18

4.7K 162 0
                                        

Ray terbangun saat matahari menyinari wajahnya, dia terduduk di atas kasur, merasa sedikit tak nyaman karena vibrator masih bergetar meskipun dalam frekuensi paling rendah.

"Sudah bangun?" Suara Araya terdengar, membuat Ray mengalihkan pandangan, melihat Araya yang baru selesai mandi dan berpakaian.

"Ah, ini aku meminjam nya dari Mami." Ujar Araya saat Ray menatap lekat bajunya, yang hanya dibalas anggukan.

"Mandilah dulu." Titah Araya, Ray bangkit dan berjalan sedikit mengangkang, membuat Araya terkekeh melihatnya.

"Ah, dan jangan lepaskan vibrator itu sampai aku menyuruhmu" Ray yang berada di ambang pintu kamar mandi menoleh, hendak melayangkan protes yang dipotong oleh Araya.

"Ingat perjanjian kita." Akhirnya dia menghela napas, pasrah.







...

Begitu Ray selesai mandi, dia tak menemukan Araya di kamar. Tapi menemukan nya sedang di dapur, membantu Mami menyiapkan sarapan.

"Nah yang ditunggu akhirnya keluar." Ujar Roselyn, yang dibalas tatapan bingung Ray.

Ray berjalan dengan normal sebisa mungkin, duduk di salah satu kursi.

"Ada apa?"

"Kita akan pergi berpiknik ke taman, Araya bilang dia akan ikut jika kamu ikut. Kamu ikut 'kan?" Tanya Roselyn, Ray menatap Araya sebelum menjawab, melihat senyum kecil yang tersungging di bibir Araya, membuat Ray tahu rencana licik sekertaris nya itu.






...

Berbagai macam hidangan sudah disajikan di atas meja, semuanya menikmati sarapan dengan nikmat, terkecuali satu orang. Ray, hanya fokus menahan desahan karena getaran vibrator yang terus Araya naikkan, hanya mengaduk-aduk makanan di piring nya.

"Ray, ada apa? Makanan nya nggak enak?" Mami Natalie bertanya saat melihat makanan di piring Ray belum berkurang sedikit pun.

"Hah?" Ray mendongak tak fokus, "Ugh-" Tangan Ray yang memegang sendok terjatuh saat Araya menaikkan getaran nya ke maksimal secara tiba-tiba.

"Ray, kamu sakit? Mukamu merah." Raut wajah Mami Natalie berubah menjadi khawatir saat melihat wajah Ray memerah dan tangan nya yang semakin tremor.

Nafas Ray memburu, ia mengangguk. "Kepalaku agak pusing, mi" Akhirnya Ray menemukan alasan untuk kabur dari situasi ini.

Araya menyimpan sendok nya, "Biar aku bawa Ray ke kamar, sepertinya dia butuh istirahat."

Mami Natalie mengangguk, "Iya, sarapan nya biar nanti mami suruh maid antarkan."

Araya memapah Ray untuk berdiri, meninggalkan ruang makan menuju kamar.

Begitu sampai kamar, Araya ditarik oleh Ray, Ray menciumnya kasar, seolah menahan gairahnya selama ini.

Ray terus mencium bibir Araya kasar, hingga ditengah ciuman, Ray mendesah keras dan tubuhnya limbung ke arah Araya. Kakinya gemetar tak kuat menahan bobot tubuhnya sendiri, bagian depan celananya basah. Untungnya Araya dengan sigap menangkap tubuh Ray.






...

Araya mengompres dahi Ray dengan handuk dingin, Ray tak sepenuhnya berbohong saat bilang kepalanya pusing. Suhu tubuhnya naik, Ray jatuh demam. Membuat Araya sedikitnya merasa bersalah.

"ya... Araya.." Ray mengigau, matanya terbuka sedikit.

"Iya, aku disini."

"Jangan pergi.." Ray meraih tangan Araya yang memegang handuk di dahinya, meremasnya lembut.

"Aku tidak pergi."

"Jangan pergi dengan Lean.." Suaranya parau, masih mengigau sepertinya.

Araya terdiam, membiarkan Ray menggenggam tangannya. Bisa-bisanya ia masih kepikiran soal Lean tempo hari.

"ya.. jangan pergi..." tak mendengar jawaban dari Araya membuatnya gundah, dahinya mengernyit.

"Iya iya, tidak pergi dengan Lean." Baru setelah itu, Ray kembali tenang. Tertidur sambil mendusel di lengan Araya.









Crazy Boss or Crazy Secretary?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang