Bongkahan es batu itu mencair juga
.
.
.
Selama dalam perjalanan Wulan hanya terdiam dan termenung sedangkan Vale hanya menatapnya iba. Sesampainya di rumah, Vale sudah cukup muak harus bertarung dengan dirinya sendiri dan merasa capek hanya untuk menebak-nebak sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Wulan hingga menyebabkan wanita itu tampak tak bersemangat hidup.
Dengan sangat keras Vale menutup pintu hingga membuat Wulan mematung di tempat saat Wulan berada beberapa langkah di belakangnya.
"Kenapa sih, Ma? Dari tadi ditanyain diem aja. Makanya cerita biar Vale tahu dan paham apa yang sedang Mama rasain sekarang. Vale sudah gede, Ma. Vale bukan anak kecil lagi." Terdengar napas Vale yang memburu. "Mama berhenti bohongin diri Mama sendiri kalo emang sebenarnya Mama sedang tidak baik-baik saja."
Vale mengucapkan itu dengan nada tinggi, ia hanya ingin memastikan apakah tebakannya benar atau salah. Vale ingin mendengar pernyataan langsung itu dari bibir Wulan.
Mendengar hal tersebut terlihat tubuh Wulan terjatuh di lantai. "Anakku sudah besar ternyata, ya," ucapnya dengan nada bergemetar.
Vale berjalan mendekati Wulan lalu memeluknya dari belakang. "Kalo ada apa-apa cerita ke Vale aja, Ma. Vale bukan anak kecil lagi. Jangan dipendem dan jangan juga cerita ke Aditya. Bagaimanapun Adit itu masih masa pertumbuhan, kasian dia kalo harus nanggung beban masalah orang dewasa."
Wulan benar-benar tercengang dengan perkataan Vale barusan. Sungguh bijak dan dewasa, berbeda dengan Vale yang selama ini dikenalnya.
Wanita itu kemudian mendongak dan menoleh, menatap Vale yang kini juga sedang menatapnya. "Maafin Vale ya, Ma. Selama ini Vale ngerasa jahat sama Mama cuman karena Vale ngerasa kalo Mama lebih sayang Aditya ketimbang Vale."
Wulan mengusap buliran bening yang terdapat di ujung kelopak matanya lalu memaksakan untuk tersenyum. "Orang tua itu pasti sayang semua anaknya, Kak. Hanya saja kan, Kak Vale, dulu udah pernah digituin sama Papa dan Mama kini giliran Adik Aditya yang mendapatkan kasih sayang itu." Wulan agak menegakkan badannya lalu mengusap-usap rambut Vale.
"Apalagi Kak Vale sekarang udah gede berarti bentuk kasih sayang Papa sama Mama ke Kak Vale nggak kayak dulu lagi."
Mendengar hal itu, dahi Vale tampak berkerut. "Maksudnya, Ma?"
Hingga terdengar suara salam Aditya dan Kenzo yang membuka pintu tanpa aba-aba.
"Loh Mama? Kak Vale? Ngapain duduk di bawah?" ucap Kenzo dengan gayanya yang agak cadel.
Sontak hal itu langsung membuat Wulan dan Vale cepat-cepat berdiri.
Wulan hanya tersenyum lalu melangkah ke kamar mandi sedangkan Vale mendengus kesal. "Dasar bocil! Gangguin aja!" Kemudian Vale bergegas pergi memasuki kamar, meninggalkan Aditya dan Kenzo yang masih termenung di tempat
***
Vale terbangun dari tidurnya saat mendengar suara berisik dari arah dapur. Ia menguap lalu menggeliat dan meraih ponselnya yang berada di nakas, jam masih menunjukkan pukul lima pagi membuat Vale kembali terpejam. Namun, sinar terang yang sebelumnya mati seakan menebus kelopak matanya dan membuat Vale kembali terbuka lalu saat mendapati Aditya ada di hadapan, membuat Vale pura-pura tertidur lagi.
"Ayo, Kak, bangun," ucap Aditya sambil menarik lengan Vale agar terbangun dan membuat cewek itu dengan sengaja mendorong tubuh Aditya hingga terjatuh ke lantai menggunakan kakinya lalu cewek itu meraih guling dan pura-pura tertidur dengan nyenyak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Lebur (End)
Teen Fiction[Update setiap hari Senin dan Kamis.] Seperti air yang membeku pada suhu 0' c dan mendidih pada suhu 100'c di tekanan 1 atmosfer. Begitu juga kehidupan karena semua unsur memiliki properti agar bisa berubah! Jeovanna Valeria adalah remaja dengan s...
