Ray sudah sembuh sejak beberapa hari yang lalu, kini sudah bekerja seperti biasa. sejak saat itu pula, kedekatan keduanya semakin intim. Bahkan mereka selalu akur di depan karyawan lain, membuat para karyawan bertanya-tanya apa yang terjadi.
Sekarang sudah jam makan siang, seperti biasa ia menghampiri ruangan sang bos untuk pergi makan siang bersama. Sejak terakhir kali Ray menahan Araya agar tidak pergi makan siang dengan Lean, mereka berdua memang selalu makan siang bersama.
Araya membuka pintu ruangan Ray tanpa izin, karena memang itu suruhan dari Ray sendiri. Tapi kali ini isi ruangan itu berbeda. Ada seorang wanita yang nampaknya sedang berbincang serius dengan Ray.
Mereka berdua menoleh saat pintu terbuka, "Eh maaf, apa saya mengganggu?"
"Ada apa, Araya?" Alih alih menjawab, Ray justru melempar balik pertanyaan.
"Ini sudah jam makan siang pak." Ray melihat jam tangan, dan memang benar.
"Kamu makan siang duluan saja, masih ada hal yang saya perlu bicarakan saat ini."
"Baik pak," Araya sedikit terkejut mendengar jawaban Ray, karena biasanya Ray berusaha sebisa mungkin agar bisa makan dengan nya, bahkan jika harus menghentikan meeting penting sekalipun. Tapi Araya tak punya kewenangan, kembali menutup pintu sambil mencuri pandang ke arah wanita itu.
...
Araya memilih untuk makan di kantin perusahaan, bersama para karyawan yang lain. Disisi lain, Lean yang melihat ada Araya langsung tetlihat sumringah. Dia membawa makanannya lalu duduk di hadapan Araya.
"Kak Araya!" Lean memanggilnya dengan nada ceria, Araya menoleh dan tersenyum balik.
"Hai Lean, apa kabar?"
"Baik! Kakak akhir-akhir ini sibuk banget ya? aku baru liat kakak makan disini lagi hari ini."
"Kamu gak tau toh lean? Pak Ray itu loh, suka maksa mbak Araya ini makan siang bareng. Jadinya mbak Araya ini ndak bisa istirahat." Salah satu karyawan mengikuti pembicaraan antara Lean dan Araya.
"Pantes Pak Ray keliatan baik banget belakangan ini, ternyata ada udang dibalik batu ya." Karyawan lain menimpali, tampak menikmati gosip ini.
Sementara Araya sendiri hanya mendengarkan, padahal selama ini ia menghindari Lean bukan karena paksaan Ray, tapi karena kesibukan dan kesadarannya sendiri semenjak Araya mendengarkan perkataan Ray yang mengigau kala itu.
Saat pembicaraan terus berlanjut, Araya menyimpan sendoknya, izin pada yang lain untuk pergi. Saat yang lain hanya mengangguk, Lean menahan tangannya.
"Kak, boleh kita bicara?" Araya menatap tangannya yang ditahan Lean, secara halus melepasnya.
"Maaf Lean, tapi aku sedang banyak kesibukan sekarang."
Lean langsung lesu, tapi mengangguk. "Maaf ya, lain kali kita bicara lagi, Okay?" Mendengar itu membuat semangat Lean bangkit, dia tersenyum cerah.
"Okaaaay! Aku akan menghubungi kak Araya." Araya mengangguk, lalu pergi.
...
Araya kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Ray belum juga beranjak dari ruangannya. Araya tak ambil pusing, masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan sekarang.
Hingga tak terasa, waktu berlalu begitu cepat sampai sudah jam pulang kerja. Araya meregangkan tubuhnya yang pegal karena terus-terusan menghadap komputer.
Ting
Suara notifikasi muncul, Araya mengecek ponselnya. Mendapat pesan dari Ray yang menyuruhnya pulang duluan sendiri karena ada hal yang perlu ia selesaikan katanya.
Araya membalas pesan Ray sebelum membereskan barangnya, sejak mereka berdua dekat Ray memang sudah biasa mengantar Araya pulang ke apartement juga.
Karena bahan makanan dan cemilan di apartementnya sudah habis, Araya berniat untuk belanja ke supermarket lebih dulu.
Setelah memilih beberapa bahan makanan, akhirnya Araya pergi ke kasir dan mengantri di belakang. Tapi kerusuhan di meja kasir membuatnya penasaran, Araya mendekat dan mendengar beberapa orang yang mengomel.
"Ck, gimana sih mas? Saya udah nunggu lama loh." Salah satu wanita mengomel, disusul suara yang lain. Membuat suasana lebih ricuh.
"Maaf, dompet saya sepertinya ketinggalan di kantor dan kebetulan hp saya lowbat."
"Kalo gak bisa bayar minggir, ngabisin waktu aja!"
Kasir mencoba menenangkan situasi itu, ditambah pria itu terus membungkukkan badannya meminta maaf.
"Saya minta maaf, tolong cancel saja belanjaan saya mbak."
Saat pria itu meluruskan badan nya, Araya baru sadar ternyata itu Lean.
"Biar saya saja mbak yang bayar belanjaan nya" Suara Araya membuat keributan di sekitar kasir berhenti.
"Permisi," Araya melewati beberapa orang untuk sampai ke depan kasir.
"Kak Araya..?" Araya melempar senyum pada Lean sebelum beralih pada kasir.
"Total belanjaan nya berapa mbak?" Tanya Araya, menyerahkan kartunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Boss or Crazy Secretary?
Romance18+ Desclaimer : Semua latar belakang tempat, penyakit, waktu, penamaan tokoh, maupun alur cerita hanyalah fiktif sekaligus imajinasi penulis semata. Jadi mohon maaf apabila ada yang melenceng dari kenyataan, semua nya murni hanya imajinasi. Ray, se...
