Di dalam kamar, Araya duduk di tepi kasur sambil menunggu Ray selesai mandi, netra nya menatap sekeliling, Kamar Ray berwarna putih dengan di dominasi barang berwarna hitam.
Sampai netra nya berhenti di satu titik, sebuah kotak warna pink yang mencolok. Sangan kontras dengan isi kamar yang dominant hitam, Araya mendekati kotak itu penasaran, mengambilnya.
Disisi lain, Ray baru keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Menatap kaget saat Araya memegang kotak pink itu, di dalam nya ada rahasia yang Ray sembunyikan.
"JANGAN DIBUKA!" Teriak Ray spontan, mencoba meraih kotak pink itu yang naasnya justru terlempar ke lantai hingga isinya berceceran.
"Sial.." Bisik Ray, sementara Araya menatap barang itu dengan terkejut. Sepasang vibrator.
Keheningan terasa sejenak, sebelum Araya menunduk, meraih vibrator itu.
"Sepertinya masih baru ya?" Kata Araya, meneliti vibrator itu.
Wajah Ray memerah hingga ke telinga, merasa malu Araya menemukan barang yang ia rahasiakan.
"Itu-"
"Mau mencoba nya?"
...
Ray berbaring di ranjang, masih menggunakan sehelai handuk. Araya berada di sebelah nya, memegang vibrator.
"Kamu yakin ini aman?" Tanya Ray memastikan, takut perbuatan mereka ketahuan.
Araya mengangguk, memposisikan diri di antara kedua kaki Ray. "Semuanya aman jika kamu tidak mengeluarkan suara terlalu keras yang bisa membangunkan seisi mansion"
Araya menarik handuk Ray tanpa ragu, tanpa sadar membuat Ray kembali memerah. "Buka kakimu yang lebar"
Ray melakukan nya tanpa penolakan, menunjukan area intim nya yang bersih karena baru selesai mandi.
Araya mengikat rambutnya keatas, membuka dua kancing kemeja paling atas agar lebih leluasa. Pemandangan Araya yang melakukan nya terlihat lebih seksi dimata Ray, miliknya tanpa sadar mulai berdiri tegak, membuat Araya tersenyum miring.
"Mulai sekarang panggil aku mistress."
Araya membasahi jarinya dengan lube, mengelus lubang Ray yang sudah berkedut. Lama kelamaan, elusan itu berubah menjadi dorongan kecil. Araya mendorong jarinya masuk, disusul dengan desahan tertahan dari Ray.
Ray menggigit bibirnya kuat saat jari Araya bergerak di bawah sana, pelan namun tepat. Sampai Araya memastikan lubang nya cukup longgar, ia mengeluarkan jarinya, bersiap mengganti dengan vibrator.
Perlahan Araya memasukkan benda bulat sedikit pipih itu ke dalam lubang Ray, Ray meremat kasurnya kasar.
"Ah!" Ray tak kuasa lagi menahan desahan nya saat vibrator sepenuh nya masuk.
"Hah.. a-AH" Pekikan Ray terdengar saat Araya mulai menekan tombol remot yang tersambung ke vibrator. Tak kuasa menahan gemetar merasakan sensasi yang pertama ia rasakan.
"Tunggu.. Huft... AHH~" Teriakan nya yang panjang terdengar lagi saat getaran nya dinaikkan hingga batas maksimal, kakinya bergetar.
"Ups, sorry." Kata Araya yang tak sengaja menekan tombol maksimal, tapi tak benar-benar minta maaf karena ia tak juga menurunkan getaran nya.
"S-sudah.. Ah~ Mistress.." Ray merengek, airmata ada di sudut matanya.
Araya menikmati pemandangan di hadapan nya, melihat Ray yang tak berdaya membuatnya selalu bersemangat.
Ray semakin menggelengkan kepalanya, sensasi getaran di bawah membuat kepalanya pusing. "Ah.. Miss..tress..." Dia menatap Araya dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Iya?"
"Rasanya.. aneh hah.. Ah~," Ray menggigit bibirnya, mengeluarkan rengekan lagi. "Sudah.."
"Then, say your safe word."
Tapi Ray menggeleng, tak mau kehilangan sensasi aneh yang sialnya lama-lama terasa enak bagi Ray. Mengulurkan kedua tangan nya pada Araya, Araya mendekat, memeluk Ray.
Tubuh Ray meremang saat kulitnya menyentuh kulit Araya, semakin mendesah. "Hnghh please.. I can't hmppp take it.. anymore," Rengeknya hampir menangis.
Tapi Araya tetaplah Araya, alih alih menurunkan getaran, ia justru mulai menyentuh kebanggaan Ray yang sudah berdiri tegak. Meremas nya hingga Ray semakin dibuat gemetar.
"Ah~ Aku.. Aku keluar-AGHH!" Ray menggeram, cengkraman nya pada Araya menguat bersamaan dengan keluarnya cairan putih dari miliknya.
"Hah.. Hah..." Ray mengontrol nafasnya, gemetar sambil menutup mata dipelukan Araya.
Araya mengambil tisu untuk membersihkan tangan dan perut Ray dari cairan putih itu, lalu menurunkan getaran nya, tapi tidak juga mematikan vibrator.
"Tidurlah," Araya membaringkan Ray, menyelimuti tubuh naked nya menggunakan selimut yang lumayan tebal.
Ray hanya bisa pasrah, memejamkan mata dan jatuh kedunia mimpi. Tak punya tenaga lagi untuk protes.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Boss or Crazy Secretary?
Romance18+ Desclaimer : Semua latar belakang tempat, penyakit, waktu, penamaan tokoh, maupun alur cerita hanyalah fiktif sekaligus imajinasi penulis semata. Jadi mohon maaf apabila ada yang melenceng dari kenyataan, semua nya murni hanya imajinasi. Ray, se...
