apa selain gambar rumah besar yang kosong. Banyak pohon berdiri mengelilingi sekitar rumah, ada juga pagar tinggi dari besi yang kokoh. Seolah memisahkan rumah itu dari rumah-rumah lainnya, bangunannya terlihat mencolok dengan banyak garis-garis bengkok di sekeliling rumah.
Isvara menutup buku gambar itu, setelah melihat sekeliling, tidak tahu bisa menyembunyikan di mana? Isvara pergi ke toilet, dia merobek-robek kertas lalu membuangnya ke dalam kloset.
Isvara mengatupkan bibir rapat, ekspresinya aneh sesaat. Dia memiliki firasat, tapi tidak berani menyelidiki apa pun.
Rasa ingin tahu membunuh kucing.
Terkadang ... tidak tahu apa-apa lebih baik dibanding mengetahui terlalu banyak.
Saat Isvara kembali ke kamarnya, dia terkejut karena seseorang sudah berdiri membelakanginya, di depan jendela dengan tirai yang dibiarkan terbuka.
Isvara mengepalkan kedua tangan, sedikit menundukkan pandangan sambil berkata, "Deva, udah hampir malem, tolong tutup tirainya."
Pria itu bukan manusia. Isvara sekarang yakin dengan tebakannya. Tapi dia tidak berani menunjukkan gelagat aneh apa pun, Isvara lebih dari mengerti ... kalau di depan Deva yang seorang manusia, dia tidak berdaya. Jika Deva benar-benar iblis jikininki ... Isvara tidak bisa melakukan apa pun padanya.
Deva mendengar suara serak Isvara, dia terkekeh lalu menutup tirai, berbalik ... melihat Isvara yang sangat pucat duduk di dekat pintu kamar mandi, tidak berani menggerakkan kursi rodanya sama sekali.
"Kamu tau sekarang?" Deva bertanya dengan nada lembut.
Isvara menurunkan kelopak mata, "Saya nggak ngerti maksud kamu."
Hening.
Isvara sangat keras kepala. Deva menatapnya lekat-lekat, ingin melihat dia bisa bertahan sejauh mana? Deva melangkah mendekat, lalu dia berjongkok di depan Isvara, tersenyum menenangkan. Deva mengulurkan tangan, menyampingkan sisi rambut Isvara ke telinganya.
"Isvara ..." Deva berbisik lembut, "menghadapi kamu ... sesekali saya ngerasa nggak berdaya." Deva terkekeh, dia mengusapi pipi Isvara dengan ibu jarinya, "kamu terlalu imut."
Isvara hanya menutup mata perlahan, mengepalkan tangan yang mencengkeram tuas kursi roda, tersenyum susah payah, "Jangan memuji saya berlebihan. Saya nggak lebih dari wanita cacat yang bahkan ditipu dan ditinggalin orang yang paling saya pedulikan."
"Kamu mau membalas dendam?"
Selalu ada harga mahal yang harus dibayar jika meminta sesuatu dari iblis. Bahkan ... walau Isvara sangat membenci bajingan itu, dia masih menjawab, "Apa gunanya membalas kejahatan dengan kebencian? Saya nggak punya keinginan balas dendam atau apa pun."
Deva terbahak-bahak. Siapa yang coba wanita ini tipu? Deva tahu, Isvara juga tahu. Kebencian Isvara pada bajingan itu hampir membuatnya sesak napas. Bertahun-tahun ditipu, diselingkuhi, bahkan uang yang bisa digunakan untuk menopang hidup juga dicuri ... mana mungkin Isvara tidak membencinya sampai mati?
Kalau bukan karena Rafel, Isvara tidak akan begitu putus asa dan datang ke pulau ini untuk menyambung hidup dengan bantuan kakeknya.
Tapi, bahkan walau Isvara berharap bisa mencekik orang sialan itu sampai mati, dia tidak ingin meminta bantuan Deva sama sekali, bahkan enggan untuk menyebutkannya.
Selama Isvara tidak menunjukkan keinginan apa-apa, tidak meminta apa-apa dari Deva ... mungkin ... potensi dia bisa selamat lebih tinggi.
"Saya ingin melihat sejauh mana kamu bisa bertahan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Bride ; Schadenfreude
HorreurPasca mengalami kecelakaan yang menyebabkan kaki kirinya lumpuh dan ditipu sampai tidak memiliki aset apa-apa di sakunya, Isvara akhirnya menerima undangan kakeknya untuk tinggal di desa agar mereka bisa hidup bersama. Semua warga desa memperlakukan...
