"Sial." Ray terus mengumpat kesal, sekarang pukul setengah delapan malam. Ray sudah menunggu kedatangan kekasih sewaan nya dari pukul jam 6 sore.
Namun sampai sekarang masih belum ada kabar dari kekasih sewaan nya.
Memang sejak kejadian dimana sang mami mengancam untuk membawa pasangan di acara ulang tahun kakek nya, Ray sudah berniat menyewa kekasih sewaan sebagai pasangan palsu.
Tentunya jika Ray mau, Ray bisa saja memilih satu diantara wanita yang menempeli nya. Tapi Ray tidak mau, ia tidak mau sampai harus berhubungan dengan wanita yang merepotkan. Jadilah ia menyewa kekasih sewaan untuk jadi pasangan pura-pura nya.
"Sial, kapan dia datang? Aku akan benar-benar membunuhnya jika dia tidak datang." Jenuh menunggu, akhir nya Ray memutuskan menelpon agensi kekasih sewaan nya.
Rahang Ray mengeras saat mendengar kabar bahwa kekasih sewaan nya tidak bisa datang karena kecelakaan dalam perjalanan kemari.
Sayang nya, kekasih sewaan yang ber gender wanita di agensi itu pun tidak ada yang mempunyai jadwal kosong. Hanya pria yang tersisa.
Ray memijit kepala nya pusing, kalau sudah begini ia harus bagaimana? Haruskah ia menyewa pria sebagai kekasih?
Ditengah kebingungan nya, tiba-tiba ia mendapat telpon dari mami nya.
Ray mengangkat panggilan telpon, dan langsung disuguhi omelan mami nya.
"RAY! KAMU BENAR-BENAR! KENAPA BELUM DATANG SAMPAI SEKARANG? HUH?!"
Ray meringis pelan, "Aku sedang dalam perjalanan."
"Kamu tidak berbohong kan, Ray? Kamu akan tahu resiko nya jika berbohong. Acara makan malam dimulai pukul 8 malam, jika kamu tidak datang, Mami benar-benar akan lepas tangan kali ini." Ancam sang mami, lalu menutup telpon secara sepihak.
Karena tak ada pilihan lain, Ray akhir nya memutuskan untuk menyewa pria sebagai kekasih palsu saja.
Tak peduli apa kata orang, Ray hanya tidak ingin mengikuti perjodohan-perjodohan yang memuakkan itu.
Ray mencari nomor telpon agensi tempat bernaung nya para kekasih sewaan, pada saat itu nama kontak yang tertera di bagian atas layar handphone nya membuat Ray berpikir dua kali.
....
Araya berdiri di depan gedung apartemen dengan setelan jas formal nya.
Pukul setengah delapan malam, tiba-tiba bos nya menghubungi dan memberi perintah untuk bersiap-siap karena akan segera dijemput.
Tentu saja Araya bingung, untuk apa bos nya menyuruh Araya bersiap-siap di pukul setengah delapan malam?
Tapi Araya lebih memilih menuruti perintah bos nya daripada harus kehilangan pekerjaan.
Sepuluh menit menunggu, mobil sport berwarna silver berhenti di hadapan nya.
Perlahan kaca menurun, menampilkan Ray yang terlihat rapi dan lebih tampan dengan jas abu tua.
Araya sempat mengagumi Ray sekilas sebelum kembali sadar setelah mengingat sifat sang bos yang menyebalkan.
"Masuk." Titah Ray singkat yang langsung dituruti oleh Araya.
Ia duduk disamping kemudi atas perintah Ray.
Sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang ada diantara mereka. Araya tak berani bertanya mereka akan pergi kemana karena sebelum nya ia pernah bertanya seperti itu, dan dijawab dengan kalimat-kalimat yang tajam dan menusuk.
Setelah keheningan yang menyesakkan, akhir nya mobil memasuki pekarangan mansion yang megah.
Araya memandangi mansion mewah itu dengan pertanyaan yang bercabang dikepala nya.
Tanpa berkata-kata, Ray berjalan keluar dari mobil menuju mansion. Araya mengikuti nya tanpa mengeluh.
Baru setelah berada di depan pintu, Ray menghentikan langkah nya agar bisa sejajar dengan Araya.
Araya semakin bingung, biasanya Ray tak akan peduli jika ia berjalan di belakang nya, bahkan Ray lebih sering meninggalkan Araya di belakang.
Mereka berdua berjalan beriringan ke dalam mansion, suasana mansion terdengar berisik, seperti ada sebuah acara.
Ray berjalan menuju ruang makan yang sudah di penuhi orang-orang.
"Nah, akhir nya yang ditunggu datang juga." Suara wanita dewasa membuat perhatian semua orang berpindah pada Ray.
"Kamu bawa pacar kamu?" Tanya sang mami menyelidik.
Ray mendekatkan tubuhnya pada Araya dan merangkul pinggang nya.
"Ya." Jawab nya padat dan singkat, membuat orang-orang disana terdiam selama 5 detik lalu bersorak heboh.
Berbeda dengan Araya yang justru menoleh dengan wajah bingung nya ke arah Ray.
"Pak-"
"Panggil saya Ray." Ray berbisik ditelinga Araya membuat nya terlihat seperti Ray sedang mengecup sisi kepala Araya.
Kemesraan kedua nya tak luput dari mata semua orang, membuat mereka semakin heboh dengan satu-satunya lelaki dalam jajaran anak juga saudara mereka.
Memang jika diitung, diantara saudara kandung serta saudara sepupu nya yang lain, hanya Ray lah satu-satunya lelaki.
Kecuali anak dari kakak dan sepupu nya yang sudah menikah, semua nya justru laki-laki. Yang paling besar berusia 18 tahun dan yang paling kecil masih dalam kandungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Boss or Crazy Secretary?
Romansa18+ Desclaimer : Semua latar belakang tempat, penyakit, waktu, penamaan tokoh, maupun alur cerita hanyalah fiktif sekaligus imajinasi penulis semata. Jadi mohon maaf apabila ada yang melenceng dari kenyataan, semua nya murni hanya imajinasi. Ray, se...
