"Araya..." Suara bariton menghentikan langkah kedua nya
Araya menoleh, terlihat Ray yang bernafas terengah-engah seperti habis berlari.
"Pak Ray?"
Ray tak menjawab panggilan Araya, ia mendekati mereka berdua dan mencoba memisahkan Lean dan Araya.
"Tunggu bapak, Lean bisa jatuh." Araya panik saat Ray tiba-tiba menarik Lean yang di pelukan nya agar menjauh, membuat Lean yang kehilangan kesadaran nya hampir terjatuh.
Tapi Ray tidak peduli, ia menarik tubuh Lean dan melemparkan nya asal.
Bruk
Lean terlempar ke arah lantai, membuat Araya dengan panik segera menghampiri Lean dan hendak membantu nya bangkit.
Tapi Ray menghentikan pergerakan nya, dia menggenggam tangan Araya yang terulur.
"Jangan coba-coba membantu nya Araya, kamu itu milik saya. Dan saya tidak mengizinkan milik saya berdekatan dengan orang lain."
Araya menepis tangan Ray kesal, "Saya bukan milik bapak, jadi sekalipun jangan pernah mengatur saya harus melakukan apa."
Araya lalu membantu Lean berdiri dan membiarkan tubuh Lean bersandar pada nya.
Mereka berdua lalu berjalan tanpa mempedulikan Ray yang ada disana.
Ray menggeram, dengan geram ia menarik kerah belakang baju Lean lalu memukul wajah Lean hingga terjatuh kembali ke lantai.
Orang-orang yang berada di sekitar mereka memekik terkejut, tak jauh beda dengan Araya yang terkejut melihat tingkah bos nya yang berani.
Tak cukup sampai disana, Ray kembali menghujam wajah Lean dengan tinju nya.
Orang-orang berusaha memisahkan mereka berdua, Araya juga tak tinggal diam.
Ia menggapai tubuh Lean untuk melindungi nya dari Ray.
Tapi Ray justru semakin menggila melihat nya, ia semakin brutal menghajar siapapun yang menghalangi nya.
Sampai akhirnya Araya beralih pada Ray, dan memeluk tubuh Ray paksa agar pergerakan pria itu terkunci.
Hebatnya, Ray langsung tenang begitu di dekap Araya.
Ray malah beralih memeluk pinggang Araya erat, nafas nya memburu.
•••
Araya, Ray, dan Lean sedang berada di apartement milik Araya.
Selepas perkelahian di club malam tadi, Araya menarik mereka berdua yang sudah babak belur.
Selain Lean yang terluka, Ray juga mendapat luka saat berkelahi tadi. Itu karena Ray yang juga mendapat bogeman dari orang yang ia hajar karena menghalangi nya.
Awalnya, Araya akan membawa mereka berdua ke rumah sakit atau klinik terdekat.
Tapi baik Ray maupun Lean sama sama menolak dengan keras, Lean bahkan menangis histeris begitu mendengar kata Rumah sakit.
Jadinya, ia membawa Ray dan Lean ke apartemen nya untuk diobati.
"Eungghh.. hiks hiks.. sakit..." Rengekan itu terus saja terdengar dari mulut Lean.
"Sabar ya... Sedikit lagi kok," Araya memberi kata-kata penenang pada Lean yang kini sedang diobati.
Ray yang melihat interaksi mereka berdua hanya bisa berdecih, "Cih, dasar lembek. Segitu saja sudah menangis sesenggukan," Cibir Ray kesal melihat kedekatan kedua nya.
Pasal nya, posisi Araya yang mengobati Lean sangat intim.
Lean terbaring di ranjang, sementara kepala nya ia tidurkan di pangkuan Araya yang duduk diatas ranjang.
Lean tak menjawab cibiran Ray, ia terlalu fokus pada rasa pusing yang menghinggapi kepala nya.
Lean masih mabuk berat, ditambah luka di wajah nya yang terasa sakit membuat Lean menangis tanpa henti.
Sementara Araya menatap tajam ke arah Ray, seolah memperingati Ray untuk menutup mulut.
"Cih," Ray mendecih, lalu berjalan keluar kamar Araya dan membanting pintunya kencang.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy Boss or Crazy Secretary?
Romance18+ Desclaimer : Semua latar belakang tempat, penyakit, waktu, penamaan tokoh, maupun alur cerita hanyalah fiktif sekaligus imajinasi penulis semata. Jadi mohon maaf apabila ada yang melenceng dari kenyataan, semua nya murni hanya imajinasi. Ray, se...
