24. Panggilan

3.5K 450 45
                                        

Tuk. Tuk. Tuk.

Jendela itu diketuk lembut. Berpura-pura tuli, Isvara mengabaikan suara ketukan di jendela yang sangat berhati-hati, seolah hal-hal yang-entah-apa di luar itu khawatir tentang sesuatu.

Tuk. Tuk. Tuk.

Suara ketukan semakin keras. Tidak mendapat respons dari Isvara, juga karena tidak ada siapa pun yang mengawasinya, ketukan di jendela lebih gelisah. Gedoran itu begitu kuat seakan akan memecahkan kacanya begitu saja, Isvara yang meringkuk di tempat tidur memejamkan matanya lebih kuat, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

"Isvara!"

"Isvara!"

"Isvara!"

"Buka pintunya!"

"Buka Jendelanya!"

"Isvara! Isvara! Isvara!"

"Isvara tolong!"

"Sakit, sakit, sakit. Isvara tolong buka jendelanya!"

"Isvara ... gue ninggalin sesuatu di kamar lo. Tolong buka!"

"BUKA!"

Isvara berjengit saat mendengar suara kaca terpecah belah, tangisannya semakin sesenggukkan, dia menggigit selimut kuat-kuat agar tidak menimbulkan suara apa pun. Tubuhnya gemetar semakin hebat. Dia berharap bisa segera turun dari tempat tidur dan melarikan diri. Tapi bahkan Isvara sendiri mengerti tidak ada satu pun tempat yang aman di vila ini.

"Isvara ... gue laper."

"Isvara, Isvara ... gue mau makan."

Suaranya sangat dekat. Semakin dekat, Isvara memejamkan matanya lebih kuat, berusaha mengatur napasnya lambat-lambat, berpura-pura tidur. Dia mendengar suara langkah kaki yang berkeliaran di sekitarnya, mengelilingi tempat tidur seolah tidak bisa menemukan keberadaannya.

Bulir-bulir keringat di pelipis Isvara membasahi bantal, seluruh pakaiannya sudah basah dan dingin. Udara beku itu seolah mencengkeram setiap daging dan tulangnya, suara degupan jantungnya begitu gila seolah akan meledak kapan saja.

Selimut Isvara bergerak-gerak. Seolah ada sesuatu yang menyusup masuk, dia mendengar alunan napas berat yang lebih dekat. Namun tidak peduli apa pun yang terjadi di sekitarnya, Isvara menolak untuk membuka mata.

Dia sangat gigih.

Isvara berpura-pura, bahkan mungkin hantu yang mengelilinginya juga mengetahuinya. Tapi lapisan kertas tipis itu tidak ada yang bersedia untuk menembusnya.

Sangat keras kepala.

"Isvara, waktunya makan malam."

Tiba-tiba terdengar suara seseorang menghela napas, seolah tidak berdaya dengan perilaku tidak masuk akalnya. Orang itu menepuk-nepuk lengan Isvara, gerakannya sangat lembut dan berhati-hati.

Deva.

"Isvara." Deva melihat Isvara masih menolak keluar dari selimut, dia terkekeh geli. Berkata dengan nada hangat dan memanjakan, "oke ... saya sudah menutup tirainya, kamu bisa keluar sekarang."

Deva menurunkan selimut yang menutupi kepala Isvara, melihat Isvara yang berbaring miring terlihat basah kuyup seolah baru saja dikeluarkan dari bak mandi. Bibir Deva berkedut, dia tertawa kecil, "Kamu sangat lucu. Mimpi buruk? Kenapa kamu berkeringat?"

Isvara pura-pura menguap, seolah sepenuhnya baru bangun tidur. Wajahnya masih sembap dan basah, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Saat melirik jam dinding, Isvara mengetahui baru 30 menit berlalu sejak dia memasuki kamar ini ... tapi waktu seolah bergerak lambat. Sangat-sangat lama.

The Bride ; SchadenfreudeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang