12

15K 408 1
                                        

Araya menyimpan alat makan nya, lalu mengambil tisu untuk mengelap mulut nya dengan anggun.

Kemudian dia mendongak untuk melihat Lean yang asyik dengan kegiatan nya sendiri. Tatapan Araya jatuh pada sudut bibir Lean yang terdapat sedikit saus.

Dengan refleks, tangan nya menghapus noda itu dengan tisu yang sudah ia pakai.

Lean yang mendapat serangan tiba-tiba terkejut, ia semakin terkejut kala wajah Araya sangat dekat. Lean bahkan bisa merasakan deru nafas hangat milik Araya.

"Eh.." Araya menjauhkan kepala nya dari Lean, membuat pemuda manis itu juga mendapatkan kembali kesadaran nya.

Lean merona, pipi nya bersemu merah. Tapi Araya tidak bisa melihat itu.

"Kamu sudah selesai makan?" Tanya Araya saat Lean meminum minuman nya.

Lean mengangguk pelan, "Mau disini dulu atau langsung pulang?" Tanya Araya kembali.

Lean meneguk minuman nya hingga habis, "Ah, aku ingin pergi ke suatu tempat dengan kakak. Kakak mau?"

Tanya Lean malu-malu, kepala nya menunduk dan sekali-kali mencuri pandang pada Araya.

Araya tersenyum, tangan nya meraih wajah Lean dan mencubit pipi nya pelan.

"Mau dong,"








•••


Araya mengikuti Lean yang sudah masuk lebih dahulu, matanya memandang sekeliling.

"Lean, kamu serius pergi kesini?" Araya bertanya saat kedua nya sudah duduk di kursi sebuah club malam.

Lean yang sedang memesan minuman menoleh, "Iya kak, emangnya kenapa?"

"Ke club malam?" Araya kembali bertanya, pasalnya yang Araya tahu Lean itu cowo polos yang masih belum mengerti apa-apa.

Lean meminum segelas sampanye dengan sekali teguk, "Iya kak." Jawabnya bangga.

Lean mendapatkan rekomendasi tempat ini dari teman kerja nya. Katanya, jika Lean membawa wanita ke club malam Lean akan terlihat keren dimata wanita itu.

"Saya ga nyangka loh Lean, saya kira kamu cowo polos yang gatau apa-apa." Araya menyeringai sambil meneguk sampanye yang tadi dipesan Lean.

Lean memiringkan kepala nya, "Emang apa yang Lean tau?" Tanya nya, sementara tangan nya kembali meneguk sampanye gelas kedua nya.

Araya mengernyit, "Kamu tau tempat apa ini, Lean?"

"Ini? Tempat pesta!" Araya menganggukkan kepala nya, ya ga salah juga. Ini kan tempat pesta.

"Lean tau tempat ini dari teman Lean! Katanya, kalo Lean bawa cewe kesini, Lean bakalan keliatan keren! Lean keren ga kak?" Tanya nya polos.

Araya berhenti meneguk sampanye nya, "Lean, sebelum nya kamu pernah kesini?"

"Em em," Lean menggelengkan kepala nya dua kali. "Ini pertama kali nya Lean kesini, tapi kakak jangan khawatir. Tada! Lean udah nyewa salah satu kamar yang ada disini! Kata temen Lean, Lean harus bawa cewe Lean ke kamar habis itu kita olahraga bareng deh! Supaya cewe itu jatuh cinta sama Lean hehe.." wajah Lean memerah, mulut nya terus mengigau membuat Araya yakin bahwa ia mabuk.

"Kamu udah minum berapa gelas sampanye?"

"Satu... Dua.." Lean menghitung menggunakan jarinya, alis nya menukik menandakan betapa seriusnya Lean menghitung.

"Lima!" Lean menjukkan sepuluh jari nya dengan semangat.

Sekarang Ayara yakin bahwa Lean benar-benar mabuk, dia menaruh gelas sampanye nya. Kemudian menghampiri lelaki manis itu.

"Kamu mabuk Lean, Ayo pulang." Ayara mencoba menarik Lean agar berdiri.

Lean menurut, dia berdiri tapi langsung limbung saat kaki nya menyentuh lantai.

Untung nya Ayara bisa menangkap nya dengan baik, "Lean gak mabuk~ Lean ga mabuk kakak!" Lean menduselkan kepala nya yang ada di bahu Ayara.

"Kamu mabuk, ayo pulang." Ajak Ayara lagi.

Lean mengangkat kepala nya yang di bahu Araya, kemudian menghentakkan kaki nya ke lantai.

"GAMAU! GAMAU! GAMAU! LEAN GAK MABUK! Lean gamau pulang~ Hiks gamau pulang~" Teriak Lean dengan isakan diakhir kalimat.

Araya harus menanggung malu kala semua perhatian tertuju pada mereka, ia menarik tubuh Lean mendekat.

Lean yang mabuk malah memeluk erat Araya, "Iya, kamu ga mabuk kok. Tapi kita pulang ya."

"Engga! Lean mau nginep disini! Lean gamau pulang!" Kekeh Lean lagi, ia menghentakkan kaki nya di pelukan Araya.

"Denger Lean, kalau kamu ga nurut. Saya bakalan tinggalin kamu disini." Ujar Araya tegas, membuat Lean menciut.

"Tapi gamau pulang hiks... Mau sama kakaaak..," Lean merengek, air mata berlinang dipelupuk nya.

"Iya sama kakak, Lean pulang ke apart kakak ya."

"Ke apart kakak? Yee! Lean pulang sama kakak!" Lean berseru senang.

Araya merangkul bahu Lean, membawa nya pergi dari sana.

"Araya..." Tapi sebelum itu, suara bariton menghentikan langkah kedua nya.












TBC

Crazy Boss or Crazy Secretary?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang