Bulir-bulir keringat mengalir dari pelipisnya, wajahnya terlihat tegang dan gugup, giginya bergemelatuk. Isvara melihat dua kepala yang mengintip ke vila itu matanya bergerak-gerak, seolah menyapu setiap orang yang ada di vila dengan sorot gelap. Dua pasang pupil merah itu terlihat menakutkan dan menjijikkan, samar-samar ... Isvara bahkan bisa mendengar suara menelan seseorang.
Isvara buru-buru menundukkan pandangan, jantungnya berdentum keras. Napasnya sedikit sulit dan sesak, telapak tangan yang masih memegang botol itu berkeringat dingin dan sedikit gemetar. Walau begitu ... dia tidak mengatakan apa-apa, bersikap seolah tidak tahu dan melihat keanehan di luar vila.
Bukan manusia.
Isvara yakin dua sosok di luar itu bukan manusia.
Isvara menyesal kenapa dia harus ikut pergi dengan mereka? Walau dia tahu tidak ada satu pun tempat yang aman di pulau ini ... setidaknya dia masih merasa lebih aman di rumah kakeknya. Mata Isvara berembun, dia bernapas lambat, mencoba mengatur ritme udara yang keluar-masuk paru-parunya.
Tidak boleh melihat mereka.
Bersikap seolah tidak menyadari apa-apa.
Selama dia bertindak seakan tidak mengerti apa pun ... dia tidak akan mati begitu saja.
Rasa takut, amarah, kebencian, frustrasi. Isvara merasa dia tidak lama lagi akan gila, dia tanpa sadar melirik Rafel yang tampak muram di dekatnya, pupil Isvara menyusut, tanpa sadar mengekspresikan rasa jijik dan bencinya. Isvara tidak akan lupa ... kalau saja Rafel saat itu tidak menipu uangnya, dia tidak akan terbujuk oleh permintaan kakeknya, dia tidak akan menginjakkan kedua kakinya di tanah terkutuk pulau ini.
"Isvara, kamu nggak perlu terlalu marah." Rafel merasa tercekik karena sorot penuh amarah Isvara, dia mencoba menenangkan diri, menghibur dirinya sendiri kalau saat ini dia harus lebih berbaik hati. "Julia ... dia maksudnya peduli, bukan berarti kami menyalahkan kamu. Bukannya aku atau teman-teman yang lain nggak ngerti, kamu udah sempet salah paham soal hubungan aku sama Julia, jadi ... mungkin masih agak sulit buat kamu biar bisa percaya sama kami berdua."
"Bener kata Rafel, Isvara. Semua orang juga bisa lihat seberapa nggak bersalahnya gue sama Rafel, jadi tolong jangan terus nyimpen prasangka." Julia mengimbuhkan.
Dengan kata lain, dua orang sialan itu menuduh Isvara memiliki hati yang sempit dan sama sekali tidak bisa menilai yang benar dan salah. Dia dibutakan kecemburuan dan marah membabi buta terhadap semua orang.
Isvara bahkan enggan menanggapi dua orang yang sedang berdrama, dia sama sekali tidak berani menoleh lagi ke arah jendela, justru mengisyaratkan, "Tirainya masih kebuka, tolong ditutup sepenuhnya."
Gibran yang paling dekat dengan jendela terkekeh geli, dia mencibir namun masih bicara seolah tidak berdaya, "Isvara, nggak heran lo selalu negatif thinking, hari gini lo masih percaya mitos yang dibuat orang-orang tua." Dia berjalan menuju jendela, Isvara meliriknya sebentar, melihat dua kepala itu masih mengintip, namun seakan tidak bisa melihatnya, Gibran menutup jendela begitu saja.
Isvara semakin ketakutan. Bertanya-tanya ... mungkinkah hanya dia yang bisa melihat dua sosok tersebut? Semakin memikirkannya, semakin Isvara ingin menangis. Dia melirik Deva yang sejak tadi diam di sisinya, hanya terus menatap Isvara dengan senyuman kecil di bibirnya.
Pria ini sengaja!
Isvara yakin Deva pasti sengaja.
Isvara terengah-engah, dia mengatupkan bibirnya rapat dan bertanya serak, "Ada berapa kamar di vila ini?"
Ini adalah vila kecil yang digunakan untuk beristirahat saat mereka pergi melihat air terjun, Isvara melihat beberapa pintu, tapi tidak terlalu yakin. Deva menjawab tenang, "Ada dua kamar."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Bride ; Schadenfreude
HorrorPasca mengalami kecelakaan yang menyebabkan kaki kirinya lumpuh dan ditipu sampai tidak memiliki aset apa-apa di sakunya, Isvara akhirnya menerima undangan kakeknya untuk tinggal di desa agar mereka bisa hidup bersama. Semua warga desa memperlakukan...
