Araya menghela nafas lelah, akhirnya setelah bekerja lembur selama 3 bulan ini, Araya bisa beristirahat sekarang.
Besok adalah akhir pekan, terkadang Araya akan tetap bekerja atas perintah bos nya.
Araya sebenar nya lelah, tapi ia tak bisa protes karena gaji nya sebanding dengan kerja keras nya.
Bahkan Araya mendapat bonus lebih besar jika tetap bekerja di akhir pekan, Araya juga tak bisa menolak karena dalam kontrak kerja nya dituliskan bahwa Sekertaris harus siap sedia bekerja bahkan jika di akhir pekan atau tanggal merah.
Araya hanya bisa bersabar sambil menanamkan pikiran beberapa bulan lagi masa kontrak akan berakhir.
Tapi pekan ini entah mengapa bos nya berbaik hati memberikan libur akhir pekan.
Araya pulang pukul sembilan malam, dan sampai dirumah pukul sepuluh malam karena jarak perusahaan dan apart nya yang cukup jauh.
Bukan nya tertidur, Araya justru menyalakan laptop dan membuka aplikasi berwarna Orange.
Tak ada orang yang tahu, Araya adalah seorang penulis novel dewasa. Ia aktif di berbagai platform kepenulisan dan berhasil mencetak beberapa buku fisik juga.
Araya sengaja menyembunyikan identitas, karena awalnya ia hanya berniat bersenang-senang dengan menyurahkan fantasi nya sebagai female dominant melalui tulisan.
Tak disangka, tulisan nya diminati sehingga Araya bisa mencetak beberapa buku dan bekerja sama dengan penerbit besar.
Asyik menulis hingga tak sadar jika jam menunjukkan pukul 2 malam. Araya menguap lebar, mata nya sudah lelah, akhirnya ia memutuskan untuk tidur dan melanjutkan naskah nya besok.
Tapi sebelum itu, Araya mengirimkan naskah nya pada Editor yang sudah berkali-kali menelpon untuk mengingatkan agar Araya segera menyelesaikan naskah nya.
Araya menguap, matanya masih fokus menonton film yang ada di hadapan nya.
Tring Tring
Dering telepon memecahkan fokus nya, ia berdecak kesal. Lalu meraih handphone nya yang berada diatas meja.
Raut wajah Araya semakin memburuk melihat nama penelepon yang tertera di layar.
Dengan malas, ia mengangkat panggilan itu dan menempelkannya di telinga.
"Selamat malam Pak Raymond, Ada apa hingga anda menelepon saya malam-malam?"
"Bersiaplah, pukul 8 saya akan menjemputmu."
"Ma-"
Ray menutup panggilan nya sepihak, membuat Araya menghela nafas kesal.
Araya menyimpan semangkuk popcorn di pelukan nya keatas meja, lalu dengan dongkol menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.
Setengah jam kemudian, Araya sudah siap dengan setelan formal nya.
.....
Dan disini lah Araya sekarang, berada di tengah keluarga Divanes yang sedang makan malam keluarga.
Makan malam keluarga ini adalah perayaan ulangtahun Kakek Dama yang ke-80.
Meja makan tampak penuh sekarang, selain karena makanan, tapi juga karena anggota keluarga Divanes yang banyak.
Keluarga Divanes dimulai dari kakek Ray mempunyai 4 orang anak, semuanya perempuan kecuali Ayah Ray. Adapun sepupu dan saudara kandung Ray yang berkelamin perempuan ada 12, hanya Ray satu-satunya lelaki.
Dari ke-12 saudara perempuan Ray, yang sudah menikah ada tujuh.
Meski begitu, keponakan Ray justru semuanya lelaki. Terhitung ada 10 keponakan lelaki Ray, yang paling besar berusia 18 tahun dan yang paling kecil masih berada dalam kandungan.
Ruang makan yang sangat besar terasa kecil, dan sangat bising.
Ada suara teriakan para orang tua yang menyuruh anak nya makan, teriakan anak-anak yang bermain, ada juga suara tangisan yang memekakkan telinga.
Araya seketika merasa pusing dengan pemandangan didepannya, pantas saja bos nya itu tak pernah mau mengikuti acara seperti ini.
Tak hanya itu, Araya juga dibombardir pertanyaan begitu duduk di salah satu kursi meja makan.
Dimulai dari nama, pekerjaan, hingga ada yang bertanya tentang hobi Araya.
Araya menjawab nya dengan sopan meski dalam hati merasa lelah dan dongkol.
Sedangkan Ray, pria itu bahkan tidak peduli saat Araya di sudutkan berpuluh-puluh pertanyaan.
Karena merasa sesak, Araya akhirnya menghindar dari jangkauan mereka dengan pura-pura izin ke toilet.
Araya keluar dari toilet 20 menit kemudian, saat keluar ia dikejutkan dengan Ray yang menyandar di tembok sisi toilet.
"Pak Ray?" Ray yang sedang menyandar sambil menutup matanya berdiri tegak begitu mendengar suara Araya.
"Bapak! Maksud bapak ap-"
Perkataan Araya terpotong begitu Ray meraih pergelangan tangan nya dan menariknya.
"Pak, kita mau kemana?" Tanya Araya bingung saat Ray justru membawa nya keluar menuju pintu samping.
"Mobil." Ujar Ray singkat, tanpa menoleh ke belakang.
"Tapi tas saya.."
"Ada." Jawab Ray ambigu, membuat Araya bingung.
Mengerti dengan kebingungan Araya, Ray melepaskan cekalan tangan nya dan membuka pintu mobil.
Di dalam mobil sudah ada tas Araya.
"Masuk." Titah Ray, kemudian segera menginjak pedal gas setelah Araya masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Boss or Crazy Secretary?
Romance18+ Desclaimer : Semua latar belakang tempat, penyakit, waktu, penamaan tokoh, maupun alur cerita hanyalah fiktif sekaligus imajinasi penulis semata. Jadi mohon maaf apabila ada yang melenceng dari kenyataan, semua nya murni hanya imajinasi. Ray, se...
