15

5.1K 162 6
                                        

Pagi hari keesokan nya, Araya sudah di hadapkan dengan Ray yang membawa paperbag berwarna coklat.

Araya kini berada di ruangan Ray, duduk tepat diatas sofa yang sering dipakai Ray untuk sekedar beristirahat.

Ray sendiri sibuk mengeluarkan isi paperbag sementara Araya hanya melihat apa yang lelaki itu lakukan.

Ray mengeluarkan kotak makanan satu persatu dari paperbag, menata nya diatas meja dengan rapi.

"Apa-apaan ini, pak?" Setelah lama diam, akhirnya Araya angkat bicara.

"Apalagi? Aku memasakkanmu sarapan seperti yang dilakukan bocah kecil itu untukmu. Tentunya, masakanku pasti jauh lebih enak daripada miliknya." Ray tersenyum bangga.

"Bapak? Masak semua ini sendiri?" Anggukan menjadi jawaban pertanyaan Araya.

Araya yang melihat anggukan Ray sontak menahan tawa, tak pernah terbayangkan baginya melihat sosok yang amat sangat menyebalkan itu memasak. Apalagi dengan bayangan jika Ray memaki celemek berwarna merah muda.

Tentu saja reaksinya disambut dengan delikan pria itu, "Kau tidak percaya?"

"Bukan itu maksudku." Memang sulit untuk percaya, tapi ketika melihat tangan Ray yang banyak luka, luka lecet yang melepuh karena panas dan bahkan luka irisan, mau tak mau Araya percaya.

Araya dengan refleks menarik tangan Ray untuk diperiksa, "Ah ini, hanya luka kecil. Aku sudah terbiasa terkena luka," Santai Ray, menyepelekan.

"Kenapa tidak segera diobati?"

"Tidak sempat, aku buru-buru tadi karena hampir telat." Ray mengambil sendok, memberinya pada Araya.

"Cobalah, ini kubuat dengan ISTIMEWA. lebih ISTIMEWA dari semua makanan yang ada." Ujarnya sembari menekankan kata istimewa.

"Bagaimana?" Tanya Ray, berusaha tak terlihat antusias tapi justru terdengar begitu antusias.

Araya mengunyah terus, agak asin sejujurnya. "Yah... cukup enak," jawab Araya, yang disambut dengan senyuman bangga -yang terlihat sombong ala pria itu.

"Aku tau aku memang pandai dalam hal ini, lebih enak dari buatan bocah itu 'kan?" Tersenyum sombong. Ray lagi-lagi mengungkit, tak ada habisnya.






...

Setelah selesai makan, Araya pamit untuk kembali ke ruangan nya. Membuat Ray sedikit kesal karena waktu nya bersama Araya hanya sebentar, tapi kekesalan itu tak berlangsung lama. Araya kembali dengan membawa plester luka.

"Motif nya mungkin sedikit terlihat mengganggu, tapi ini akan berguna untuk sementara," Araya memasang plester bermotif princess yang berwarna pink di beberapa luka Ray.

"Ini punya keponakan saya," Lanjut Araya, melihat Ray terdiam, membuat Araya berspekulasi dia membenci plester ini. Padahal tidak, dia sedang menahan diri untuk tidak tersenyum mendapat perlakuan manis dari Araya.

Setelah selesai, Araya izin pamit lagi. Kali ini benar-benar pergi. Tapi Ray menahan nya, membuat Araya terhenti.

"Malam ini pergi dengan aku ke rumah."

"Ya?"

"Mami ingin bertemu kamu."

"Maaf pak, saya tidak bisa melakukan nya lagi. cukup malam itu saya pura-pura, silahkan cari wanita lain untuk jadi pacar bapak." Araya melepaskan tangan Ray, berjalan pergi.

Tapi Ray tak tinggal diam, ia segera menyusul Araya yang hendak membuka pintu, menarik tangan Araya dan mengukung nya ke tembok.

"Pak-"







...

TBC
Hai, it's been a long time ya?
Awalnya aku mau drop semua cerita dan tutup akun, tapi sayang gak sih? So i decided untuk tamatin dulu cerita yang aku mulai, baru setelah itu bisa selesai.
Dan karena udah lama banget, aku jadi agak lupa dan sedikit bingung gimana lanjutin alurnya. Semoga suka ya sama alur yang sekarang, see you

Crazy Boss or Crazy Secretary?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang