Energi pun bisa berpindah dari suhu tinggi ke suhu yang lebih rendah.
Begitu pun kehidupan.
.
.
.
Pagi ini Vale terbangun karena mendengar suara ayam berkokok.
Tubuhnya terasa pegal-pegal, mengingat kemarin habis bersih-bersih juga tidur di kasur yang terbilang keras.
Tidak ada spring bed, tidak ada lampu tidur. Pencahayaan hanya bersumber pada lampu yang ada di atas dengan saklar di tembok dekat pintu untuk menyalakan, membuat Vale harus bolak-balik berdiri saat menghidupkan dan mematikan lampu jika akan tidur dan bangun di pagi harinya.
Rasanya aneh. Masih kemarin Vale bisa merasakan kemegahan itu semua tapi dalam sekejap semuanya hilang.
Cewek tersebut menguap lalu membuka jendela kamar. Biasanya yang terlihat adalah pemandangan kota yang sangat cantik, kini hanya pemandangan ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian dengan tali tampar yang diikat di antara kayu sehingga pakaian termasuk—daleman—pun seperti dipertontonkan di depan umum. Atau suara teriakan tetangga yang sedang memarahi anaknya karena bangun kesiangan.
Vale melangkah saat suara Wulan mulai menggema di pendengaran. Ia menghampiri mamanya yang sedang mempersiapkan makanan di meja makan yang tergabung dengan ruang tengah. Hanya ada tempe goreng yang agak gosong dengan nasi putih sebagai sarapan.
"Nggak ada roti atau selai gitu, Ma?"
Wulan yang tampak mengelap meja pun menjawab, "Udah, makan seadanya dulu. Kamu cepat mandi lalu sarapan bareng Aditya sama Kenzi."
Dengan mendengus kesal, Vale pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai mempersiapkan diri, Vale kembali ke meja makan. Di sana sudah ada Aditya dan Kenzi lengkap dengan seragam baru mereka.
"Slebewwww. Cakep bener adik Kakak—eh maksudnya Kenzi doang yang cakep," ucap Vale sambil melirik sinis ke arah Aditya, "yang atunya nggak!"
"Diih, bodoh amat!" jawab Aditya tak kalah ketus.
Beberapa menit kemudian Wulan datang sambil menggendong bayi--tanpa nama--tersebut lalu duduk di kursi.
"Sini, Kak. Duduk."
Vale pun menurut, ia duduk di samping mamanya.
"Cantik." Tiba-tiba saja ucapan itu keluar dari mulut Vale.
"Mau ngasih nama, nggak? Sengaja Mama belum ngasih nama karena Kak Vale kepengen banget punya adik cewek."
Mendengar hal itu mata Vale seperti berbinar. "Boleh, Ma?"
Wulan mengangguk. "Tentu."
Cewek itu tampak berpikir, kemudian menjawab, "Keira aja, Ma!"
"Wah nama yang cantik."
"Iya, dia tuh nama barbie yang ada di film The Princess and the Popstar tahun dua ribu dua belas kalo gak salah, Ma. Vale kepengennya nanti Keira bisa jadi penyanyi lalu bertukar tempat tinggal dan menjalani kehidupan sebagai putri di istana."
Mendengar hal itu, Aditya langsung protes. "Dih, kenapa jadi barbie?"
"Sewot aja!"
Wulan langsung tersenyum kemudian mencoba melerai Vale dan Aditya yang sedang bertengkar saling serang dengan sendok saat mereka duduk menyilang dan berseberangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Titik Lebur (End)
Novela Juvenil[Update setiap hari Senin dan Kamis.] Seperti air yang membeku pada suhu 0' c dan mendidih pada suhu 100'c di tekanan 1 atmosfer. Begitu juga kehidupan karena semua unsur memiliki properti agar bisa berubah! Jeovanna Valeria adalah remaja dengan s...
