21. Perjalanan

2.7K 426 49
                                        

Kursi roda Isvara didorong Deva. Begitu mereka sampai ke ruang tamu, orang-orang yang ada di sana berdiri, antusias di wajah beberapa orang mereda begitu melihat sosok yang saat ini berdiri di belakang Isvara. Tanpa sadar Rafel juga mengerutkan keningnya.

Rafel dan yang lain sudah menyelidikinya. Tentang Deva yang merupakan seorang guru yang ditugaskan untuk mengajar di pulau ini. Latar belakangnya tidak terlalu jelas, tapi siapa pun yang memiliki mata ... akan mengetahui kalau pria ini cukup 'kaya'. Lihat saja arloji yang melingkar di tangan kanannya, sudah cukup untuk membuat beberapa orang merasa cemburu.

Tidak tahu apa alasan Deva begitu lengket pada Isvara, Rafel hanya merasa pria itu terlalu mengganggu.

"Isvara. Kami mau pergi ke air terjun, kamu mau ikut?" Rafel berpikir ... tidak peduli semenarik apa pun sosok Deva yang satu kepala lebih tinggi darinya, dia masih bukan apa-apa selama pria itu bukanlah orang yang dipilih Isvara. Juga ... sosok Deva bukan hanya tinggi dan tampak kaya, dia juga sangat tampan. Wajahnya itu sudah cukup untuk menjadi modal mencari uang dengan mengandalkan kulitnya saja. Bahkan beberapa selebriti papan atas hampir tidak bisa bersaing dengannya.

Bisa dianggap ... wajah Deva terlalu sempurna untuk menjadi manusia. Rafel tidak yakin pria itu melakukan operasi di mana?

Isvara sedikit tercekik, namun dia masih menjawab serak, "Apa ini nggak terlalu siang? Kita harus sampai di rumah sebelum malam."

"Aku denger ada paviliun kecil di deket air terjun, kita bisa menetap di sana kalo terlalu malem." Rafel tersenyum dan menjelaskan, dia mendekat. Berjongkok di depan Isvara, memindai wajahnya yang pucat, sedikit aneh karena mata Isvara tampak memerah, dia mengabaikannya dan mengimbuhkan, "jadi nggak harus khawatir soal melanggar pantangan."

Sebenarnya orang-orang ini bahkan tidak percaya perihal pantangan-pantangan itu. Ini abad ke-21, mereka tidak mengerti kenapa orang-orang masih berjibaku dengan cerita-cerita mistis yang tidak masuk akal? Deva merasa waktunya tinggal di pulau ini terlalu singkat, kalau dia tidak bergegas mengambil hati Isvara, bukankah mereka hanya akan pulang dengan tangan hampa?

Bertahun-tahun menjadi tunangannya ... mana mungkin Isvara tidak tahu apa yang pria di depannya pikirkan? Namun Isvara tidak menolak, Deva juga sudah setuju. Jadi Isvara mengangguk kecil dan berkata tenang, "Kalo kalian nggak keberatan dengan perjalanan yang akan terhambat karena saya, saya nggak masalah."

Mendengar itu, Rafel dan beberapa temannya gembira. Julia mencibir di dalam hati, bahkan setelah menjadi nona kaya ... Isvara masih tidak belajar dari kesalahannya, dia masih menjadi orang bodoh yang menari di telapak tangan mereka.

Semua kekayaan ini akan sia-sia jika jatuh ke tangan Isvara.

"Saya sudah nyiapin banyak perbekalan andai kalian nggak bisa pulang sebelum malam." Sumi datang bersama tukang kebun yang menenteng beberapa ransel. "Non Isvara dalam kondisi nggak sehat, tolong jaga dia dengan baik."

"Bi Sumi nggak usah khawatir, kami pasti menjaga Isvara." Rafel buru-buru berdiri, menerima satu ransel dan menggendongnya, dua ransel lain diberikan pada temannya. Sumi tampak ragu-ragu memegangi ransel berwarna biru tua, dia menatap Deva beberapa detik. Deva tersenyum, mengulurkan tangan dan menerimanya. Sumi menyerahkan dengan gelisah, lalu dia mengangguk kecil.

Deva yang dari awal sampai akhir keberadaannya seolah transparan sangat tenang, meletakkan ransel di punggungnya, dia berhadapan dengan Rafel yang merasa sedikit terintimidasi karena perbedaan tinggi mereka.

"Saya tau jalan menuju air terjun." Deva tersenyum, matanya membentuk lengkungan, terlihat sangat ramah dan lembut, "mari."

***

The Bride ; SchadenfreudeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang