26. Mencoba Beradaptasi

2.6K 345 37
                                        

"Deva ... dia juga bilang ada urusan, jadi dia kembali lebih dulu." Nana berkedip. Dia sedikit membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan Isvara, Isvara balas menatapnya, kedua tangannya mencengkeram pegangan kursi roda erat, pelipisnya mulai dilapisi keringat dingin, tapi dia masih bersikeras tidak mengelak.

Ya, lambat laun ... dia masih harus menghadapinya. Saat ini dia terjebak dengan dua orang mati yang mengincar nyawanya, tapi terlepas seserakah apa pun mereka ... keduanya tidak berani meletakkan tangan pada Isvara.

Karena ... Isvara adalah pengantin Deva.

Hanya Deva yang bisa membunuh dan memakannya.

Berpikir, selama dia tetap berpura-pura tidak mengerti apa pun, seharusnya memang tidak ada yang berani memanfaatkan kesempatan itu untuk menyakitinya. Isvara tidak terlalu yakin, tapi hanya bisa bertaruh menggunakan hidupnya sendiri, dengan kaki cacatnya ... bahkan walau dia ingin lari, ke mana dia bisa pergi?

Tidak ada yang bisa menyelamatkannya, tidak ada juga yang ingin menyelamatkannya. Jika Isvara ingin hidup, dia hanya bisa berjalan selangkah demi selangkah, meraba-raba terhadap segala sesuatu yang dia temui, jika dia mati ... ya mati saja.

Isvara mencoba berdamai dengan dirinya sendiri, sejak awal dia tidak pernah menjadi orang yang beruntung. Sering kali, setiap dia berharap dihargai dan dicintai, dia justru dipatahkan dengan berbagai rasa sakit dan keputusasaan, yang menyadarkannya kalau keberuntungan tidak akan pernah berpihak padanya.

Hal-hal yang ingin dia capai, hanya bisa digapainya sendiri, dia tidak bisa mengandalkan orang lain lagi.

Nyawanya sudah ada di ujung tali, namun selama dia belum mati, dia tidak akan mati.

"Isvara ... lo tau, kan?" suara Nana begitu lembut dan penuh bujukan, sangat memanjakan. Matanya menyipit, bibirnya yang pucat terus menunjukkan senyum penuh arti, "lo pasti udah tau."

Isvara mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdentum kuat, bernapas lambat sambil menjawab, "Kalian ditugasin buat bawa saya kembali, kan? Jangan buang waktu. Ayo pergi."

Isvara tidak menyebut siapa yang memerintahkan keduanya. Tapi baik Nana atau Temi, tentu saja mengerti. Isvara terlalu berhati-hati, hampir tidak ada celah yang bisa mereka dapatkan untuk membuktikan kekurangan kata-katanya.

Tapi, seperti yang dikatakan Isvara, mereka diperintahkan Deva untuk mengawal Isvara kembali, ini adalah pengantin tuan mereka, mainan yang digunakan sang tuan untuk menghibur hari-hari bosannya.

Isvara ... adalah sosok yang tidak bisa mereka ganggu.

Jadi Temi mendorong kursi roda Isvara, Nana berjalan di sisinya, sesekali melirik Isvara yang duduk bersandar di kursinya dengan mata tertutup sepenuhnya.

Isvara tidak tahu mereka menempuh jarak berapa lama? Tapi mereka sampai di vila Irman menjelang tengah hari, perjalanannya lebih cepat daripada saat mereka pergi.

"Kalian kembali." Irman sedang berdiri di teras, memegang tongkatnya saat melihat Isvara diantar pulang oleh dua 'teman', "kamu bersenang-senang?"

Isvara yang sampai di depan Irman melirik Sumi yang sedang sedang mengepel lantai, tersenyum sopan begitu mata mereka bertemu. Wajah Isvara tampak pucat, namun dia masih menjawab lembut, "Bagus. Air terjunnya cantik, tapi jadi terlalu jauh."

Jadi dia tidak akan pergi lagi ke sana.

Irman mengangguk setuju, "Yang lainnya nggak mampir?"

"Mereka sibuk." Isvara tidak menyangkal, dia berkata, "Nana sama Temi yang nungguin aku, Kakek ... tolong kasih mereka hadiah."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 02, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Bride ; SchadenfreudeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang