"Selamat pagi, Haevan?"
Haevan yang sedang melamun sembari menatap jendela pun langsung menoleh, dan mendapati Johnny dengan baju dokternya tengah tersenyum lebar.
"Selamat pagi juga, Pak Dokter." Balasnya dengan senyuman manisnya.
Johnny mengusap pelan rambut halus milik Haevan. Senyum tulus Haevan memang selalu candu hingga membuat siapapun yang melihatnya tak sudi tuk beralih pandang.
"Haev baru tau beberapa hari yang lalu dari Chandra kalau Om John tuh dokter."
"Pantesan selalu obatin luka Haevan walaupun lukanya kecil."
Entahlah, Johnny rasa ia sudah lupa cara untuk berhenti tersenyum. "Om akan selalu jadi dokternya Haevan, bahkan Om bisa nyembuhin luka di hati kamu."
"Om Jo gombalin aku ya?"
Johnny terkekeh, "Om akan selalu punya obat untuk luka kamu. Sekarang makan dulu ya?"
Haevan menggeleng, "Mau mandi dulu."
"Ayo, Om bantu."
"Malu lah Om, aku kan udah besar."
"Kamu masih bayi."
"Aku bisa sendiri. Om tau ngga? Terakhir aku dibantu mandinya tuh waktu kaki aku patah, di bantunya sama Om Dobby. Pelan-pelan sampe mandinya lamaaa banget." Chandra mulai mendudukkan dirinya sontak langsung di bantu Johnny.
"Tapi aku belum pernah di mandiin Papa. Dulu waktu kita masih kecil, Bang Mark, Bang Jean, sama Nathan lari-larian sambil telanjang karena ngga mau di mandiin sama Oma. Tapi kalau Papa udah pulang mereka semangat banget mandinya, aku jadi pengen tau, rasanya di mandiin Papa gimana ya? Seseru itu kah?"
"Haev, sekarang mandinya sama Om ya?" Johnny beralih mengusap lembut kedua tangan Haevan.
"Cuman mandi doang Om, astaga. Haev bisa sendiri." Haevan terkekeh, tangannya terangkat menunjuk perban di kepalanya. "Aku udah sembuh, ini boleh di lepas ya?"
Johnny hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Terus Haev keramasnya gimana? Pokoknya mau di lepas. Ngga nyaman tau."
Johnny hanya diam, untungnya luka Haevan tidak dalam, perlahan tangannya bergerak dengan hati-hati, melepas perban itu pelan yang langsung di hadiahi senyuman lebar khas Haevan.
"Nahh gini kan enak. Haevan juga pengen pulang, bosen di sini terus." Johnny di buat kesal dengan ungkapan Haevan tersebut. "Ngelunjak ya kamu?" Pemuda di depannya hanya terkekeh.
"Aku kangen Papa, kangen Nathan, Bang Jean sama Bang Mark. Boleh ya, Om?"
Belum sempat pria berjas putih itu menjawab, seseorang dengan tiba-tiba masuk ke ruangan ini tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, mengundang keterkejutan dan tatapan kekesalan.
"Haev, gimana keaadaan kamu? Apa yang sakit? Bilang ke Om.."
Melihat siapa yang datang membuat suasana hati Haevan membaik di pagi hari kali ini, selain karena sudah dilanda rindu ia juga merasa senang ada yang datang menjanguknya sebab sebelum-sebelumnya hanya ada perawat yang rutin datang setiap pagi dan selalu memintanya untuk minum obat.
"Hai Om Dobby.." Hangatnya sinar matahari akan kalah dengan hangatnya sapaan Haevan.
Dobby yang baru saja mendapat kabar jika Haevan masuk Rumah Sakit tak kunjung bisa meredakan rasa khawatirnya.
"Haev, kenapa bisa kaya gini?"
"Enggapapa kok Om, Haev udah sembuh. Nanti udah boleh pulang kok, iya kan Pak Dokter?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Dark Sun (hiatus)
FanfictionSemesta, kehadirannya memang tak diharapkan, namun ia ada, mengapa tak dianggap? Adalah suatu kalimat yang sering terlintas di otaknya. Dunia, ia juga tak mengharapkan hadir, namun tuhan berkehendak, lalu untuk apa ia menyerah? Adalah suatu kalima...
