Araya dan Lean berdiri di depan supermarket, membawa belanjaan nya masing-masing.
"Biar aku yang bawa, kak." Ujar Lean saat melihat tangan Araya yang penuh, memegang tas kerja dan juga tas belanjaan nya.
"Oh iya, terimakasih ya." Araya dengan senang hati memberikan nya.
Lean menggeleng kecil, "Aku yang harusnya bilang terimakasih ke kakak, kalau gak ada kakak..." Lean meringis, membayangkan apa yang terjadi.
Araya menggeleng pelan, "Gak masalah, kan udah kewajiban kita buat membantu sesama."
"Aku minta no rekening kakak ya?? Biar aku ganti nanti."
"Santai aja," Araya menepuk bahu Lean pelan. "Omong-omong, kok bisa kamu kelupaan dompet?"
Lean sempat menegang saat merasakan bahunya ditepuk, "Ah.. iya.. kayanya aku salah naruh dompet kak," Lean berdehem pelan, "Ponselku juga mati karena habis baterai, mobilku lagi di service, jadi aku gak bisa putar balik ke kantor."
Araya mengangguk mengerti, "Lain kali, jangan sampai ponselmu kehabisan baterai ya saat pulang. Kamu tau 'kan, sekarang kita gak bisa hidup tanpa ponsel?"
Lean mengangguk patuh, "Iya kak, sekali lagi terimakasih ya bantuan nya." Katanya tak enak hati.
"Iya, sama-sama." Araya melihat jam di tangan nya, "Jam tujuh... Kamu udah makan malam?"
Lean menggeleng pelan, "Baguslah, mau makan malam diapart-ku? kebetulan aku tadi belanja banyak untuk stok kulkas"
...
Lean menatap sekeliling, setelah tadi Araya mengajak makan malam bersama, dengan malu-malu Lean mengiyakan.
"Maaf kalo berantakan, aku belum sempat membereskannya tadi pagi." Araya meringis kecil, merapikan sedikit sofa dan meja sebelum mempersilahkan Lean duduk.
"Ah.. Gak apa-apa kok." Lean duduk dengan patuh, mengangguk saat Araya izin untuk pergi merapihkan belanjaan lebih dulu.
Saat Araya meninggalkan Lean sendirian, Lean mulai memperhatikan apartement. Sebuah apartement sederhana namun terlihat sangat hidup karena pemiliknya.
Saat fokus melihat-lihat, tiba-tiba ponsel Araya yang diatas meja berbunyi. Lean mengintip nama penelepon, disana tertulis nama kontak "Pak Raymond".
Lean terdiam melihatnya, tangan nya perlahan mengambil ponsel itu, menaruh nya di belakang bantal sofa sebelum Araya sadar.
Di sisi lain, Araya yang ada di dapur untuk menyusun makanan ke lemari dan kulkas menoleh saat merasa ponsel nya berdering. Menghampiri Lean ke sofa.
"Lean, dengar ponselku bunyi gak?" Tanya Araya
Lean menggeleng, "Nggak, kak."
"Aneh, padahal tadi aku ngerasa dengar suara ponsel.."
"Mungkin perasaan kakak aja?"
Araya mengangguk tanpa banyak tanya, kembali menatap Lean. "Oh iya, aku lupa ngambilin minum. Sebentar yaa."
Araya segera kembali ke dapur untuk mengambil segelas air, menyimpannya di hadapan Lean. "Air putih gak papa ya?"
"Eh, gak papa kok kak. Gak usah repot-repot."
"Nggak kok, aku tinggal dulu ya. Mau ganti baju." Setelah melihat Lean mengangguk, Araya pergi ke kamarnya untuk mengganti baju dengan baju rumahan.
5 menit kemudian, Araya keluar dengan memakai dress rumahan tanpa lengan, dipadukan dengan cardigan kuning. Wajahnya lebih fresh karena sudah cuci muka.
Lean sampai dibuat melongo melihatnya, memang tak jauh beda, tapi aura yang dipancarkan Araya sungguh berbeda. Di kantor, Araya selalu terlihat lebih tegas, ditambah efek make up yang Araya pakai. Tapi sekarang Araya tampak jauh lebih lembut, hangat, dan seolah mudah digapai. Mommy-able sekali auranya.
"Lean?"
"Ah iya?" Lamunan Lean terhenti kala Araya memanggil namanya.
"Mau makan apa? Biar aku buatkan."
"Apa aja kak." Ucap Lean sambil mengikuti langkah Araya yang pergi ke dapur.
"Hmm, aku buat katsu kare aja kali ya?" Kata Araya sambil membuka kulkas, mengeluarkan bahan-bahan.
Lean masih mengintili nya bak anak ayam, menggerakkan tubuh kemanapun Araya bergerak. Membuat Araya terkekeh, "Kamu ngapain Lean?"
Lean tersenyum lebar, "Aku mau bantuin! Boleh, kan?"
Araya tak sanggup menolak saat melihat puppy eyes nya, "Yaudah boleh, kamu potongin sayurnya ya. Aku goreng ayam nya dulu."
Lean mengangguk, dengan lihai beralih ke sayuran dan memotong nya kubik. Sejenak Araya ingat tentang tempo hari Lean yang membawakan nya bekal, pasti Lean sudah pandai memasak.
...
Lean menata piring dan sendok di meja, sementara Araya mengambil air ke dapur. Makanan sudah tersaji diatas meja, mereka duduk di lantai beralaskan karpet menghadap televisi. Apartement Araya tidak ada meja makan, jadi mereka makan disana.
Araya datang kembali membawa 2 gelas air putih, menaruhnya diatas meja. "Ayo makan," Ajak Araya, Lean mengangguk, memberi sendok dan garpunya pada Araya.
Mereka mulai makan dengan damai, sesekali mengobrol ringan. "Bagaimana rasanya?" Tanya Araya di tengah acara makan mereka.
"Umm terasa lebih enak, mungkin karena kita masak bersama?"
"Eh, tunggu Lean. ada noda di bibirmu." Lean membeku kala Araya mendekat dan mengelap ujung bibirnya, terpaku melihat wajah Araya yang hanya beberapa senti dari wajahnya.
"Lean???" Araya menatap mata Lean saat merasa Lean menahan napas nya, memastikan jika Lean baik baik saja.
Lean masih terdiam membeku, menatap mata Araya yang hanya beberapa senti. Tatapan matanya jatuh terus ke bawah, ke bibir Araya yang basah.
"Lean ka-" Ucapan Araya terpotong kala Lean secara spontan mencium bibirnya, membuat Araya membelalakkan matanya.
Beberapa detik setelahnya Lean tersadar, segera memundurkan wajahnya. "M-maaf kak.." Lean terbata, wajahnya memerah.
"Aku akan pulang sekarang," Lean segera meraih jas dan tas kerjanya, menundukkan kepala pada Araya. "T-terimakasih makanannya." Lalu berlari menuju pintu keluar tanpa mendengar jawaban Araya.
Araya sempat melongo melihat Lean berlari secepat kilat, tapi kemudian terkekeh, memegang bibirnya.
"Lucu..."
TBC
Jangan lupa vote yaa guys, jomplang banget nih sama view nya. Aku usahain cepet up kalo rame 🙌🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Boss or Crazy Secretary?
Storie d'Amore18+ Desclaimer : Semua latar belakang tempat, penyakit, waktu, penamaan tokoh, maupun alur cerita hanyalah fiktif sekaligus imajinasi penulis semata. Jadi mohon maaf apabila ada yang melenceng dari kenyataan, semua nya murni hanya imajinasi. Ray, se...
