11

17.3K 421 1
                                        

Araya menghela nafas kasar, batin nya menyesali perbuatan yang dilakukan nya kemarin malam bersama sang bos.

Seharus nya Araya tidak kehilangan kendali tadi malam, jika sudah begini apa yang harus ia lakukan?

Araya meraih amplop yang berada diatas meja kerja nya, amplop itu berisi surat pengunduran diri nya.

Lebih baik aku yang mengundurkan diri lebih dulu, daripada aku yang dipecat, Pikir Araya.

Dengan langkah yang berat ia berjalan menuju ruang kerja Ray, dan mengetuk pintu nya.

Tok Tok Tok

"Masuk," Sahutan dari dalam membuat jantung Araya semakin berdegup kencang.

Ceklek

Araya membuka pintu, terlihat Ray yang masih fokus dengan berkas-berkas pekerjaan nya.

Araya berjalan mendekat ke arah Ray, lalu menyimpan amplop yang dibawa diatas meja kerja Ray.

Ray mengernyitkan dahi, namun tak ayal mengambil amplop itu dan membuka nya.

Dahi Ray semakin menukik ke bawah saat melihat isi amplop pemberian Araya.

"Araya..." Panggilan dengan penuh penekanan itu membuat Araya semakin menunduk.

"Iya pak," Jawab Araya ragu, dalam hati ia menangisi nasib uang pesangon nya.

Apakah Ray akan melepaskan Araya meskipun ia baru bekerja 5 bulan? Waktu yang kurang dari kontrak kerjanya. Semoga saja iya.

"Kamu berniat mengundurkan diri?"

"Iya pak,"

Brak

Suara gebrakan meja membuat Araya terkejut, refleks ia mendongak dan melihat bos nya yang sudah berdiri dengan wajah yang memerah menahan amarah.

"Kamu tidak bisa seenaknya pergi setelah apa yang kamu lakukan pada saya kemarin." Ujar Ray penuh penekanan.

"M-memang nya apa yang saya lakukan pada bapak?" Tanya Araya pura-pura.

Mendengar nya membuat amarah Ray semakin naik, ia melempar semua barang yang ada diatas meja nya.

"Kamu jangan berpura-pura tidak tahu Araya!" Desis Ray, ia berjalan menuju Araya dengan langkah penuh amarah.

"Kamu! Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan!" Ray mencengkram erat kedua bahu Araya.

Araya meringis, "Tanggung jawab apa yang bapak maksud? Soal kemarin malam? Anggap saja kita sama-sama khilaf."

Perkataan Araya membuat Amarah Ray semakin memuncak, pria itu berdesis kesal tapi tak lama kemudian menyeringai.

"Kamu pikir setelah ini kamu bisa lepas dari saya? Pergilah kemana pun yang kamu mau. tapi ingat, saya akan terus mencarimu sampai ke ujung dunia dan mengurungmu supaya kamu tidak bisa lagi pergi dari saya."









•••

Araya keluar dari ruang kerja Ray dengan ekspresi suram, ancaman dari Ray sukses membuat nya ngeri.

Araya tentu tahu apa maksud dari perkataan dan ancaman Ray. Pria itu sepertinya sudah terobsesi padanya, dan itu merupakan hal yang bahaya.

Karena jika Ray benar-benar terobsesi padanya, Araya yakin ia tidak akan bisa lepas dari cengkeraman pria itu.

Mau kabur pun tak ada guna nya, Ray bisa kapan saja menemukan dan bahkan mengurung nya.

Araya tahu betapa berkuasa nya seorang Raymond Divanes, dibanding dirinya yang hanya seorang karyawan biasa.

"Selamat pagi kak Araya," Sapaan bernada ceria itu membuat wajah Araya yang semula suram kembali menghangat.

Ah, memang melihat yang imut-imut saat stress sangat menenangkan hati.

"Pagi juga Lean," Balas Araya, membuat pemuda di depan nya tersenyum makin lebar.

"Oh iya Lean, soal janji yang kemarin. Gimana kalau kita makan malam bersama? Soalnya siang ini saya harus menemani Pak Ray meeting. Kamu mau?" Araya dan Lean berjalan berdampingan menuju ruang kerja masing-masing.

Langkah Lean terhenti sejenak, membuat Araya ikut menghentikan langkah nya.

"Lean?" Panggil Araya pada Lean yang berdiri kaku di belakang nya, ia panik karena tiba-tiba Lean berhenti melangkah dengan ekspresi wajah terkejut.

"Mau! Aku mau kak!" Tiba-tiba Lean berteriak, membuat Araya sedikit terkejut.

"Ah, maaf.. ekhem.. maksud nya kalo kakak ada waktu, aku mau kok." Ralat Lean, kemudian menutupi setengah wajah dengan sebuah berkas yang dipegang nya karena malu.

Araya tersenyum kecil dibuat nya, melupakan rasa kesal yang tadi sempat di rasakan.

Ah, ternyata pemuda di hadapan nya ini sangat menggemaskan ketika salah tingkah.

"Oke, nanti sore saya beritahu ya restoran nya." Araya mengelus rambut Lean pelan, lalu berjalan menuju kursi nya meninggalkan Lean yang semakin membenamkan wajah pada berkas.












TBC



Crazy Boss or Crazy Secretary?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang