19. Ukiran Tragedi

2.9K 483 46
                                        

Yahuuuuu.

Setelah hampir 7 bulan. Saya tau masih ada di antara kalian yang menunggu. Hahahaha

Kalo ada yang bilang saking lamanya ngga update sampe lupa alurnya, nggak papa. Saya juga sama. Baca ulang aja.

Happy reading~

***

Anak ... tidak, terlalu tidak nyaman untuk memanggilnya anak-anak ketika sosoknya tumbuh sangat tinggi seperti pria dewasa. Isvara tidak menyangka kalau dia akan bertemu lagi dengan sosok yang dituduh Deva sebagai setengah iblis.

Pria itu berdiri beberapa meter di depannya, ekspresinya sangat tenang dan damai. Dia hanya menatap Isvara lurus tanpa mengatakan apa-apa, tidak mendekat atau menjauh.

Isvara juga hanya diam. Sosok di depannya bahkan tidak jelas iblis atau manusia. Isvara tidak berani gegabah memanggilnya, dia sudah diawasi oleh iblis jikininki yang pencemburu, dia tidak mampu menyinggung iblis lainnya.

Saling menatap beberapa detik, pria itu melangkah mendekat. Selangkah demi selangkah, membuat Isvara yang memegangi lengan kursi rodanya menegang, tapi dia sama sekali tidak berani memalingkan wajah.

Mengawasi apa yang akan pria itu lakukan?

Isvara melihat sosok berkaos putih meletakkan sebuah buku di bawah kakinya, tanpa mengatakan apa-apa, dia mundur dan berbalik. Lalu segera melarikan diri.

Isvara yang sesaat menahan napas mengembuskannya perlahan, dia perlahan menunduk, melihat buku apa yang sudah diberikan pria tersebut?

Buku gambar?

Isvara ragu-ragu, namun dia masih membungkuk susah payah, mengambil buku dan meletakkan di pangkuannya. Telapak tangan Isvara berkeringat, dia berkedip-kedip sangsi, lalu memantapkan tekad dan mulai membuka halaman pertama.

"Ini ...," Isvara terkejut.

Di halaman pertama, buku itu menunjukkan seorang wanita yang berbaring di lantai dengan genangan darah, tangan dan kakinya menghilang, wanita itu juga tidak memiliki kepala, perutnya pecah. Di samping wanita itu, ada iblis dengan banyak tangan berwarna kuning yang mencabik-cabik organ dalam korban lalu melahap potongan daging ke dalam mulutnya.

Gambar ini ... Isvara tiba-tiba teringat pada cerita Deva.

Gambarnya seperti gambar anak TK, hampir sulit dikenali tapi ... orang yang menggambarnya jelas menunjukkan upaya terbaiknya. Dia mencoba menunjukkan detail-detail sesuai yang diingatnya.

Baru Isvara semakin yakin ... kalau pria tadi ... memang anak yang baru berumur 7 tahun.

Bum. Bum. Bum. Bum.

Isvara merasa jantungnya akan meledak kapan saja, dia melihat arloji di tangannya lagi, melihat hari menuju petang, Isvara dengan gemetar memasukkan buku gambar itu ke dalam pakaian, menyembunyikan di perutnya. Napasnya sedikit tersengal, entah kenapa ... Isvara merasa akan mendapatkan lebih banyak petunjuk?

Tidak berani lagi berlama-lama di taman, Isvara melihat ke arah pria tadi menghilang, lalu membalikkan kursi roda dan segera kembali memasuki rumah.

Namun dalam perjalanan menuju kamar, di lorong yang pencahayaannya redup, Isvara bertemu Sumi yang sedang menarik tirai satu demi satu, menutupi setiap jendela kaca raksasa.

Isvara tersenyum kecil, "Bi Sumi."

Sumi menghentikan pekerjaannya, dia meluruskan pandangan menatap Isvara. Ekspresi di wajahnya sangat kusam dan muram, dia menghampiri Isvara ... membuat Isvara yang sudah gugup semakin panik. Tanpa sadar Isvara menekan salah satu pahanya, pupil Sumi bergerak melirik kaki Isvara, lalu dia menarik selimut Isvara.

The Bride ; SchadenfreudeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang