Araya tak pernah menyangka jika mengurus Ray yang sedang sakit ternyata sepuluh kali lebih merepotkan dari pada merawat bos yang menyebalkan.
Ray tak mau ditinggalkan barang seinci pun, merengek bahkan jika Araya menggerakkan tangan nya yang dipeluk Ray. Tapi permintaan nya banyak sekali, ingin dieluslah, dipijitlah, ditepuk-tepuklah. Dan Araya harus terus melakukan nya setiap detik, jika tidak rengekanlah yang jadi jawaban.
Dibanding sekertaris, Araya justru merasa dia adalah baby sitter sekarang.
Contoh nya saat ini, Ray merengek saat Araya izin pergi ke toilet. Menolak keras, sambil memeluk lengan nya kuat. Araya sudah membujuk berkali-kali tapi Ray bersikeras menolak. Hingga Araya tak kuat lagi menahan, ia melepas paksa pelukan Ray dan pergi ke toilet, tak memedulikan teriakan Ray yang memanggil namanya.
Tak sampai 5 menit, Araya sudah selesai. Disuguhi punggung yang membelakangi nya, punggung itu bergetar pelan, pertanda si empunya tengah menangis.
"Ray?" Ray tak menjawab, bahkan menoleh pun tidak. Sepertinya merajuk.
Araya duduk disamping nya, menyentuh lengan nya, tapi justru ditepis. Ray semakin menaikkan selimutnya keatas.
"Aku hanya pergi sebentar, hanya ke kamar mandi. Gak kemana-mana." Araya terus membujuk Ray, tapi bayi besar itu tetap merajuk, membelakangi Araya.
Sampai ketukan pintu terdengar, Araya bangkit untuk membuka pintu. Ternyata seorang pelayan, membawa nampan berisi makanan. Ah, benar juga. Ini sudah jam makan siang, batin Araya. Suasana yang sepi di mansion membuat Araya tak menyadarinya.
"Nyonya Natalie meminta saya membawa bubur untuk tuan muda, Nona." Ujar pelayan itu sopan, Natalie tak bisa mengantar langsung karena agenda piknik keluarga itu masih berjalan. Itulah kenapa mansion terasa sepi.
Araya mengambil nampan dari maid itu, mengucapkan terimakasih sebelum menutup pintu. Menaruh nampan di atas nakas, Araya kembali membujuk Ray.
"Ray? Bangun yuk, kamu harus makan." Araya menepuk tangan Ray lembut
"ngan sentuhm.." gumaman Ray tak terdengar jelas di telinga Araya.
"Apa?"
"Jangan sentuh!" Ray menepis tangan Araya kasar sambil mendongak untuk menatap tajam Araya, wajahnya yang memerah dan sembab karena airmata membuat tatapan tajam nya berbeda dari biasanya. Hanya ada wajah yang memprihatinkan sekarang.
"Jangan sentuh aku kalau kamu lebih memilih orang itu daripada aku!" Lagi lagi Ray mengomel, tapi dengan bibir yang melengkung ke bawah.
"Huh?" Araya mengernyit, jadi Ray semakin merajuk karena Araya menghampiri maid itu alih alih membujuknya.
"Pergi!" Ray menyentak Araya sekali lagi, membelakanginya.
Araya tak mau ambil pusing, hanya menurut dan perlahan turun dari atas kasur, berjalan menuju pintu, hendak keluar. Tapi baru satu kali melangkah, Araya dikejutkan lagi dengan tangisan Ray.
Kali ini lebih menggelegar, dia memukul guling yang tadi dipeluknya. "Kenapa pergi?! hiks.. kamu janji, gak akan pergi"
Araya menghela napas, "Tadi kamu yang menyuruhku pergi."
Dia menggeleng, "Ha.. hiks harusnya kamu bujuk aku lebih keras.." Isaknya, wajahnya kembali memerah.
"Tadi aku bujuk gak mau, lalu kamu mau apa?" Tanya Araya jengah.
Ray terisak-isak, mengulurkan tangan nya. "Peluk.. hiks.."
"Peluk?"
"Kamu yang membuatku seperti ini hiks, kamu harus tanggung jawab!"
Araya tak bisa menolak kali ini, menghampiri Ray dan memeluk tubuhnya yang kembali panas.
...
"Demamnya sudah turun?" Natalie berdiri di samping kasur, menatap Ray yang sedang tertidur khawatir. Mereka baru pulang piknik beberapa menit yang lalu, begitu sampai di rumah, Natalie langsung pergi mengecek Ray.
Araya mengangguk, melihat termometer di tangan nya, sudah turun banyak sejak terakhir kali di cek.
"Syukurlah." Raut khawatir di wajah Natalie hilang, digantikan dengan perasaan lega.
"Ray merepotkan kamu sekali ya hari ini?"
Araya mendongak, melihat wajah cantik Natalie meskipun sudah menua. Lalu menggeleng pelan, "Nggak kok, Mi." Bohongnya. Padahal Araya kesusahan setengah mati hari ini, baru bisa tenang dan istirahat sejak Ray tertidur setengah jam yang lalu.
"Maaf ya, Ray biasanya gak seperti ini jika sakit. Dia cenderung memendam semua sakitnya sendiri, Ray bahkan pernah sakit parah tapi memendam nya hingga tau-tau dia harus dirawat di rumah sakit hingga 3 bulan lamanya." Natalie terus bercerita tanpa Araya minta.
"Tapi syukurlah sekarang ada kamu, Mami senang setidaknya dia gak lagi harus memendam rasa sakitnya." Araya menatap tangan nya yang terus digenggam Ray, perasaan nya campur aduk.
"Mami minta tolong untuk terus menjaga Ray, ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Boss or Crazy Secretary?
Romance18+ Desclaimer : Semua latar belakang tempat, penyakit, waktu, penamaan tokoh, maupun alur cerita hanyalah fiktif sekaligus imajinasi penulis semata. Jadi mohon maaf apabila ada yang melenceng dari kenyataan, semua nya murni hanya imajinasi. Ray, se...
