22. Diintai Kematian

2.8K 444 53
                                        

Isvara menatap dingin pria yang saat ini menunduk dan menyorotnya, tersenyum jenaka seolah apa yang akan mereka hadapi tidak lebih sekadar lelucon belaka. Bibir Isvara terkatup rapat. Bahkan jika orang lain ingin bermain, terlibat atau tidak ... itu masih merupakan keputusannya.

Isvara berkata pada Deva serak, "Saya ingin istirahat di paviliun."

Deva hanya tersenyum tapi tidak mengatakan apa-apa. Telinga Isvara tuli dari bujukan sekelompok orang yang mengaku sebagai teman. Berpikir ... bahkan walau mereka mati, itu bukan urusannya, tapi jangan libatkan Isvara terhadap sesuatu yang Isvara sendiri tahu konsekuensinya.

Isvara melihat matahari tenggelam di ufuk barat, dia sudah kehabisan waktu. Jadi dengan susah payah dia turun dari kursi roda, menarik paksa pegangan kursi dari Deva. Mereka saling menumbuk netra lagi, lalu Isvara berbalik dan mendorong kursi rodanya, dengan kaki yang pincang dan sesekali hampir jatuh kehilangan pijakan.

"Isvara!" Rafel bergegas mengejarnya, marah di dalam hati karena wanita itu sudah merusak suasana. Walau begitu, di permukaan Rafel masih terlihat sangat khawatir dan perhatian, Isvara yang sekarang ... Rafel sama sekali tidak boleh kehilangan kesabaran.

Rafel menyusul Isvara yang sudah tertatih-tatih dan berkeringat dingin, sesekali dia akan menoleh ke arah matahari memastikan belum sepenuhnya terbenam. Dia melihat ke sisi dan siluet bayangan panjang melangkah di sisinya, giginya bergemelatuk, dia semakin cemas dan gugup.

Bayangan itu begitu panjang dan besar, terlihat seperti monster raksasa yang memiliki banyak tentakel, tidak ... tentakel tidak memiliki 5 jari. Tangan? Itu benar-benar tangan?

Sekujur tubuh Isvara merinding saat dia mendengar suara tawa renyah di telinganya, namun seolah orang lain tidak bisa ikut mendengar, orang-orang itu masih begitu tenang.

"Isvara, ayo kita bersenang-senang." Rafel mencoba membujuknya, dia meraih lengan Isvara, membuat Isvara hampir kehilangan pegangan dan jatuh, Isvara buru-buru mempererat cengkeramannya di kursi, dia menoleh dan menatap Rafel dengan sepasang pupil merah yang menakutkan.

Rafel tercekat, kenapa dia tiba-tiba dipelototi?

"Lepas."

"Isvar-"

"LEPAS!"

Rafel refleks melepaskannya, dia melihat Isvara yang mempercepat laju jalannya. Rafel mencibir dan marah, tapi dia hanya melirik beberapa temannya dan mengintruksikan mereka bisa bermain sementara Rafel akan menyusul dan menemani Isvara di paviliun. Rafel tidak lupa kalau saat ini dia masih harus membujuk Isvara agar bersedia kembali padanya.

Cepat. Cepat. Cepat.

Isvara hampir menangis saat siluet bayangan di sisinya semakin tinggi dan membesar, seluruh tubuhnya hampir basah kuyup, jantungnya berdegup semakin cepat, napas Isvara mulai tersengal-sengal. Tidak ada yang membantunya, Isvara juga tidak meminta bantuan siapa-siapa. Dia tahu jika ingin hidup, hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri saja.

Akhirnya mereka sampai di depan teras pavilun, tapi karena harus menaiki 5 anak tangga, Isvara menggeserkan kursi rodanya, berpegangan ke anak tangga dan merangkak menaikinya. setelah berhasil, dia buru-buru bangun dan melompat-lompat dengan satu kaki menuju pintu.

Cepat. Cepat. Cepat.

Isvara mendengar suara tawa yang semakin keras di telinganya, dia bahkan tidak berani menoleh lagi.

Rafel sudah menyusul beberapa meter di belakangnya, tapi karena Isvara membuatnya jengkel, dia tidak berpikir untuk menolongnya sama sekali, beberapa teman mereka juga mengikuti Isvara, hanya ada dua orang yang memutuskan untuk melihat-lihat ke air terjun.

The Bride ; SchadenfreudeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang