Iblis ini!
Isvara hampir menggigit lidahnya. Dia mencoba mempertahankan ekspresi tenang, seolah bulir-bulir keringat sebesar biji jagung di pelipisnya bukan apa-apa.
Deva sedang mencoba memotong jalur pelariannya. Pria ini ingin menembus satu lapisan tipis yang ada di antara mereka sepenuhnya.
Isvara tersenyum kaku, dia berkata dengan nada serak kurang percaya diri, "Deva ... tolong berhenti nakutin orang-orang. Kalo orang seluar biasa kamu bukan manusia, lalu kami apa?"
Isvara mengambil satu potong ayam di tengah meja susah payah, lalu menyuguhkannya di piring Deva, "Ayo makan. Makasih buat bantuan kamu sejak saya pertama kali datang ke pulau ini. Kapan-kapan, saya bakalan coba masakin sesuatu buat kamu."
Deva melihat sepotong ayam di piringnya, lalu tatapannya kembali beralih pada wajah pucat di sisinya, berpikir ... Isvara ini ... agak sulit untuk dijatuhkan. Bukan sulit membunuhnya tanpa alasan, tapi memakan Isvara yang masih bersikeras berakting sama sekali tidak memberi Deva kesenangan.
Ribuan tahun berlalu. Berkali-kali Deva melaluinya dalam tidur yang panjang. Melihat jumlah manusia di pulau ini semakin banyak dan berkembang, tempat yang dulunya hanya bongkahan batu karang di atas laut kini sudah menjadi pulau kecil yang bisa menampung kehidupan ribuan orang.
Deva adalah iblis yang kuat. Mungkin lebih kuat dibanding bayangan orang-orang. Jikininki yang seharusnya hanya bisa tinggal di satu wilayah, selama dia berpergian bersama pengikutnya, dia bahkan bisa melangkah jauh melewati jarak ribuan mil dari pulau ini.
Memang tidak bisa terlalu lama.
Deva juga bukan tipikal yang senang berpetualang. Ada begitu banyak makanan di 'rumah', kenapa repot-repot mencari yang jauh dan tidak ada?
Pun, manusia adalah makhluk yang tamak dan serakah. Selama dia mengulurkan 'bantuan', orang-orang itu akan datang padanya memberi tumbal dan persembahan.
Deva suka memakan mereka yang dipersembahkan oleh kerabat.
Ibu yang menyerahkan anaknya, suami yang memberikan istrinya, anak yang meninggalkan orangtuanya. Mereka berselisih tentang siapa yang harus mati untuk memperpanjang kehidupan mereka sendiri.
Mereka yang terlahir di pulau ini terikat oleh kontrak hidup dan mati, kapan pun bisa terbunuh selama Deva menginginkannya. Bahkan walau mereka pergi ke luar negeri, cukup dengan satu kata 'datang' darinya, mereka akan kembali dan jatuh ke dalam perutnya.
Ada banyak manusia yang pernah Deva temui. Karakter mereka berwarna-warni, tapi keinginan dan tujuan mereka selalu sama. Bertahan hidup.
Begitu mereka mengetahui keanehan pulau ini, orang-orang itu akan menjadi gila, bersikeras mencari cara untuk melarikan diri.
Tapi ... mereka tidak mengerti.
Sejak mereka datang ke tempat ini, tidak ada jalan untuk kembali.
Deva mungkin melepaskan beberapa orang yang menurutnya tidak cukup enak untuk dimakan, tapi sebagian besar tamu akan berakhir di perutnya, terbunuh atau menjadi gila.
Tapi ... bagaimana Deva harus mengatakannya?
Ini ... pertama kalinya Deva bertemu dengan sosok seperti Isvara.
Isvara mengetahui keanehan pulau ini, dia tahu Deva adalah iblis pemakan manusia, dia mungkin juga sudah menyadari kalau sebagian besar penghuni pulau sudah mati. Atau ... mereka yang hidup sepenuhnya takluk berlutut pada Deva, sama sekali tidak mungkin melawannya.
Isvara tidak histeris, dia tidak gila. Dia ketakutan setengah mati, tapi dia sangat keras kepala. Terus berpura-pura seolah tidak menyadari apa-apa, bahkan diam dalam pelukan Deva walau sepasang matanya yang bengkak jelas beriak panik dan memerah.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Bride ; Schadenfreude
HororPasca mengalami kecelakaan yang menyebabkan kaki kirinya lumpuh dan ditipu sampai tidak memiliki aset apa-apa di sakunya, Isvara akhirnya menerima undangan kakeknya untuk tinggal di desa agar mereka bisa hidup bersama. Semua warga desa memperlakukan...
