"Sial, maksudmu ini apa Rafael?" Ray menunjuk surat permohonan cuti yang tersimpan apik di atas meja nya.
Rafael masih menunduk sopan, "Saya memutuskan untuk cuti Pak, sebentar lagi saya akan menikah. Selama tiga tahun ini juga saya tidak pernah meminta cuti."
"Kalau cuti 1-2 Minggu mungkin aku masih mengijinkan, tapi ini 6 bulan! Kau mau cuti atau mengundurkan diri 6 bulan itu?"
"Saya sudah meminta izin dari Nyonya besar, dan beliau mengizinkan saya untuk mengambil cuti."
Ray kembali menggeram marah, rupanya sang Mami ikut campur. Jika sudah begini, Ray pun tak bisa berbuat apa-apa.
"Tapi Anda tenang saja Pak, saya sudah mencarikan sekertaris sementara yang akan mengambil alih tugas saya selama saya cuti.".
"Saya sudah mencarikan sekertaris yang kompeten dan tepat waktu sesuai standard bapak, sekertaris sementara itu akan datang besok pagi dan langsung mengambil alih tugas-tugas saya."
.....
"Jadi kamu yang akan jadi sekertaris sementara saya?"
"Benar, pak." Jawab Araya mencoba sopan meski sebenar nya ia tak nyaman dengan pandangan Ray, yang memandangi nya intens dari atas sampai bawah seolah menelanjangi nya.
"Fresh graduate? Bagaimana bisa Rafael mencarikan sekertaris yang tak punya pengalaman kerja sepertimu." Ray menggeleng-geleng kan kepala nya seolah tak mempercayai kinerja Araya yang kini menjabat sebagai sekretaris sementara nya.
"Sebelum lulus saya sudah pernah menjadi pegawai magang di beberapa perusahaan, Pak. " Ujar Araya berusaha tetap sopan.
Ray tidak menimpali sama sekali, ia hanya menggerakkan tangan nya seolah meminta Araya untuk keluar.
Araya keluar dari ruangan Ray setelah memberi salam sopan, ia menghela nafas begitu sudah keluar.
"Seperti nya bekerja disini tak akan mudah." Gumam Araya, mengingat bagaimana sifat bos nya tadi dan bagaimana Rafael menggambarkan kelakuan bos nya. Secara garis besar, Araya tahu jika sifat bos nya itu kurang mengenakkan.
Tak lama setelah Araya duduk di kursi nya, telepon yang terhubung langsung ke ruang CEO berdering.
Araya segera mengangkat nya, "Selamat Pagi, bapak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Belikan saya kopi di Cafe seberang perusahaan."
"Baik pak, akan segera saya sampaikan pesanan bapak ke OB."
"Tidak, kamu yang akan membeli nya."
"Maaf?"
"Kenapa? Tidak mau? Kamu mau melawan perintah bosmu?"
"Tidak pak, saya akan segera membeli kopi pesanan anda."
"Cepat, jika dalam setengah jam kamu belum datang, gajimu akan di potong."
"Baik pak, mohon ditunggu pesanannya."
Araya menghela nafas sebelum masuk ke ruangan CEO, sebelum nya ia mengecek jam tangan nya.
'Bagus, ini baru 15 menit,' Untung saja Cafe sedang sepi, jadi hanya Araya satu-satunya pelanggan saat itu.
Tok Tok Tok
"Masuk." Araya segera masuk setelah mendengar sahutan dari dalam.
"Saya membawa pesanan anda, Pak." Araya menyerahkan satu gelas kopi panas sesuai dengan selera yang sudah Rafael beritahu.
"Hot Coffe? Saya mau nya Ice Coffe Araya." Komentar Ray.
"Ah, maafkan saya pak. Saya keliru, saya kira anda lebih menyukai Hot Coffe dibanding Ice Coffe karena menurut yang Pak Rafael bilang begitu."
"Kamu lebih percaya Rafael dibanding saya sendiri?"
"Maaf Pak, bukan seperti itu maksud saya. Biar saya pesan kan lagi kopi seperti yang anda inginkan."
"Tidak usah, keluar."
Meski Araya bingung dengan tingkah bos nya, tapi tak ayal ia menuruti ucapan Ray.
"Araya, mau kemana kamu?" Araya menoleh dengan wajah bingung.
"Saya... mau keluar? Bapak kan yang meminta saya keluar."
"Kamu melupakan sesuatu."
Araya masih mengernyit dengan wajah bingung, membuat Ray berdecak. "Bawa ini bersamamu, saya tidak mau meminum nya." Ray menunjuk kopi yang tadi dibeli Araya.
"Saya harus kemana kan kopi ini, pak?"
"Kamu masih tanya? Mau kamu buang atau minum terserah, saya tidak peduli." Acuh Ray kembali fokus pada pekerjaan nya.
Araya berusaha tersenyum melihat reaksi Ray, rasanya Araya ingin melempar kopi panas ke wajah Ray yang tidak sedikit pun merasa bersalah.
Capek-capek Araya berlari menuju Cafe seberang perusahaan untuk membeli kopi pesanan Ray, tapi saat sudah sampai Ray malah dengan acuh meminta kopi nya dibuang?
'Dasar bos sialan!' Maki Araya dalam hati.
"Kenapa masih disini? Pergi." Titah Ray saat netra nya melihat Araya masih berdiri diam sambil memegang segelas kopi.
Araya menghela nafas pelan, lalu pamit undur diri.
'baru sehari disini sudah ada aja masalah, bagaimana selanjutnya?' Araya mendesah dalam hati, menangisi nasib kedepan nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Boss or Crazy Secretary?
Romance18+ Desclaimer : Semua latar belakang tempat, penyakit, waktu, penamaan tokoh, maupun alur cerita hanyalah fiktif sekaligus imajinasi penulis semata. Jadi mohon maaf apabila ada yang melenceng dari kenyataan, semua nya murni hanya imajinasi. Ray, se...
